Sebuah keluarga, termasuk enam anak, terbunuh di Jalur Gaza tengah dalam gelombang serangan mematikan terbaru oleh Israel di wilayah Palestina yang terkepung.
“Setidaknya 25 warga Palestina terbunuh dalam 24 jam terakhir,” kata Kementerian Kesehatan Gaza pada Ahad (18/8).
“Orangtua dan keenam anak mereka terbunuh di Deir el-Balah di bagian tengah,” terang Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Kakek anak-anak itu mengatakan ibu mereka bekerja untuk PBB.
“Putri saya, bersama suami dan enam anaknya, sedang tidur di rumah mereka di Deir al-Balah. Tiba-tiba sebuah rudal Israel mendarat di atas kepala mereka. Seluruh rumah hancur. Mereka semua terbunuh,” kata Mohammed Awad Khattab kepada Al Jazeera.
“Putri saya telah berjuang selama bertahun-tahun untuk memiliki anak. Ia mendapatkan anak-anaknya melalui IVF (In Verto Fertilization). Kesalahan apa yang dilakukan anak-anak tak berdosa itu? Apakah mereka mengancam Israel? Apakah mereka membawa senjata?” tanyanya pedih.
Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera melaporkan dari Deir el-Balah, “Empat anaknya adalah saudara kembar dan mereka telah dibariskan bersama untuk dimakamkan di pemakaman di kota ini.
“Kami telah melihat pemandangan yang sangat memilukan pagi ini dengan puluhan jenazah berjejer di kamar mayat di luar Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Telah terjadi peningkatan yang luar biasa dalam serangan Israel di Deir el-Balah, tempat warga Palestina diperintahkan untuk mencari perlindungan,” Abu Azzoum menambahkan.
Selain itu, pada Ahad (18/8), sebuah pesawat Israel mengebom dua gedung apartemen di Kamp Pengungsi Jabalia, membunuh sedikitnya empat warga Palestina, kantor berita Wafa melaporkan.
Pada Sabtu (17/8) malam, sebuah serangan di dekat kota selatan Khan Younis membunuh empat orang dari keluarga yang sama, termasuk dua wanita, menurut keterangan dari Rumah Sakit Nasser. Di Kamp Pengungsi Nuseirat di pusat Jalur Gaza, tujuh orang terbunuh, termasuk tiga anak-anak, menurut Al Jazeera Arabic.
Sementara itu, Hussam Abu Safia, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Beit Lahiya di Gaza utara, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa fasilitas medis tersebut harus berhenti bekerja dalam 24 jam ke depan karena kekurangan bahan bakar dan pasokan medis.
Sementara perang terus berkecamuk, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken menuju ke wilayah tersebut pada hari Ahad untuk upaya lain dalam mencapai kesepakatan gencatan senjata. Di ibu kota Qatar, Doha, tempat para mediator dari Qatar, Mesir, dan AS mencoba mencapai kesepakatan mengenai Gaza, pembicaraan gencatan senjata dihentikan sementara pada Jumat, tetapi diperkirakan akan dilanjutkan pada pekan depan dengan harapan dapat mencapai kesepakatan di Kairo.
Sumber: https://www.aljazeera.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








