Rasulullah ﷺ menjadi Rasul yang paling mulia karena kepada beliaulah Al-Qur’an diturunkan. Bulan Ramadan pun dimuliakan Allah dengan segala keindahannya karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan. Lailatulqadar menjadi malam yang paling ditunggu, paling dicari, dan paling diburu, sebab pada malam itulah Allah menganugerahkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya. Segalanya menjadi mulia karena Al-Qur’an. Begitu pula manusia; siapa saja yang menjadikan Al-Qur’an hadir dalam genggaman hidupnya, di hatinya, lisannya, pelukannya, dan amal perbuatannya, maka ia pun dimuliakan oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qadr ayat 1:
إِنَّاۤ أَنزَلۡنَـٰهُ فِی لَیۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ﴾ [القدر ١]﴿
“Sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran pada malam lailatul Qadar”.
Allah menyebut malam turunnya Al-Qur`an secara sekaligus dari Lauh Mahfudzh ke langit dunia sebagai Lailatulqadar yang maknanya adalah malam kemuliaan–malam yang menjadi mulia karena pada saat itulah Al-Quran diturunkan. Kemuliaan malam tersebut terbentang sejak tergelincirnya matahari hingga terbit fajar. Malam yang apabila diisi dengan ibadah di dalamnya, maka ibadah itu lebih baik daripada ibadah selama 1000 bulan. Malam itu adalah momen yang penuh dengan keselamatan, kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan, sebagaimana yang Allah janjikan dalam firman-Nya,
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْر
Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar. (Q.S: Al-Qadar: 5)
Malam terbaik itu, ternyata hanya Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda,
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan hanya sedikit dari mereka yang melewati usia tersebut.” (HR. Tirmidzi)
Namun, pada malam diturunkannya Al-Qur`an ini, Allah jadikan amal salih yang ditunaikan pada waktu tersebut menjadi amal yang lebih baik dari 1000 bulan atau 83 tahun lebih 4 bulan, melampaui rata-rata umur manusia. Inilah hadiah terindah yang Allah berikan hanya pada Ramadan dan hanya bagi umat Rasulullah ﷺ. Tentu untuk meraihnya perlu cara agar Allah rida menjadikan kita sebagai salah satu dari hamba-hamba-Nya yang bersimpuh larut dalam ibadah-ibadah.
Kapan Datangnya Lailatul Qadar?
Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِن رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari).
Ini adalah informasi dari Rasulullah ﷺ yang paling spesifik membicarakan waktu datangnya lailatulqadar, yaitu pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Meraih kemulian ini tentu tidak bisa dengan tiba-tiba. Misalnya, ibadah baru dilakukan secara dawam pada 10 hari terakhir Ramadan saja, atau bahkan hanya sungguh-sungguh beribadah pada malam-malam ganjilnya. Bagaimana itu semua akan berkesan di hadapan Allah?
Kita memang tidak pernah tahu, pada malam keberapa lailatulqadar akan hadir. Tidak ada penanda yang pasti, tidak ada tanggal yang tepat dan akurat. Namun. itulah yang Allah inginkan; agar kita memenuhi malam-malam Ramadan dengan ibadah, menenggelamkan diri dalam doa, zikir, dan munajat. Kita menghidupkan setiap malam dengan harapan semoga diantara malam-malam yang kita jaga itu, Allah memperkenankan kita bertemu dengan lailatulqadar.
Dengan demikian, janganlah kita melewatkan kesempatan yang tak selalu hadir ini. Kesempatan yang hanya Allah hadirkan setahun sekali. Sejak saat ini kita sudah bisa berharap. Sejak sekarang pula, kita bisa merayu Allah, memohon izin-Nya agar dipertemukan dengan malam kemuliaan itu. Kita bisa mulai melatih hati untuk fokus, membiasakan diri berlama-lama dalam ibadah, menenangkan jiwa di hadapan-Nya.
Amalan Wanita Haid Saat Lailatul Qadar

Begitu berharganya lailatulqadar hingga timbul rasa resah dan gelisah di dalam hati para wanita, “Bagaimana kalau saya haid pada 10 malam terakhir?”
Rasa sedih itu mari kita terima, karena sedih dan kecewa adalah perasaan yang sangat manusiawi, kemudian segera kita obati dengan pemahaman ilmu. Mari bersama kita resapi kisah kehidupan para sahabiyah di zaman Rasulullah ﷺ.
Nabi Muhammad ﷺ selalu memperhatikan wanita dengan nasihat dan pengajaran, sebagaimana beliau memperhatikan para lelaki. Beliau sering mengingatkan para sahabiyah radhiyallahu ‘anhunna, akan kekurangan dan kelemahan mereka, serta bagaimana mengatasinya.
Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa pada suatu hari raya, setelah menuntaskan khutbah, Nabi ﷺ mendatangi kelompok sahabiyah dan memberi mereka nasihat sebagaimana diriwayatkan dalam shahihain dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Beliau memerintahkan mereka untuk mengeluarkan sedekah dari harta mereka, dan juga memerintahkan mereka banyak memohon ampunan kepada Allah (istighfar).
Rasulullah ﷺ bersabda,
يا مَعْشَرَ النِّساءِ، تَصَدَّقْنَ وأَكْثِرْنَ الاسْتِغْفارَ، فإنِّي رَأَيْتُكُنَّ أكْثَرَ أهْلِ النَّارِ فَقالتِ امْرَأَةٌ منهنَّ جَزْلَةٌ: وما لنا يا رَسولَ اللهِ، أكْثَرُ أهْلِ النَّارِ؟ قالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وتَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وما رَأَيْتُ مِن ناقِصاتِ عَقْلٍ ودِينٍ أغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ قالَتْ: يا رَسولَ اللهِ، وما نُقْصانُ العَقْلِ والدِّينِ؟ قالَ: أمَّا نُقْصانُ العَقْلِ: فَشَهادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهادَةَ رَجُلٍ فَهذا نُقْصانُ العَقْلِ، وتَمْكُثُ اللَّيالِيَ ما تُصَلِّي، وتُفْطِرُ في رَمَضانَ فَهذا نُقْصانُ الدِّينِ.
“Hai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian paling banyak dari penghuni neraka.” Seorang wanita cerdas bertanya: “Mengapa kami, wahai Rasulullah, paling banyak dari penghuni neraka?” Beliau ﷺ menjawab: “Kalian banyak melontarkan laknat, dan mengingkari kebaikan suami kalian. Sungguh, aku tidak melihat ada orang yang lebih ‘kurang akal dan agama’ daripada kalian.” Wanita itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apa maksud kurang akal dan agama?” Beliau ﷺ menjelaskan: Kurang akal: kesaksian dua wanita setara dengan satu pria, itulah kekurangan akal. Kurang agama: mereka meninggalkan salat pada beberapa malam dan berhari-hari karena haid, serta meninggalkan puasa di bulan Ramadan karena haid. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadits ini kita belajar bahwa amalan-amalan yang mesti digenggam kuat sampai wafat nanti di antaranya adalah memperbanyak sedekah dan istighfar agar terhindar dari siksa neraka, serta menaati suami dan mensyukurinya. Ini semua adalah amalan yang bisa senantiasa dilakukan meski seorang wanita sedang haid. Begitu pula dengan memperbanyak zikir, bermunajat, memberi makan orang yang berbuka, berbakti kepada orang tua, melayani suami dan mendidik anak, menuntut ilmu dan mengulang hafalan Al-Qur’an, serta menuntaskan amanah dalam pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
Amal-amal salih ini insya Allah dapat mempertemukan seorang wanita haid dengan malam lailatulqadar dan Allah ridai amalnya sebagai amal yang lebih baik daripada ibadah selama 1000 bulan.
Jangan kita sibukkan diri kita dengan menimbang-nimbang hasil atau capaian diri kita, karena pahala itu mutlak menjadi urusan Allah. Sibukkanlah diri dalam ibadah-ibadah, memenuhi pundi-pundi amal, serta meluaskan manfaat diri untuk keluarga dan masyarakat.
Allahu a’lam bishshawab.
Isma Muhsonah, S. Ag., M. Pd
Dosen STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta
Pengajar di Syifaur Rahman Islamic Club Bogo








