fbpx

Pertemuan Kedua Serial Kajian Adara: Konsolidasi Mesir dan Suriah

Antusiasme peserta kajian dalam pertemuan kedua juga tak kalah banyaknya. Mengangkat tema “Konsolidasi Mesir dan Suriah”, Agung Waspodo mengupas kisah Salahuddin sejak awal kelahirannya. Nama kecil Salahuddin adalah Yusuf bin Ayub. Lahir di Tikrit daerah Kurdi pada 532 H/1138 M. Ia dan keluarganya lalu pindah ke Mosul, kemudian mengabdi di bawah pemerintahan Imaduddin Zanki. Pada 549 H/1154 M, Ayub (ayah Salahuddin) dan Asaduddin Syirkuh (paman Salahuddin) bertugas ke Damaskus. Di sanalah Salahuddin memperdalam ilmu administrasi.

Paman Salahuddin diperintah Nuruddin Zanki (Sultan) pergi ke Mesir (559 H/1164 M) untuk merebut Mesir dari Daulah Syiah Fathimiyah. Salahuddin dipaksa untuk menemani, sebab pamannya melihat ada potensi militer pada diri ponakannya itu. Meskipun Salahuddin sendiri sebenarnya masih ingin memperdalam ilmu administrasi. Namun dalam melakukan suatu kebaikan, terkadang kita perlu dipaksa terlebih dulu. Ternyata benar, Allah subhanahu wa ta’alla memiliki rencana besar yang bermula dari sini.

Kekhawatiran Sultan akan jatuhnya Mesir ke tangan kaum kafir akan berakibat pada jatuhnya daerah di sekitarnya. Inilah yang menjadi alasan ia memberangkatkan bala tentara guna menjaga stabilitas Mesir.

Pada 562H/1167, Salahuddin berhasil mempertahankan Iskandariyah dari serangan gabungan Syiah dan Pasukan Salib. Dua tahun kemudian Syirkuh wafat dan pasukannya diserahkan kepada Salahuddin.

Salahuddin dibesarkan dari keluarga pejuang. Ini menjadi pesan untuk kita kaum mukmin bahwa ketika kita berjuang di jalan Allah subhanahu wa ta’alla, kita harus dapat mewariskan perjuangan tersebut kepada generasi selanjutnya. Meskipun tidak dipungkiri bahwa membentuk pribadi Salahuddin bukanlah perkara mudah. Maka mulailah dari diri masing-masing.

Pada 567 H/1171 M, Salahuddin diangkat menjadi Gubernur Mesir saat berusia 36 tahun. Ia pun langsung berkoordinasi dengan Sultan. Tercatat dalam sejarah bahawa Pasukan Salahuddin berhasil menguasai pemberontakan di Nubia pada 569-571H/1173-1175 M.

Nuruddin Zanki wafat pada 570 H/1175 Mm meninggalkan pewaris tahta berusia 10 tahun bernama Ismail. Saat itu, Salahudding dalam kondisi yang dilematis. Bila masalah di Mesir tidak segera diatasi, maka hal ini akan berpengaruh pada wilayah Syam.

Ia teringat pesan ayahanda, ketika takdir membuka peluang untuk melakukan suatu kebaikan, ambillah walaupun terasa berat. Jangan ragu-ragu.

Salahuddin segera berangkat ke Damaskus untuk melakukan konsolidasi dan bertemu dengan banyak orang menginginkan posisi sultan. Sebelum berangkat, ia berkonsultasi terlebih dulu dengan para ulama, dan kemudian ia membawa misi bahwa ia akan bertanggung jawab atas pendidikan Al Malikus Shalih Ismail yang menjadi haknya dan menegakkan misi kedamaian agar tidak ada lagi orang yang berebut kekuasaan.

Keberangkatannya ke Damaskus untuk menyelesaikan masalah ini bersamaan dengan diutusnya Turansyah (kakaknya) untuk mengatasi pemberontakan di Yaman (lihat ceritanya di bagian pertama). Salahuddin memang terbiasa untuk memikirkan banyak persoalan umat pada waktu yang bersamaan.

Angkatan Laut yang Dimiliki Salahuddin

Bangsa Franc yang selalu memantau perkembangan muslim mengetahui bahwa tengah terjadi perpecahan akibat adanya pemberontakan. Inilah yang memunculkan semangat untuk mengambil alih Mesir. Franc mengerahkan bala tentara melalui jalur laut, yang mana Pasukan Salib memang terkenal dengan kehandalan pasukan lautnya.

Inilah strategi jitu yang dimiliki oleh Salahuddin. Meskipun ia memerintah di kota yang jauh berada di atas bukit, ia mampu mengantisipasi dan memperhitungkan jika hal seperti ini terjadi.

Sungai Nil memiliki dua cabang besar yang dapat dilalui kapal, yaitu sebelah timur bermuara di Dumyah dan barat di Iskandariyah. Kedua cabang ini akan bertemu di Manshurah. Tempat inilah yang dijadikan tempat pertahanan oleh Salahuddin dengan pasukan yang bermobilitas tinggi. Ini adalah strategi yang jenius karena ia tau persis tempat yang harus dipertahankan.

Allah subhanahu wa ta’alla menakdirkan kemenangan pada Pasukan Muslim (570H/1174), dengan menyelipkan ketakutan dalam hati musuh. Mereka melihat Pasukan Muslim sangat kuat, memiliki mobilitas yang tinggi, dan mereka sadar bila tidak mampu menandinginya. Bangsa Franc mundur ke perbatasan dalam kondisi gagal dan merasa rugi. Bahkan mereka meninggalkan peralatan perangnya.

Inilah efek kesalehan Salahuddin dan pasukannya yang mampu menggetarkan musuh-musuhnya. Mengapa demikian? Sebab tidak mungkin semangat jihad bercampur dengan semangat maksiat.

Dalam pertemua kedua ini, Agung Waspodo juga berpesan, bila saat ini terasa rumit utnuk membantu perjuangan Palestina, percayalah bahwa tantangan ini tidak berubah. Bersyukurlah kita memiliki kesempatan untuk mencatatkan diri dalam perjuangan agar mereka mampu bertahan hingga saat ini.

Membela Palestina akan menghabiskan energi kita. Sungguh perjuangan ini menguras dana, air mata, tenaga, pemikiran, waktu, dan doa-doa kita. Maka ambillah kesempatan untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina sebagai bagian dari perjuangan hidup kita.

Keingintahuan peserta akan kisah perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi kembali digali pada pertemuan sesi terkahir, yaitu Pertempuran Hittin hingga Fathul Quds Kamis, 29 Oktober 2020.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar Program Bantuan Adara untuk Palestina.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk Palestina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas