Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa upaya pencarian dan pemulihan jenazah berjalan sangat lambat. Juru bicara Mahmoud Basal mengonfirmasi bahwa tim baru memulai fase pertama pencarian korban setelah lebih dari dua tahun terhenti sepenuhnya, dan pekerjaan ini kembali dilakukan berkat kesepahaman internasional yang dipimpin oleh Komite Internasional Palang Merah (ICRC).
Basal mengatakan kepada Al Jazeera bahwa situasinya “sangat kompleks dan sensitif.” Banyak bangunan yang dibom Israel dalam kondisi dihuni puluhan warga hingga semuanya terbunuh dalam seketika, sementara jenazah mereka masih tertimbun sejak November 2023. Ia menjelaskan bahwa pasukan Israel turut menargetkan ekskavator dan buldoser, sehingga operasi pemulihan terhenti pada November 2023. Tim hanya bisa mencatat para korban dengan status “terkubur di bawah reruntuhan,” dengan perkiraan ribuan orang yang masih terkubur.
Rencana pencarian jenazah ini hanya mengandalkan satu ekskavator yang disediakan Palang Merah untuk fase pertama. Basal menilai langkah ini penting, tetapi sangat tidak memadai mengingat skala kehancuran dan kondisi kerja yang berbahaya. Saat ini hanya ada satu ekskavator yang beroperasi di wilayah tengah, sementara peralatan berat hampir tidak tersedia di seluruh Gaza. Nantinya mesin tersebut akan dipindahkan ke Kota Gaza dan wilayah utara, tetapi kapasitasnya jelas tidak sebanding dengan besarnya kehancuran.
Menurut Basal, mitra internasional termasuk Mesir, Qatar, dan badan-badan PBB menyatakan kesediaan untuk membantu. Keterlibatan yang lebih luas diyakini dapat mempercepat pekerjaan dan meringankan penderitaan ribuan keluarga yang telah menunggu dua tahun untuk mengambil jenazah orang-orang tercinta.
Pertahanan Sipil menerima permohonan dari keluarga setiap hari, banyak yang memohon bantuan untuk mencari kerabat yang masih berada di bawah reruntuhan rumah mereka. Basal memperingatkan bahwa pembatasan jam operasi atau pembagian area yang terlalu selektif dapat menimbulkan ketegangan sosial, karena keluarga mempertanyakan mengapa beberapa daerah diprioritaskan sementara yang lain menunggu. Ia menekankan bahwa Kota Gaza dan wilayah utara sangat membutuhkan penggalian besar-besaran karena tingkat kehancurannya paling luas.
Tahap saat ini mencakup wilayah tengah dan sebagian selatan, dengan jam operasi terbatas di Kota Gaza. Namun, Basal menegaskan bahwa upaya ini masih bersifat simbolis karena satu ekskavator tidak mampu menangani volume reruntuhan dan lapisan beton yang sangat tebal. Ia menyerukan setidaknya 20 ekskavator untuk menghasilkan kemajuan nyata. “Bekerja dengan satu ekskavator membuat proses ini lambat dan tidak efektif,” ujarnya.
Tim Pertahanan Sipil juga menghadapi risiko teknis dan keselamatan yang besar, termasuk ranjau yang tidak meledak, tangki bahan bakar, dan pipa gas yang dapat memicu ledakan mendadak. Prosedur keselamatan ketat harus diikuti, sehingga proses semakin lambat namun tetap melindungi nyawa para pekerja.
Basal menambahkan bahwa proses identifikasi jenazah juga menjadi tantangan besar karena banyak yang telah lama tertimbun. Tim membutuhkan dokumentasi cermat dan prosedur khusus untuk menjaga martabat korban serta mengembalikan jenazah kepada keluarga.
Ia menegaskan bahwa Gaza tidak dapat mengatasi krisis kemanusiaan ini tanpa dukungan internasional yang luas. Pertahanan Sipil membutuhkan peralatan sekarang juga, dengan satu tujuan utama: menemukan seluruh jenazah dan memberi kesempatan bagi keluarga untuk memakamkan orang-orang tercinta mereka dengan layak setelah lebih dari dua tahun penantian yang menyakitkan.
Sumber: Qudsnen








