Musim dingin dengan suhu ekstrem melanda Palestina. Hujan yang turun diselingi dengan angin dan salju terus mengguyur setiap jengkal tanahnya. Puncaknya, pada akhir Januari, salju turun, menyelimuti kota-kota di Palestina, termasuk Al-Quds, dengan ketebalan sekitar 20 cm. Penduduk Palestina menyambut dengan suka cita dan menikmatinya dengan rasa syukur meski dalam keterbatasan. Hal itu terlihat dari keceriaan dan senyuman yang terlukis di wajah anak-anak yang tengah bermain bola salju dan papan seluncur bersama. Tidak hanya anak-anak, tetapi para pemuda juga berkumpul di pelataran Masjid Al-Aqsa dan sudut-sudut kota Al-Quds untuk ikut bermain salju.

Para penduduk Palestina penuh keceriaan menikmati salju
Sumber: https://twitter.com/QudsNen?s=20

Pemandangan Palestina yang tertutupi salju
Sumber: https://twitter.com/QudsNen?s=20
Namun, keceriaan tersebut hilang seketika saat pasukan Israel datang menyerang. Mereka menangkap dan melukai para pemuda di beberapa wilayah Al-Quds Timur. Dengan tembakan peluru logam berlapis karet, bom suara, dan gas air mata, pasukan Israel mengusir paksa penduduk Palestina untuk mencegah mereka menikmati salju. Di sisi lain, pasukan militer melindungi dan membawa 40 pemukim ekstremis Israel masuk ke halaman Al-Aqsa melalui Gerbang Damaskus (Bab al-Amud).
Penyerangan dan penangkapan juga terjadi di beberapa tempat lainnya, seperti Jabal Mukaber, Isawiyah, gerbang Kota tua, dan Hizma. Serbuan pasukan ini sudah menjadi rutinitas harian militer Israel. Mereka tidak segan menggerebek rumah penduduk dengan dalih untuk menemukan orang yang sedang “dicari”. Hal demikian dilakukan secara sengaja karena memang menargetkan penangkapan dan teror kepada penduduk Palestina.

Pasukan pendudukan Israel menekan warga Palestina yang bermain salju di halaman kompleks Masjid Al-Aqsa
Sumber: https://twitter.com/QudsNen?s=20


Seorang pemukim memprovokasi di Bab al-Amud dengan mengibarkan bendera Israel di malam berikutnya
Sumber: https://twitter.com/AlQastalps/status/1487864999926284292?s=20&t=A4chbdRGVApP1DICUVYbQw dan https://twitter.com/AlQastalps/status/1487864489479397378?s=20&t=A4chbdRGVApP1DICUVYbQw
Penduduk kota dan para petinggi agama Palestina sempat melakukan perlawanan serta peringatan atas serangan tersebut karena telah mengganggu jamaah Palestina di masjid, tetapi hal itu berujung sia-sia. Pasukan Israel kemudian menangkap 54 penduduk Palestina dari beberapa wilayah Kota Al-Quds, termasuk mantan tawanan. Pasukan Israel beralasan bahwa penangkapan tersebut dilakukan karena warga Palestina diduga melemparkan bola salju ke mobil militer dan pemukim serta mengibarkan bendera Palestina.

Firas dan Mohi Al-Rishq dari daerah Al-Saadiya di Kota Tua Al-Quds, ditangkap kemudian dipukuli di kawasan Gerbang Damaskus
Sumber: qudsnen.co

Pasukan kependudukan Israel menahan seorang pemuda Palestina saat membawa putrinya di lingkungan Jabal Mukaber, Al-Quds
Sumber: https://twitter.com/QudsNen/status/1486732379003650059?s=20&t=NmTrl-94EMuMKwi6UP-jkw
Penyerangan dan penyerbuan terhadap Al-Aqsa dan juga warga Palestina yang berada di sana terjadi hampir setiap hari. Pasukan Israel selalu memfasilitasi dan melindungi para pemukim yang masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa, tetapi mencegah jamaah Palestina. Sejak awal 2021 terdapat 34.562 pemukim masuk ke tempat suci, membuat rekor baru dari tahun sebelumnya tahun 2020, yaitu sebanyak 19.000 pemukim masuk ke masjid, dan 29.700 pemukim pada 2019. Peningkatan penyerbuan ini terjadi sejak saat September 2021 lalu dan pada 5 Desember 2021, tepatnya pada saat acara Jewish Festival of Lights. Ketika itu, Menteri Agama Israel, Matan Kahana, menyerukan untuk mempercepat pembangunan kuil sehingga hal ini diduga memicu peningkatan jumlah penyerbuan.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina menyerukan intervensi Amerika untuk menghentikan aksi terorisme para pemukim terhadap penduduk Palestina. Di lain waktu, ia juga pernah mengatakan bahwa serangan yang terjadi di Palestina ini merupakan sebuah kejahatan, yaitu kejahatan perang, kejahatan kemanusiaan, dan kejahatan pembersihan etnis.
Ia meminta pemerintah Israel untuk bertanggung jawab penuh dan langsung atas kejahatan dan bencana yang dibuat. Meskipun demikian, pemerintah Israel tidak menindaklanjuti ataupun memperhatikan hal tersebut. Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengajukan strategi eskalasi terencana dan terus-menerus sebagai suatu upaya untuk menciptakan realitas serangan harian terhadap penduduk Palestina.
Pada akhirnya pertanyaan “kapan semua teror ini berakhir?” tidak kunjung mendapatkan jawaban karena ribuan serangan ini belum juga menemukan titik terang perdamaian. Penyerbuan Israel terhadap penduduk Al-Quds merupakan upaya pengubahan status quo dan percobaan pembagian temporal dan spasial.
Penyerangan demi penyerangan ini sangat mengganggu penduduk Palestina sekaligus umat beragama dalam keamanan dan kenyamanan beribadah karena di Al-Quds terdapat tiga situs bersejarah dan peribadatan tiga agama yang masih digunakan sampai sekarang, yaitu pertama Masjid Al-Aqsa sebagai situs tersuci ketiga bagi umat; kedua, daerah Al-Quds diklaim sebagai Temple Mount oleh orang Israel dengan anggapan bahwa Al-Quds adalah situs dari dua kuil Yahudi terkemuka di zaman kuno; dan ketiga, di AL-Quds juga terdapat Gereja Makam Suci sebagai salah satu situs Kristen paling suci di dunia.
Vannisa Najchati Silma, S. Hum
Sumber :
https://english.wafa.ps/Pages/Details/127717
https://qudsnen.co/pictures-dozens-extremist-israeli-settlers-break-into-al-aqsa-in-jerusalem/
https://alghad.com/5-مخططات–استيطانية–جديدة–لتغيير–معالم–ا/
https://www.omandaily.om/أفكار–وآراء/na/التصعيد–الإسرائيلي–في–القدس–لماذا–الآن
https://see.news/jewish-settlers-storm-al-aqsa-mosque-10/
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.








