fbpx

Perang Hittin dan Kemenangan Al Quds oleh Shalahuddin Al Ayyubi

Adara Relief-Jakarta: Perang Hittin merupakan perang yang terjadi pada tanggal 4 Juli 1187, melibatkan tentara Islam di bawah pimpinan Shalahuddin Al Ayyubi dan tentara Salib. Pada pertempuran ini dimenangkan oleh umat Islam, karena strategi cemerlang yang disusun oleh Shalahuddin Al Ayyubi dan pasukan yang berkualitas.

Pada pertempuran tersebut, Shalahuddin telah mempersiapkan 12 ribu tentara yang terlatih (tidak termasuk tentara dari kalangan sukarelawan), sedangkan pasukan Salibis membawa 63 ribu tentara dan orang biasa. Tentara Salibis mengerahkan semua kekuatan kerajaan dan ketentaraan mereka demi menguasi Al Quds yang dipercayai sebagai makam Nabi Isa a.s.

Strategi Shalahuddin Al Ayyubi dalam mengalahkan muslihat musuh bisa dibilang sangat cemerlang dan jenius, karena pertempuran ini menjadi kajian dalam sejarah perang di dunia yang dipakai hingga sekarang.

Dalam strateginya, Shalahuddin memulai peperangan dengan menyeberangi sungai Jordan menuju ke lembah Hittin. Kemudian tentara Salibis pun berjalan menyeberangi lembah-lembah Galilea dalam musim panas yang sangat terik. Mereka terbebani oleh pakaian dan peralatan tempur yang harus dibawanya, karena itulah perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh dalam beberapa jam akhirnya harus ditembuh seharian. Hal ini membuat mereka kehabisan bekal air di perjalanan, ditambah Shalahuddin menyuruh tentaranya membakar rumput supaya suasana semakin panas.

Selanjutnya Shalahuddin mengirimkan pemanah-pemanah jitu untuk mengikuti pasukan Salibis dari kejauhan, mengincar tentara-tentara yang terpisah sendirian. Akhirnya dari strategi ini tentara Muslim berhasil memenangkan peperangan dan membebaskan Kota Al Quds.

Perang Hittin merupakan peperangan terakhir dalam sejarah Islam Palestina. Kemenangan ini juga telah membuka Shalahuddin Al Ayyubi membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyejahterakan seluruh umat manusia, khususnya umat Islam.

Dalam waktu dua bulan saja, Shalahuddin berhasil menguasai wilayah Akka, Nazareth, Shafuriyyah, Khaisriyyah, dan sebelas wilayah lain. Selanjutnya wilayah selatan dan utara Palestina pun dikuasai, serta lima puluh wilayah besar di Palestina telah berjaya.

Kemudian dibawah kepemimpinan Shalahuddin, Masjid Al Aqsa kembali dimuliakan, orang-orang Islam tidak ada yang diperbudak. Seluruh umat non Islam diberikan kebebasan menjalankan agamanya dengan tenang dan tidak boleh mengganggu satu dengan lainnya.

Sumber: aqsainstitute.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas