Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan total ada 6.000 petugas dikerahkan untuk proses evakuasi warga korban gempa Cianjur (23/11). Suharyanto berujar bahwa sejauh ini BNPB 271 mencatat korban meninggal akibat gempa Cianjur. Dari jumlah tersebut 37 persen di antaranya merupakan anak usia di bawah 15 tahun.
Dalam salah satu upaya evakuasi, selama 3 hari dua malam, seorang bocah berusia 4 tahun berada di tengah reruntuhan rumah setelah tempat tinggalnya diguncang gempa Bumi pada Senin siang. Azka, nama balita itu, selama 60 jam terkurung dalam reruntuhan dan kesunyian panjang, tanpa makan dan minum. Azka ditemukan oleh tim evakuasi di bawah reruntuhan rumahnya. Tembok yang runtuh masih tertahan tembok lain sehingga tidak menimpa bocah ini. Namun, tidak demikian dengan ibu kandungnya yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi meninggal. Neneknya yang serumah dengannya, hingga Rabu siang juga belum ditemukan.
Penyintas gempa magnitudo 5,6 di Cianjur, Ida Farida rela menerjang reruntuhan untuk menyelamatkan anak perempuannya, Siti Hamdal, yang tertimpa atap rumah. “Akses jalan belum bisa dibuka, saya terobos-terobos. Lewat sawah-sawah saya, berjuang demi anak daripada kenapa-kenapa,” ujar Ida. Dia mengatakan bahwa lingkungan tinggalnya mayoritas berupa pegunungan. Sebelum gempa terjadi, Ida berkumpul bersama empat anaknya. Kemudian, saat terjadi gempa, akses jalan utama terputus reruntuhan dan longsoran.
Kondisi anaknya, Siti, terluka parah di bagian kepala tertimpa atap rumah sebelum menjalankan sholat dzuhur. Sehingga, ia segera dilarikan ke Puskesmas Cisau. Disana, Siti mendapatkan pertolongan pertama berupa jahitan kepala. Sementara tiga anak Ida lainnya diungsikan ke rumah saudaranya yang lebih aman dari gempa, karena takut gempa susulan terjadi kembali. Saat ini, Siti masih menjalani perawatan karena trauma.
Rasa sayang orangtua kepada anak juga tergambar dari seorang ayah yang nekad menerobos jalan yang tertutup longsor demi menyelamatkan anaknya yang tertimpa bangunan runtuh. Zainal Abidin (39 tahun) mengatakan, “Pada saat kejadian anak saya tengah bermain di dekat rumah, tepatnya di toilet umum sebuah proyek.” Naas pada saat gempa terjadi anaknya tersebut tertimpa bangunan toilet atau WC tepat pada bagian kepala.
“Pada waktu itu saya tengah berjualan bakso di desa tetangga dan ketika gempa terjadi langsung pulang ke rumah,” ungkap Zainal. Awalnya ia meminta tolong tetangganya dengan menggunakan mobil ke rumah sakit. Namun, kata Zainal setelah satu kilometer perjalanan arus lalu lintas terhenti karena ada longsor ke jalan di daerah Cugenang. Sehingga ia memutuskan untuk kembali ke rumah, “Saya akhirnya langsung meminjam motor tetangga dan membawa anak saya menerobos lokasi longsor,” tutur Zainal. Saat berangkat pun ia tidak memakai sandal atau sepatu. Ia ingin membawa anaknya ke rumah sakit secepat mungkin.
Selain itu, seorang warga bernama Nunung yang tengah menjaga warung miliknya, tiba-tiba dikejutkan dengan barang dagangannya yang bergetar dan berjatuhan ke lantai. Tidak lama, terdengar suara ‘bruk’, atap rumah Nunung ambruk. Getaran gempa di Cianjur terjadi begitu cepat. Dua anak dan suaminya saat itu tertidur lelap di dalam rumah. Satu anak Nunung selamat dan suaminya luka-luka. Namun, naas. satu anaknya yang lain meninggal tertimpa reruntuhan rumah.
Segala bantuan dikerahkan demi menyelamatkan jiwa masyarakat. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) meminta tempat pengungsian untuk korban gempa Cianjur lebih ramah bagi anak, perempuan, lansia dan kelompok rentan lainnya. Menteri PPPA Bintang Puspayoga mengaku prihatin atas bencana tersebut, apalagi banyak anak-anak yang menjadi korban. Bintang menyebut pihak-pihak terkait harus menyediakan toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, serta penerangan yang baik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Hingga dapur umum yang harus sudah berperspektif perempuan dan anak, dalam menyajikan makanan memperhatikan kebutuhan anak,” ujarnya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








