21 Juni 2023 seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi keluarga Ahmad[1]. Bagaimana tidak, hari itu seharusnya menjadi tanggal pernikahan salah satu anggota keluarga mereka. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Hari itu menjadi tanggal yang tidak akan terlupakan, sebab kebahagiaan mereka dalam sekejap dihancurkan oleh penyerbuan pemukim Israel terhadap desa mereka, Turmus Ayya.
“Pernikahan itu seharusnya berlangsung di Turmus Aya Grand Hall. Tapi perayaan terpaksa dibatalkan karena ruangan itu berubah menjadi aula pemakaman bagi syuhada,” kata paman dari mempelai, Osama Ahmad (42), kepada Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa upacara pernikahan tetap dilangsungkan, namun hanya dengan prosesi singkat di rumah mempelai pria dan hanya dihadiri oleh pasangan mempelai dan segelintir kerabat. “Tidak ada nyanyian, tidak ada kegembiraan”, kata Osama. “Pengantin pria diam dan sedih sepanjang waktu. Dia bersedih untuk desanya, negaranya, dan untuk para syuhada,” tambahnya.
Sebelum penyerangan terjadi, sekitar belasan kerabat perempuan dari kedua mempelai sedang bersiap-siap di sebuah salon kecil yang dibuka sekitar setahun lalu oleh keluarga Ahmad di pekarangan rumah mereka. Beberapa saat kemudian, puluhan pemukim secara tiba-tiba berdatangan kemudian langsung menghancurkan salon dengan batu dan membakarnya dengan melemparkan bom molotov, menurut saksi mata.

“Terus terang, saya tidak sedikit pun merasa bahwa kami akan bisa selamat atau keluar hidup-hidup,” kata Marwa Ahmad, salah satu wanita yang berada di dalam salon selama penyerangan. “Kami melihat pemuda bertopeng – ada sekitar 100 orang. Mereka mengepung rumah, kemudian mulai melempari batu dan membakar salon,” katanya. “Mereka juga berusaha mendobrak pintu dan berhasil masuk ke dalam rumah,” tambahnya.
“Kami bersembunyi ke lantai tiga. Dari sana, kami memantau para pemukim melalui kamera. Mereka membakar empat mobil kami, satu demi satu. Kemudian sekelompok pemuda Palestina datang untuk menolong kami melalui pintu masuk lain. Para pemukim mencoba mencari kami dari arah yang berbeda, tapi syukurlah, para pemuda Palestina segera tiba dan membawa kami keluar. Kami melompati pagar tinggi menggunakan kursi kemudian berjalan sekitar 15 menit di jalan tanah yang datar, di bawah pepohonan dan duri, sampai kami mencapai daerah yang aman.”
Luay Ahmad, saudara dari pemilik salon, juga mengungkapkan kengeriannya saat para pemukim menyerbu salon. Ia mengatakan bahwa anak-anaknya saat itu berada di dalam rumah, tak lama setelah para pemukim membakarnya. “Kami melihat pohon terbakar, anak-anak menangis dan orang-orang berlarian. Kami tidak dapat melihat jauh ke depan karena banyaknya asap di dalam rumah. Kami segera mengeluarkan wanita dan anak-anak dengan menyeret mereka melewati pagar setinggi 3 meter (10 kaki), kemudian kami mulai memadamkan api,” kata Luay kepada Al Jazeera. “Kami berhasil mengendalikan api dengan bantuan para pemuda, tetapi sudah ada begitu banyak kehancuran. Pemadam kebakaran baru tiba beberapa jam kemudian,” katanya.

Keluarga Ahmad telah kehilangan setidaknya 300.000 shekel Israel ($81.400) untuk biaya salon dan peralatan di dalamnya. Rantai dan gelang emas yang diberikan oleh keluarga mempelai wanita kepada mempelai pria “semuanya telah meleleh dalam api”, tambah Luay. Luay mengatakan, jika bukan karena pintu internal yang menghubungkan salon ke rumah, para wanita di dalamnya pasti akan terbunuh. “Para pemukim datang ke sini untuk membunuh,” katanya. “Itu adalah situasi mengerikan yang sulit untuk dijelaskan. Ini adalah hari yang tidak akan pernah saya lupakan.”
Serangan Terbesar di Tepi Barat

Serangan pemukim di Desa Turmus Ayya yang terletak di Tepi Barat adalah salah satu yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir, ungkap Al Jazeera. Ini adalah bagian dari peningkatan tajam dalam serangan pemukim bersenjata dan terkoordinasi di Tepi Barat sejak Oktober 2022, yang dilakukan di bawah perlindungan tentara Israel. Bentuk serangan termasuk di antaranya penembakan, serangan pembakaran, lemparan batu dan serangan fisik dengan pipa dan benda tajam lainnya.
Serangan di Turmus Ayya dimulai pada Rabu sore tanggal 21 Juni 2023. Lebih dari 400 pemukim Israel mengobrak-abrik desa, membakar rumah, mobil, dan ladang serta meneror penduduk setempat. Rekaman yang beredar di media sosial juga menunjukkan sekelompok pemukim bertopeng, seperti yang menyerang rumah keluarga Ahmad, melemparkan batu ke penduduk dan rumah penduduk setempat, sementara asap tebal mengepul di udara.
Video serangan pemukim dan pembakaran kendaraan di Turmus Ayya
تغطية صحفية: “مشاهد بطولية لتصدي الأهالي لاعتداءات المستوطنين في بلدة ترمسعيا برام الله”. pic.twitter.com/XKPnogLdXg
— وكالة شهاب للأنباء (@ShehabAgency) June 21, 2023
تغطية صحفية: “مستوطنون يحرقون منازل للفلسطينيين ترمسعيا شمال شرق رام الله”. pic.twitter.com/o6GDtWlzPb
— وكالة شهاب للأنباء (@ShehabAgency) June 21, 2023
Pejabat kesehatan Palestina melaporkan bahwa seorang warga Palestina tewas akibat serangan tersebut. Korban yang terbunuh itu bernama Omar Qattin (27), yang menurut kesaksian penduduk adalah ayah dari dua anak kecil dan bekerja sebagai tukang listrik di kotamadya setempat. Sementara itu, 12 penduduk lainnya dilaporkan luka-luka, sedikitnya empat orang terluka oleh tembakan, termasuk satu yang dilaporkan dalam kondisi serius, menurut Kementerian Kesehatan Otoritas Palestina.
Mengenai korban yang terbunuh, Omar Qattin, saksi mata mengatakan bahwa Qattin saat itu sama sekali tidak berada di dekat pasukan Israel. “Dia hanya berdiri di sana. Dia adalah orang yang lugu dan baik hati. Dia tidak membawa batu, dia sama sekali tidak bersenjata, bahkan dia berjarak setidaknya setengah mil jauhnya dari militer,” kata Khamis Jbara, tetangganya. “Dia biasa bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Dia adalah pria yang tenang,” tambahnya.

Beberapa jam setelah serangan pada Rabu sore di Turmus Ayya, puluhan pemukim juga menyerang Desa Urif di Tepi Barat. Rekaman yang beredar menunjukkan seorang pemukim bertopeng di Urif menyobek sebuah Al-Qur’an kemudian membuang halaman-halamannya ke tanah. Sehari setelahnya, media Palestina melaporkan bahwa para pemukim juga berusaha menyerang Desa Jalud. Rekaman di media sosial menunjukkan pemukim dan warga Palestina saling melempar batu di daerah tersebut. Di Tepi Barat, Israel juga dilaporkan telah menggunakan pesawat tak berawak (drone) untuk menyerang penduduk. Teknologi tersebut baru digunakan kembali tahun ini setelah 20 tahun.
Pada Sabtu, puluhan pemukim, dengan perlindungan tentara Israel, juga menyerbu rumah-rumah warga Palestina dalam tindakan yang mereka sebut sebagai “pogrom” terorganisasi. Puluhan pemukim mengamuk di desa Umm Safa, di Tepi Barat, meneror penduduk setempat. Rekaman video dari serangan itu telah tersebar secara online yang menunjukkan gerombolan pemukim berkeliling dan menembakkan peluru ke arah rumah-rumah Palestina. Kanal media Palestina Arab48 mengatakan bahwa setidaknya 10 rumah dan tujuh kendaraan hancur akibat serangan di Umm Safa.
Selain menyerang desa-desa lainnya di Tepi Barat, serangan pemukim di Desa Turmus Ayya juga masih berlangsung hingga Minggu, 25 Juni 2023, atau lima hari setelah serangan pertama diluncurkan. Kelompok pemukim Israel pada Minggu pagi membakar tanaman di Turmus Ayya, hanya dalam hitungan hari setelah desa itu menjadi sasaran amukan yang menyebabkan setidaknya 30 rumah dan 70 kendaraan terbakar.
Sejak tahun lalu, Israel secara terbuka memprakarsai kampanye Break the Wave, yang memungkinkan mereka melakukan serangan militer hampir setiap hari di Tepi Barat dan meningkatkan tindakan tembak-mati, juga disertai dengan penangkapan massal. Hal tersebut mengakibatkan tahun 2022 menjadi tahun yang paling mematikan bagi warga Palestina di wilayah pendudukan sejak Intifada Kedua dua dekade lalu.
Sejak awal tahun ini, pasukan dan pemukim Israel telah membunuh setidaknya 171 warga Palestina, termasuk 26 anak-anak. Sebanyak 135 kematian telah dicatat di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) Timur dan 36 lainnya di Jalur Gaza. Dengan banyaknya jumlah pembunuhan warga Palestina oleh pasukan dan pemukim Israel yang tercatat selama lima bulan pertama tahun 2023 saja, akankah dunia internasional tetap membiarkan tahun ini kembali menjadi tahun yang paling mematikan bagi penduduk Palestina seperti tahun lalu?
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.aljazeera.com/news/2023/6/25/israeli-forces-say-will-clamp-down-on-settler-terrorism
https://www.middleeasteye.net/news/israeli-settlers-rampage-through-palestinian-villages-fifth-day
https://www.bbc.com/news/world-middle-east-65973383
- Seluruh nama disamarkan untuk alasan keamanan ↑
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








