Anas Qaterji (36 tahun) melarikan diri dari Suriah ketika perang saudara pecah pada tahun 2011. Ia kemudian melarikan diri ke Gaza melalui Mesir. Ia menyelinap melalui salah satu dari sekian banyak terowongan untuk menyelundupkan barang ke daerah kantong itu. Qaterji kemudian menetap di Gaza yang merupakan rumah bagi 2,3 juta warga Palestina yang sekitar setengahnya hidup dalam kemiskinan. Akan tetapi, di Gaza, ia mendapatkan banyak penggemar yang berasal dari pecinta kuliner yang “gila” karena masakan pedas yang ia bawa.
“Anda mungkin mengatakan ini kegilaan, petualangan atau pertaruhan. Akan tetapi saya datang ke sini untuk mencari kehidupan di tengah kematian,” kata Qaterji.
Qaterji kemudian mendapat pekerjaan di bagian dapur dan mulai bekerja di bidang makanan lokal. Ia mendapatkan pengakuan untuk dua spesialisasi, pertama: shawarma versi Suriah yang disajikan di atas nasi dan bertabur kacang panggang; dan kedua: krim bawang putih yang terkenal.
Baca juga “Hummus Fatteh: Makanan Khas yang Menghiasi Meja Warga Gaza pada Ramadan” di sini
Setelah bekerja sebagai koki utama di sejumlah restoran, ia memutuskan untuk membuka restoran sendiri pada tahun 2020. Ia menamai restorannya “Al-Halabi”, mengacu pada kota asalnya di Aleppo yang telah mengalami kehancuran besar dalam perang. Poster Aleppo sebelum konflik menutupi dinding restoran Qatarji yang berada di jantung Kota Gaza.
Qaterji sangat berharap untuk bisa kembali pulang suatu hari nanti ketika sudah aman. Namun, karena memasuki Gaza secara ilegal, Qaterji tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah sehingga dia tidak dapat meninggalkan daerah yang ada dalam blokade tersebut. Selain itu, Israel dan Mesir juga melakukan pembatasan keamanan yang ketat di sepanjang perbatasan.
“Saya tidak bisa bergerak dari sini dan saya merindukan ibu saya. Saya ingin mencium tangan dan kakinya, saya ingin memeluknya dan memperkenalkannya kepada istri saya, wanita Palestina yang berdiri di samping saya dan selalu mendukung saya,” dia berkata. “Pada hari pengungsi sedunia, saya meminta kepada semua pengungsi di seluruh dunia: Jadilah duta besar yang baik bagi negara anda.. Bangunlah rumah anda di mana pun anda berada,” kata Qaterji.
PBB mengatakan sekitar 5,6 juta warga Suriah telah melarikan diri dari perang saudara sejak perang tersebut pecah pada 2011. Sebagian besar mengungsi ke negara-negara tetangga, seperti Turki, Lebanon, Yordania, Irak, dan Mesir. Hanya sekitar 30 orang Suriah yang melarikan diri ke Gaza, tempat kebanyakan penduduknya masih menjadi pengungsi, atau keturunan pengungsi dari perang 1948 yang masih dianggap oleh penduduk Palestina sebagai bencana.
Sumber:
https://www.#/20220619-syrian-refugee-brings-the-taste-of-home-to-gaza/
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








