Peneliti urusan Al-Quds (Yerusalem), Ziad Ebheis, memperingatkan bahwa serangan terhadap Masjid Al-Aqsa terus meningkat dan bersifat terbuka, sebagai bagian dari perang penentuan yang bertujuan menghapus identitas Islam dan memaksakan yahudisasi penuh atas situs suci tersebut. Peringatan ini disampaikan setelah maraknya pelanggaran selama perayaan Hanukkah, yang ditandai dengan ritual Talmud dan penegasan identitas Yahudi di dalam kompleks Al-Aqsa.
Ebheis menjelaskan bahwa pemerintah Israel kini secara terbuka mendorong pembagian waktu (temporal division) antara Muslim dan Yahudi di Al-Aqsa, sebuah rencana lama yang mulai dirintis sejak 2012 dan pernah memicu Intifada pada 2015. Jam penyerbuan pemukim yang sebelumnya hanya sekitar tiga jam per hari kini telah melampaui enam jam, dengan rencana perluasan hingga malam hari. Hal ini, menurut Ebheis, menunjukkan komitmen resmi pemerintah Israel—bukan sekadar kelompok ekstremis—untuk menuntaskan proses yahudisasi Masjid Al-Aqsa.
Pada Selasa, 121 pemukim Yahudi kembali menyerbu Masjid Al-Aqsa di bawah pengawalan ketat polisi Israel. Mereka memasuki kompleks melalui Gerbang Al-Magharibeh dalam dua gelombang dan melakukan ritual Talmudiah di halaman masjid. Aksi ini terjadi di tengah meningkatnya pembatasan terhadap otoritas Islam, termasuk larangan masuk terhadap penjaga Al-Aqsa selama enam bulan.
Data Pemerintah Provinsi Al-Quds (Yerusalem) menunjukkan bahwa sepanjang November saja, lebih dari 4.200 pemukim menyerbu Al-Aqsa, selain puluhan ribu turis asing. Sejak 2003, polisi Israel secara sepihak mengizinkan penyerbuan pemukim, meski mendapat penolakan berulang dari Waqaf Islam.
Ebheis menegaskan bahwa rangkaian penyerbuan, ritual kolektif, dan perluasan jam masuk pemukim merupakan tahap krusial dalam upaya penghapusan otoritas Islam dan peneguhan kendali penuh Israel atas Al-Aqsa. Ia memperingatkan bahwa situasi ini bukan sekadar pelanggaran sementara, melainkan ancaman eksistensial terhadap Masjid Al-Aqsa yang tidak boleh dipandang remeh.
Sumber: Palinfo








