Pengacara Inggris pada Rabu (24/2) untuk Israel mengklaim bahwa Hamas sendiri menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 21.000 orang selama pertemuan mengenai ekspor senjata Inggris ke Israel.
Sidang parlemen Inggris yang diadakan untuk membahas ekspor senjata Inggris ke Israel menjadi kontroversi, karena pendukung Israel mengecilkan angka korban warga Palestina yang terbunuh dengan mengatakan bahwa angka tersebut dikeluarkan oleh Hamas.
Natasha Hausdorff, direktur Pengacara Inggris untuk Israel (UKLFI), sebuah organisasi advokasi pro-Israel yang mendesak pemerintah Inggris untuk melanjutkan ekspor senjata ke Israel, mengatakan pada pertemuan komite bisnis dan perdagangan bahwa jumlah korban tewas warga Palestina di Gaza didapat dari “informasi yang sangat tidak akurat”.
“Jumlah 33.000 orang yang tewas bahkan tidak sesuai dengan apa yang diklaim oleh Hamas, organisasi teroris yang dilarang secara internasional,” kata Hausdorff.
“Ini mengindikasikan bahwa mereka tidak memiliki informasi identitas untuk sekitar sepertiga dari jumlah tersebut, jadi kami melihat angka yang jauh lebih rendah,” katanya, seraya menambahkan bahwa jumlah tersebut mungkin sekitar 21.000.
“Angka-angka ini tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan,” katanya dalam sidang yang dipimpin oleh anggota parlemen Partai Buruh, Liam Byrne. “Israel mengatakan mereka telah membunuh 13.000 pejuang.”
Dia melanjutkan dengan merujuk pada statistik dari Abraham Wyner, seorang profesor di Wharton School, yang digambarkan oleh seorang profesor di London School of Economics sebagai “salah satu penyalahgunaan statistik terburuk yang pernah saya lihat”.
Dalam pertemuan tersebut, Richard Kemp, mantan perwira militer Inggris yang merupakan pendukung vokal perang Israel melawan Hamas, mengatakan bahwa berdasarkan informasi ini, dapat disimpulkan bahwa 9.000 warga sipil Palestina telah terbunuh.
Kemp menggambarkan ini sebagai angka yang “sangat mengesankan” dan menggambarkan banyaknya korban sipil di Gaza sebagai hal yang “wajar”. Mantan perwira tersebut bahkan mengatakan bahwa bukan Israel, melainkan Hamas, yang berniat melakukan genosida.
Namun demikian, klaim korban terbunuh sejumlah 21.000 orang tersebut telah dibantah oleh Juru Bicara Hamas. “Masih ada ratusan korban tak dikenal di bawah reruntuhan, dan setiap hari kuburan massal baru ditemukan,” kata juru bicara tersebut.
“Bermain-main dengan angka kematian adalah pendekatan yang menjijikkan dalam menghadapi situasi ini, terutama ketika Israel telah menjadikan kelaparan sebagai sebuah kebijakan,” Chris Doyle, direktur Dewan Pemahaman Arab-Inggris (Caabu), mengatakan kepada MEE.
“Inggris tidak boleh menjual senjata dalam situasi yang memungkinkan suku cadang tersebut digunakan dalam pelanggaran hukum internasional lebih lanjut, yang tidak hanya terjadi dalam enam bulan terakhir tetapi juga dalam lima perang terakhir yang dilakukan Israel di Gaza.”
Hingga hari Rabu, jumlah korban tewas warga Palestina dalam lebih dari enam bulan perang mencapai lebih dari 34.262 orang, menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Angka-angka ini digunakan oleh organisasi-organisasi internasional, termasuk PBB, dan militer Israel sebelumnya telah mengakui bahwa angka-angka tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Sumber : https://www.middleeasteye.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








