fbpx
Penderitaan Gaza 14 tahun (2)

Penderitaan Gaza 14 Tahun Terpenjara: Dunia, Berbicaralah! (Bagian 2)

Meski blokade telah berlangsung selama 14 tahun, namun hal tersebut tidak membuat warga Gaza menyerah dan tunduk terhadap Israel. Menurut Akram Al Adlouni (Sekjen Global Coalition for alQuds and Palestine) dalam Webinar International bertajuk “14 Tahun Blokade Gaza: Penjara Terbesar di Dunia” pada 9 September 2020 yang diselenggarakan oleh Global Woman Coalition for Al Quds and Palestine (GWCQP), penderitaan akibat blokade justru membuat warga Gaza semakin kreatif dalam bertahan menghadapi penjajahan Israel.

Dalam kondisi langkanya listrik di Gaza, mereka mampu mengembangkan inovasi listrik dari tenaga matahari sehingga membantu banyak rumah sakit. Dunia pendidikan pun tetap bergeliat seiring dengan terus diberlakukannya blokade. Masjid-masjid di Gaza melahirkan ribuan penghafal Alquran. Tidak hanya itu, aksi damai Pawai Kepulangan Akbar diikuti tidak hanya oleh para pemuda, tetapi juga anak-anak hingga para orang tua yang menandakan belum padamnya perjuangan mereka.

listrik padam di gaza
Israel Hentikan Pengiriman Bahan Bakar ke Gaza Palestina

Merespon kegigihan warga Gaza, Donald Trump menawarkan janji manis yang disebut ‘perjanjian damai’ atau Deal of Century yang menurutnya akan memberikan kesejahteraan ekonomi bagi Palestina.

Dalam proposal yang disusun secara sepihak oleh AS dan Israel tersebut, Trump ‘menjanjikan’ pembangunan ekonomi di wilayah Gaza dan Tepi Barat. Sebagai langkah pertama, menurut perjanjian ini, kedua wilayah tersebut akan dihubungkan ke pasar regional dan internasional, sehingga mendatangkan investasi untuk menjadikan kedua wilayah ini lebih sejahtera. Langkah kedua yang akan dilakukan adalah membangun infrastruktur yang penting, seperti listrik, air, sektor komunikasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Langkah ketiga adalah mempromosikan pertumbuhan sektor swasta dan memperkuat pengembangan regional dan pembangunan yang terintegrasi.[1]

Tentu saja hal tersebut tidak akan diberikan secara gratis kepada Palestina, terlebih warga Gaza. Jika Palestina menerima Deal of Century maka negara yang telah dirampas kedaulatannya lebih dari 72 tahun oleh Israel ini harus membayar mahal dengan deretan masalah kemanusiaan yang justru disebabkan oleh penjajah Israel: persoalan perbatasan, tawanan, Masjid Al Aqsa dan pengungsi.[2]

Dalam perjanjian itu, Gaza juga harus mematuhi syarat khusus. Di bagian sembilan dalam bab yang berjudul ‘Gaza Criteria’ disebutkan bahwa agar perjanjian ini dapat dijalankan, maka Gaza harus melakukan beberapa hal. Pertama, otoritas pemerintahan yang mengatur Gaza harus mendapat persetujuan Israel. Kedua, Hamas, Palestinian Islamic Jihad (PIJ), dan seluruh kelompok milisi harus dilucuti, dan ketiga Gaza harus didemiliterisasi. [3]

Gaza juga diwajibkan untuk membebaskan seluruh tahanan Israel yang masih ada. Selain itu, jika Hamas ingin berperan dalam pemerintahan Palestina, maka Hamas harus mematuhi ‘Prinsip Kwartet’. Yang pertama, mengakui negara Israel. Kedua, berkomitmen untuk tidak melakukan tindakan kekerasan. Ketiga, menerima perjanjian sebelumnya dan keempat, melucuti persenjataan seluruh kelompok ‘teroris’. Jika Gaza memenuhi kriteria ini, maka visi ekonomi baru akan dapat dilaksanakan di Gaza.[4]

Perjanjian ini mendapat penolakan dari seluruh elemen warga, termasuk faksi-faksi politik yang ada di Palestina. Mereka menganggap bahwa perjanjian ini merupakan bentuk dari menjual Palestina. Perjanjian ini justru menjadikan dua faksi politik terbesar di Palestina, yakni Fatah dan Hamas bersepakat untuk bersatu guna menentang perjanjian ini. Mereka akan satu suara, satu strategi di bawah bendera yang sama untuk menghadapi tantangan yang akan mereka hadapi.[5]

Penolakan Palestina terhadap perjanjian ini direspon dengan penandatanganan kesepakatan normalisasi dengan Israel oleh Uni Emirat pada 13 Agustus 2020 yang diikuti oleh Bahrain pada 15 September 2020 yang lalu. Upaya ini dilakukan seolah-olah ingin menunjukkan bahwa jika Palestina tidak menyetujui Deal of Century maka ia akan dikucilkan dalam ‘pergaulan’ dunia, karena seluruh negara-negara Arab telah siap melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Hal ini juga semakin menyudutkan Palestina karena dianggap merupakan pihak yang bersalah, tidak menginginkan perdamaian, karena menolak perjanjian tersebut.

Sikap kukuh Palestina yang menolak perjanjian juga diikuti dengan serangan bom yang dilakukan Israel ke Gaza tepat setelah normalisasi hubungan antara UEA dan Bahrain.[6] Meski tidak menimbulkan korban jiwa, namun serangan roket Israel bertubi-tubi ke wilayah Gaza menimbulkan teror yang menakutkan. Ditambah dengan terbatasnya respon dan kecaman dunia terhadap penyerangan yang dilakukan oleh Israel. Hal ini terlihat sebagai sebuah pesan terbuka Israel kepada Gaza bahwa ia telah ditinggalkan dunia.

Penulis buku tentang sejarah Palestina, Dr. Thariq Suwaidan, memiliki pandangan sebaliknya. Ia berpendapat bahwa normalisasi yang dilakukan oleh negara-negara Arab bukanlah sebuah hal yang penting, selama rakyat Palestina terus berjuang menolak kolonialisasi. Peristiwa normalisasi antara Mesir dan Israel tidak memberikan keuntungan apapun terhadap bangsa Mesir. Tingkat persentase hubungan dagang antara Israel dengan Mesir pun rendah, dan rakyat Mesir sendiri menolak perjanjian normalisasi oleh pemerintahnya. [7]

Demikian pula dengan upaya normalisasi yang telah dilakukan oleh negara-negara Teluk akhir-akhir ini (beberapa negara lain diprediksi akan menyusul). Keputusan pemerintah mereka sesungguhnya tidak identik dengan suara rakyatnya yang sebagian besar berpihak kepada Palestina. Upaya normalisasi hanya merupakan usaha para pemimpin negara Teluk untuk mempertahankan eksistensi kepemimpinan mereka di negaranya. Paska Arab Spring pada 2012, pemimpin Arab melakukan segala upaya untuk menjaga agar status quo tetap terjadi di wilayahnya.[8]

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kebijakan blokade Israel terhadap Gaza yang telah berlangsung selama 14 tahun tidak mampu menundukkan Gaza. Meski dihimpit oleh permasalahan ekonomi, pengangguran, kelangkaan pangan, kesehatan hingga pendidikan, namun itu semua tidak mampu membuat Gaza menyerah. Demikian pula tawaran kesejahteraan ekonomi dalam perjanjian Deal of Century maupun isu normalisasi, tidak menyurutkan rakyat Gaza untuk menentang penjajahan Israel.

Meski demikian, Israel pasti akan terus menerus berusaha untuk membuat pendirian Gaza berubah. Ini terlihat dari serangan roket yang diluncurkan ke wilayah Gaza paska normalisasi hubungan dilakukan oleh UAE dan Bahrain. Ini menjadi sinyal yang nyata bagi Gaza bahwa ia telah kehilangan sekutunya. Israel pun akan terus membuat Gaza menjadi terasing dari dunia. Gaza atau bahkan Palestina akan dipojokkan menjadi pihak yang menolak perdamaian, bukan Israel.

Dalam situasi seperti ini, warga dunia memiliki peran yang sangat penting agar Gaza dapat terus bertahan. Bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza harus terus diupayakan dan disalurkan. Di tengah pemotongan bahkan penghapusan bantuan kemanusiaan untuk Gaza dari AS dan negara sekutu Israel lainnya, warga dunia harus mampu bersatu padu memberikan bantuan kemanusiaan terhadap Gaza.

Selain itu, masyarakat dunia juga harus secara aktif menyuarakan untuk menghentikan blokade yang dilakukan oleh Israel. Seberapa pun besarnya bantuan internasional terhadap Gaza, namun jika kebijakan blokade masih dilakukan, maka hal tersebut tidak akan berdampak banyak untuk mengurangi penderitaan rakyat Gaza. Hal ini karena blokade ditujukan untuk melemahkan Gaza dan membuat mereka menyerah.

Pesan terpenting saat ini adalah bagaimana masyarakat dunia secara aktif menyuarakan persoalan blokade Gaza kepada seluruh dunia, melakukan kecaman terhadapnya, dan menyeret Israel ke Mahkamah Internasional untuk menekan Israel agar menghentikan blokadenya terhadap Gaza.

 

Disusun oleh: Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P. (Pengurus Bidang Penyaluran dan Jaringan Strategis Adara Relief International)

Baca artikel terkait: Penderitaan Gaza 14 Tahun Terpenjara: Dunia, Berbicaralah! (Bagian 1).

Ikuti akun Instagram resmi @adararelief untuk info seputar Palestina lainnya.

 

Sumber:

  1. 50 Shades of Control, https://gisha.org/50shades-en/.
  2. Gaza in 2020, Agustus 2012, UN https://www.unrwa.org/userfiles/file/publications/gaza/Gaza%20in%202020.pdf
  3. Palestine Annual Country Report 2019, WFP https://docs.wfp.org/api/documents/WFP-0000113833/download/.
  4. Annual Report of the Humanitarian Situation in the Gaza Strip, 2017, GDD, https://gazzedestek.org/en/annual-report-on-humanitatian-situation-of-the-gaza-strip-2017/.
  5. State of Palestine : Humanitarian Situation Report, UNICEF, https://reliefweb.int/sites/reliefweb.int/files/resources/UNICEF%20State%20of%20Palestine%20Humanitarian%20Situation%20Report%20-%20End%20of%20Year%202019.pdf
  6. Gaza Strip : The Humanitarian Impact of The Internal Palestinian Divide, https://www.ochaopt.org/content/gaza-strip-humanitarian-impact-internal-palestinian-divide.
  7. Palestinian Centre for Human Rights : Annual Report 2019, https://www.pchrgaza.org/en/wp-content/uploads/2020/04/annual-report-2019-English.pdf.
  8. The Labyrinths to Health in Gaza, Médicine Du Monde Palestine, 2019, https://reliefweb.int/sites/reliefweb.int/files/resources/Labyrinths%20to%20health%20in%20Gaza_VEng.pdf.
  9. Peace to Prosperity : A Vision to Improve The Lives of the Palestinian and Israeli People, Part B : Economic Framework https://www.whitehouse.gov/wp-content/uploads/2020/01/Peace-to-Prosperity-0120.pdf.
  10. Fitriyah Nur Fadilah, Nasib Palestina di Bawah Bayang-bayang Deal of Century, https://adararelief.com/nasib-palestina-di-bawah-bayang-bayang-deal-of-century-part-1/.
  11. https://www.middleeastmonitor.com/20200704-israel-tv-hamas-fatah-cooperation-against-deal-of-the-century-a-dangerous-development/.
  12. “Palestine have been bombed everyday since UAE – Israel normalisation”, https://www.trtworld.com/magazine/palestinians-have-been-bombed-every-day-since-uae-israel-normalisation-39088
  13. “Israel bombs Gaza after rocket fire follow UAE, Bahrain Deals”, https://www.aljazeera.com/news/2020/09/israel-bombs-gaza-rocket-fire-uae-bahrain-signed-deals-200916064518070.html
  14. Ismail Numan Telci and Tuba Öztorük Horoz, Military Base in the Foreign Policy of the United Arab Emirates, Insight Turkey, Vol. 20, No.2, The Gulf of the Verge Global Challenges and Regional Dynamics (Spring 2018), https://www.jstor.org/stable/26390312?read-now=1&refreqid=excelsior%3A37961c326a83c890c0dc6270e6d13dd7&seq=1#page_scan_tab_contents
  15. Webinar International “14 Tahun Blokade Gaza : Penjara Terbesar di Dunia”, Global Woman Coalition for Al Quds and Palestine (GWCQP), tanggal 9 September 2020.

[1] Peace to Prosperity: A Vision to Improve The Lives of the Palestinian and Israeli People, Part B: Economic Framework, hlm. 4, dalam https://www.whitehouse.gov/wp-content/uploads/2020/01/Peace-to-Prosperity-0120.pdf.

[2] Lihat analisa lebih lengkap mengenai kerugian yang harus ditanggung Palestina jika Deal of Century diterapkan di Palestina dalam, Fitriyah Nur Fadilah, Nasib Palestina di Bawah Bayang-bayang Deal of Century, https://adararelief.com/nasib-palestina-di-bawah-bayang-bayang-deal-of-century-part-1/.

[3] Section Nine : Gaza Criteria, dalam Peace to Prosperity : A Vision to Improve The Lives of the Palestinian and Israeli People, hlm. 25.

[4] Ibid.

[5] https://www.middleeastmonitor.com/20200704-israel-tv-hamas-fatah-cooperation-against-deal-of-the-century-a-dangerous-development/.

[6] “Palestine have been bombed everyday since UAE – Israel normalisation”, https://www.trtworld.com/magazine/palestinians-have-been-bombed-every-day-since-uae-israel-normalisation-39088 dan “Israel bombs Gaza after rocket fire follow UAE, Bahrain Deals”, https://www.aljazeera.com/news/2020/09/israel-bombs-gaza-rocket-fire-uae-bahrain-signed-deals-200916064518070.html

[7] Disampaikan saat webinar international “14 Tahun Blokade Gaza : Penjara Terbesar di Dunia” yang diselenggarakan oleh Global Woman Coalition for Al Quds and Palestine (GWCQP), tanggal 9 September 2020.

[8] Ismail Numan Telci and Tuba Öztorük Horoz, Military Base in the Foreign Policy of the United Arab Emirates, Insight Turkey, Vol. 20, No.2, The Gulf of the Verge Global Challenges and Regional Dynamics (Spring 2018), diakses pada tanggal 15 Agustus 2020 dalam https://www.jstor.org/stable/26390312?read-now=1&refreqid=excelsior%3A37961c326a83c890c0dc6270e6d13dd7&seq=1#page_scan_tab_contents

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas