Ratusan pemukim Israel berhaluan sayap kanan melakukan aksi long march menuju perbatasan Gaza pada Rabu (30/7) sambil membawa bendera Israel dan spanduk oranye bertuliskan “Gush Katif”—merujuk pada blok permukiman Israel yang dibongkar pada 2005 oleh Israel. Mereka menyerukan kembalinya permukiman Yahudi di Jalur Gaza dengan slogan seperti “Gaza milik kami selamanya!”
Aksi ini dipimpin oleh aktivis garis keras Daniella Weiss (79), mantan walikota pemukiman Kedumim di Tepi Barat. Ia mengklaim ada 1.000 keluarga yang siap tinggal di Gaza, bahkan jika harus memulai dengan tenda. “Kami siap pindah bersama anak-anak kami ke wilayah Gaza sekarang juga. Kami percaya ini adalah jalan menuju ketenangan dan akhir bagi Hamas,” ujarnya.
Para peserta aksi berjalan dari Kota Najd (Sderot) ke titik pengamatan Asaf Siboni yang menghadap reruntuhan Beit Hanun. Dari sana, mereka bisa melihat langsung kehancuran di Gaza akibat perang yang telah berlangsung selama hampir 22 bulan, dengan lebih dari 60.000 warga Palestina dilaporkan terbunuh menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Sebagian besar wilayah Gaza kini telah luluh lantak akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023.
Meski secara resmi pemerintah Israel menyatakan bahwa operasi militer di Gaza bertujuan untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan sandera, bukan untuk membangun kembali permukiman, para pemukim garis keras melihat adanya peluang politik. Mereka mengaku telah berdialog dengan anggota koalisi pemerintah sayap kanan dan berharap adanya peluang untuk mewujudkan agenda rekolonisasi Gaza—meskipun hal ini dianggap ilegal dalam hukum internasional.
Semangat mereka semakin meningkat setelah Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, dalam pidatonya di Museum Gush Katif, menyatakan: “Ini lebih dekat dari sebelumnya. Gaza adalah bagian yang tak terpisahkan dari tanah Israel. Saya tidak ingin kembali ke Gush Katif yang dulu karena terlalu kecil. Gaza saat ini memungkinkan kita berpikir untuk (merampas wilayah) lebih besar.”
Seorang peserta aksi, Sharon Emouna (58), mengatakan, “Tanah Israel dijanjikan kepada bangsa Yahudi, dan kami berhak tinggal di sana.” Ia juga menambahkan bahwa jika orang Palestina ingin tetap tinggal di Gaza, mereka akan mendapatkan manfaat dari hidup berdampingan dengan para pemukim.
Meskipun demikian, militer Israel masih memblokir jalur masuk ke Gaza. Para pemukim hanya bisa memandang dari kejauhan siluet reruntuhan rumah-rumah Palestina—dan membayangkan tanah itu akan menjadi rumah mereka kembali.
Sumber:
https://www.al-monitor.com/originals/2025/07/ours-forever-would-be-israeli-settlers-march-gaza
https://www.middleeasteye.net/live-blog/live-blog-update/israeli-settlers-march-gaza-chanting-gaza-ours-forever?nid=425676&topic=Israel%2527s%2520war%2520on%2520Gaza&fid=546819








