Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Dr. Munir Al-Bursh, mengungkapkan pada Ahad (28/12) bahwa terjadi lonjakan signifikan kasus keguguran serta penurunan tajam angka kelahiran di Jalur Gaza. Jumlah kelahiran bulanan tercatat turun sekitar 40 persen dibandingkan tahun lalu, dari sekitar 26.000 menjadi hanya 17.000 kelahiran.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh kondisi hidup yang semakin buruk bagi perempuan hamil, termasuk kekurangan gizi yang meluas akibat blokade Israel terhadap masuknya suplemen dan kebutuhan nutrisi penting. Al-Bursh juga menyoroti meningkatnya kasus bayi dengan berat lahir rendah sebagai dampak langsung dari malnutrisi ibu hamil.
Selain itu, Israel disebut secara langsung menargetkan layanan kesehatan reproduksi. Pengeboman terhadap Pusat Fertilitas Al-Basma mengakibatkan hancurnya fasilitas penyimpanan nitrogen dan musnahnya sekitar 4.000 embrio yang telah dibuahi, menjadi pukulan besar bagi kesehatan reproduksi di Gaza.
Situasi ini terjadi di tengah agresi genosida Israel terhadap Gaza sejak 7 Oktober 2023, yang mencakup pembunuhan massal, kelaparan, penghancuran infrastruktur, pengungsian paksa, dan penahanan sewenang-wenang, meski bertentangan dengan seruan internasional serta perintah Mahkamah Internasional.
Hingga kini, lebih dari 239.000 warga Palestina dilaporkan terbunuh atau terluka, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Selain itu, terdapat lebih dari 11.000 orang dilaporkan hilang, ratusan ribu mengungsi, di samping kelaparan yang direkayasa Israel telah merenggut banyak nyawa, terutama anak-anak. Banyak kota dan permukiman di Gaza hancur atau terhapus.
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza tetap berada dalam situasi yang sangat buruk.
Sumber:
MEMO, Palinfo








