Juru Bicara PBB pada Rabu (3/12) mendesak pembukaan penuh Perlintasan Rafah untuk bantuan kemanusiaan dan pergerakan warga sipil, di tengah laporan simpang siur dari Israel dan Mesir mengenai kemungkinan dibukanya kembali akses vital tersebut. Stephane Dujarric menyatakan bahwa PBB menyadari adanya pernyataan yang saling bertentangan yaitu Israel mengisyaratkan Rafah akan segera dibuka, sementara Mesir membantah adanya koordinasi tersebut.
“Kami melihat laporan yang saling bertentangan,” ujar Dujarric. Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan adalah pembukaan penuh Perlintasan Rafah untuk memasukkan bantuan kemanusiaan, memungkinkan pergerakan pekerja kemanusiaan, serta memberi kebebasan bagi warga Palestina yang ingin keluar atau kembali ke Gaza tanpa tekanan apa pun.
Dujarric menyebutkan bahwa pembukaan kembali Rafah sepenuhnya bergantung pada koordinasi antara Israel dan Mesir, namun kepentingan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama. OCHA, katanya, terus menerima laporan mengenai serangan udara, penembakan, dan operasi militer Israel yang menyebabkan semakin banyak korban sipil, pengungsian, serta kerusakan di Jalur Gaza.
Ia mengakui situasi saat ini “lebih baik” dibanding sebelum pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Hamas, tetapi menekankan bahwa situasi yang “lebih baik” itu tetap berada dalam rentang kondisi “mengerikan” hingga “sangat menantang.”
Perlintasan Rafah sejatinya dijadwalkan dibuka kembali pada Oktober lalu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, namun kenyataannya masih ditutup karena Israel tidak mematuhi perjanjian tersebut. Sejak Mei 2024, Israel juga memblokir pergerakan warga Palestina melalui Rafah, satu-satunya pintu Gaza ke dunia luar yang sebelumnya tidak berada di bawah kendali Tel Aviv.
Menanggapi terbunuhnya dua anak Palestina dalam serangan drone Israel di Gaza selatan pada Sabtu lalu, Dujarric menyebut kejadian itu “sangat mengerikan.” Ia mempertanyakan bagaimana dua anak lelaki berusia 8 dan 10 tahun bisa dianggap sebagai ancaman, dan menegaskan perlunya investigasi serta akuntabilitas. Area yang menjadi sasaran serangan tersebut berada dalam zona yang masih diduduki tentara Israel meski telah ada gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober.
Sumber:
AA, MEMO








