Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (3/09) memperingatkan gelombang pengungsian baru secara besar-besaran serta memburuknya kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza akibat terus meningkatnya agresi Israel.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyampaikan bahwa rencana pendudukan total Kota Gaza menimbulkan dampak kemanusiaan yang mengerikan bagi warga yang tinggal di lokasi pengungsian, termasuk mereka yang sebelumnya telah terusir dari Gaza utara. “Banyak keluarga tidak dapat berpindah karena biaya yang tinggi dan tidak adanya tempat aman untuk dituju. Situasi ini terutama berdampak pada lansia dan penyandang disabilitas,” ujarnya dalam konferensi pers.
Menurut data mitra kemanusiaan PBB, sepanjang 14–31 Agustus tercatat lebih dari 82.000 pengungsian baru, termasuk hampir 30.000 perpindahan dari utara ke selatan Gaza. Kondisi di lokasi pengungsian digambarkan sangat memprihatinkan, penuh sesak, dipenuhi puing dan sampah, serta diperparah oleh suhu udara tinggi yang memicu kondisi tidak higienis, sehingga menimbulkan wabah tikus dan serangga. Situasi ini meningkatkan risiko kesehatan, terutama pada anak-anak yang mulai menderita penyakit kulit.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa dari 16 misi kemanusiaan yang dikoordinasikan dengan otoritas Israel, lima mengalami penundaan sangat lama sebelum mendapat izin bergerak, termasuk upaya untuk mengambil pasokan bantuan di perbatasan. Meski ada hambatan, tim PBB berhasil menyalurkan bantuan berupa obat-obatan dan bahan bakar dari Perlintasan Karem Abu Salem (Kerem Shalom). Namun, dua misi yang bertujuan mengambil bantuan pangan hanya berhasil sebagian, sementara tiga lainnya terpaksa dibatalkan.
Sumber:
Anadolu Agency, MEE







