Pasukan Israel memperketat pengepungan di sekitar Jabalia di Gaza utara pada Senin (14/10) hingga membunuh sedikitnya 10 orang yang sedang antre makanan, menurut petugas medis Palestina.
Jabalia telah menjadi fokus serangan Israel selama sekitar 10 hari dan militer Israel kini telah mengepung kamp tersebut dan mengirim tank ke Kota Beit Lahiya dan Beit Hanoun di dekatnya. Pengepungan tersebut menurut mereka ditujukan untuk membasmi pejuang Hamas yang mencoba kembali ke sana.
Jabalia adalah rumah bagi salah satu dari delapan kamp pengungsi bersejarah di Jalur Gaza. Seiring berlanjutnya operasi tersebut, orang-orang di sana terjebak di antara tuntutan Israel untuk pindah ke selatan dan seruan Hamas untuk tidak pergi karena terlalu berisiko untuk melakukannya.
“Kami diserang dari udara dan darat, tanpa henti selama sepekan. Mereka ingin kami pergi, mereka ingin menghukum kami karena menolak meninggalkan rumah kami,” kata Marwa, 26 tahun, yang pergi bersama keluarganya ke sebuah sekolah di Kota Gaza. Orang-orang takut mereka tidak akan pernah bisa kembali jika mereka menuju selatan, katanya.
Kantor hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan bahwa militer Israel tampaknya ingin memisahkan Gaza bagian utara sepenuhnya dari wilayah lainnya di Jalur Gaza.
“Pemisahan wilayah Gaza bagian utara menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut bahwa Israel tidak berniat mengizinkan warga sipil kembali ke rumah mereka. Seruan berulang kali agar semua warga Palestina meninggalkan bagian utara juga menimbulkan kekhawatiran serius akan pemindahan paksa penduduk sipil dalam skala besar,” kata kantor tersebut dalam sebuah pernyataan.
Sepuluh orang, termasuk perempuan dan anak-anak meninggal dan 40 lainnya terluka akibat penembakan tank pada Senin (14/10) di Jabalia, kata petugas medis Palestina. Sementara itu, delapan orang lainnya terbunuh dalam insiden terpisah di distrik Sheikh Radwan, Kota Gaza.
PBB menggambarkan kondisi mengerikan yang dialami warga sipil yang tersisa di Jabalia, tempat lebih dari 50.000 orang telah mengungsi, sementara sumur air, toko roti, pos medis, serta tempat penampungan telah ditutup paksa. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Senin mengecam tingginya jumlah korban sipil di Gaza bagian utara.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








