Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkapkan pada Rabu (25/06) bahwa mereka hanya berhasil menyalurkan 9.000 ton bantuan makanan ke Jalur Gaza sejak 19 Mei lalu. Jumlah ini, menurut WFP dalam unggahan di platform X (Twitter), “bahkan tidak mencukupi untuk kebutuhan pangan satu hari bagi seluruh penduduk Gaza yang terkepung.”
WFP menyatakan kesiapan untuk meningkatkan operasi kemanusiaan di wilayah tersebut, namun menegaskan bahwa hal itu sangat bergantung pada jaminan akses yang aman serta perbaikan kondisi di lapangan, agar tim mereka dapat bekerja secara efektif.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza, tempat lebih dari dua juta penduduk Palestina menghadapi kelaparan, kehausan, dan kekurangan obat-obatan akibat blokade ketat dan serangan militer Israel yang terus berlangsung.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers pada hari yang sama juga menyampaikan peringatan bahwa operasi militer Israel di Gaza telah menimbulkan dampak yang menghancurkan bagi warga sipil.
“Rekan-rekan kami di Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa operasi militer Israel, termasuk pengeboman dan penembakan di seluruh wilayah Gaza, terus menimbulkan dampak mengerikan bagi warga sipil, yang dilaporkan menyebabkan puluhan orang terbunuh dan terluka—banyak di antaranya hanya sedang berusaha mencari bantuan,” kata Dujarric.
Ia juga menambahkan bahwa otoritas Israel masih membatasi pengiriman bahan bakar ke Gaza, yang secara efektif telah melumpuhkan layanan-layanan penting yang menyelamatkan jiwa, terutama bagi warga yang paling rentan.
Pada Selasa, PBB dan mitra-mitranya berupaya mengoordinasikan 15 misi kemanusiaan di dalam Gaza, namun hanya empat yang diizinkan sepenuhnya oleh otoritas Israel. Tujuh misi ditolak total, termasuk pengiriman air, evakuasi truk rusak, dan perbaikan jalan. Empat misi lainnya sempat disetujui, namun dihalangi di lapangan, dan hanya satu yang berhasil diselesaikan. Satu misi lainnya dibatalkan oleh penyelenggara karena kondisi yang tidak memungkinkan.
“Kami telah sangat vokal, transparan, dan lantang menyuarakan penderitaan rakyat Gaza,” tegas Dujarric.
Namun, meski mendapat tekanan internasional untuk menghentikan kekerasan, Israel tetap melanjutkan ofensif brutal di Gaza sejak Oktober 2023, yang telah membunuh lebih dari 56.100 warga Palestina, mayoritas merupakan perempuan dan anak-anak.
Sumber:
https://www.#/20250625-palestinian-child-killed-by-israeli-army-during-west-bank-raid/
WFP: Aid delivered to Gaza since May less than one day’s needs for the population








