Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat melaporkan bahwa ketakutan terbesar bagi Gaza akhirnya terjadi setelah Israel secara tiba-tiba kembali melancarkan serangan udara mematikan terhadap wilayah tersebut.
“Semalam, ketakutan terburuk terwujud,” kata Tom Fletcher dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB. “Serangan udara kembali berlangsung di seluruh Jalur Gaza dengan laporan sementara bahwa ratusan orang telah terbunuh. Pasukan Israel mengeluarkan perintah evakuasi baru. Sekali lagi, rakyat Gaza hidup dalam ketakutan yang luar biasa. Kemajuan kecil yang dicapai selama gencatan senjata kini hancur.”
Fletcher juga mengecam keputusan Israel untuk memutus pasokan bantuan kemanusiaan sejak 2 Maret. Sejak saat itu, otoritas pendudukan melarang masuknya semua kebutuhan mendesak, termasuk makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan gas untuk memasak bagi 2,1 juta penduduk Gaza.
“Permintaan kami berulang kali untuk mengambil bantuan yang tertahan di perbatasan Karim Abu Salim (Kerem Shalom) juga secara sistematis ditolak,” tambahnya.
Pejabat senior PBB itu memperingatkan bahwa blokade total terhadap bantuan kemanusiaan dan barang-barang esensial, “akan menjadi bencana bagi rakyat Gaza yang sangat bergantung pada bantuan.”
Dampak Gencatan Senjata yang Terhenti
Fletcher menekankan bahwa selama 42 hari gencatan senjata, bantuan kemanusiaan dapat disalurkan secara efektif dan cepat. Ia mencatat bahwa selama periode tersebut, sebanyak 30 sandera Israel dan 583 tawanan Palestina dibebaskan dan lebih dari 4.000 truk bantuan masuk ke Gaza setiap pekan.
Sementara itu, ia juga menyoroti situasi yang memburuk di Tepi Barat yang diduduki, dengan setidaknya 95 warga Palestina, termasuk 17 anak-anak, telah terbunuh sejak awal tahun 2025.
“Sekitar 40.000 warga Palestina telah mengungsi akibat operasi militer Israel, termasuk dari kamp-kamp pengungsi dan kota-kota di Tepi Barat,” ungkapnya, menggambarkan kehancuran luas yang terjadi di wilayah tersebut.
Pada Selasa dini hari, tentara Israel menggempur Jalur Gaza, membunuh sedikitnya 404 orang dan melukai ratusan lainnya, meskipun perjanjian gencatan senjata yang dimulai pada 19 Januari, masih berlaku.
Beberapa foto yang beredar menunjukkan bahwa mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, yang rumah-rumahnya hancur akibat serangan udara Israel pada malam hari.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








