Pemukim Israel dari Ma’ale Adumim, sebuah permukiman ilegal Zionis Israel di Al-Quds (Yerusalem), telah terbukti mengoordinasikan berbagai inisiatif kejahatan melalui grup WhatsApp. Dari isi pembahasannya, grup tersebut bertujuan untuk mengurangi kehadiran warga Palestina di kota Al-Quds. Menurut The Times of Israel, upaya ini termasuk memboikot dan mengintimidasi bisnis yang melayani warga Palestina yang memiliki izin kerja.
Sebuah kelompok pengawas Israel, Fake Reporter, merupakan pihak pertama yang mendeteksi grup WhatsApp bernama “Restoring Security”. Grup tersebut berada di bawah kendali Shiran Mirzai dan Moti Peretz, yang mencalonkan diri sebagai kandidat dalam pemilihan dewan kota mendatang mewakili Otzma Yehudit, partai yang dipimpin oleh kelompok ekstrimis Menteri Israel sayap kanan, Itamar Ben-Gvir.
Salah satu pesan di grup WhatsApp tersebut mengeluhkan tentang gym yang mereka katakan “diIslamkan” karena digunakan oleh orang Arab. Menyusul tekanan dari kelompok pemukim, gym tersebut mengumumkan bahwa mereka akan membatasi keanggotaan hanya untuk pemukim dari permukiman Ma’ale Adumim.
Selain itu, anggota lain menyatakan kemarahannya terhadap laman Facebook pusat perbelanjaan setempat. Penyebabnya, pusat perbelanjaan tersebut memuat terjemahan bahasa Arab karena banyaknya pekerja Palestina. Beberapa pengguna memperingatkan bahwa hal itu dapat menyebabkan boikot terhadap produk toko tersebut. Mereka juga menyebut warga Palestina sebagai “tikus”.
Menurut The Times of Israel, ketika dikonfrontasi oleh pewawancara yang menyamakan retorika Nazi terhadap orang Yahudi, Mirzai dan Peretz menolak hubungan apa pun antara tindakan mereka dengan tuduhan tersebut. “Tidak ada rasisme di pihak kami. Ini hanya kekhawatiran bagi kota kami,” kata Mirzai.
Selain itu, peserta lain dalam grup tersebut mengancam akan mengungkapkan identitas instruktur mengemudi yang mengangkut pelajar Palestina dari Al-Azariya, yang dikenal sebagai Area E1, Timur Yerusalem di Tepi Barat ke permukiman ilegal Israel.
Pengguna tersebut berkata, “Mereka yang lebih peduli pada uang daripada kota kita akan terluka di tempat yang paling menyakitkan.”
Achiya Schatz, CEO Fake Reporter, menyatakan bahwa temuan mereka di Ma’ale Adumim mengungkap salah satu organisasi paling kejam yang pernah mereka temui. Dia berkata, “Apa yang kami temukan di Ma’ale Adumim adalah salah satu organisasi paling terang-terangan dan kejam yang pernah kami lihat dalam waktu lama.”
Dia menambahkan bahwa kelompok ini, yang terdiri dari ratusan anggota, mengatur tindakan balas dendam terhadap bisnis dan individu tertentu di kota tersebut karena interaksi mereka dengan orang Arab. Lebih parah lagi, ternyata kelompok serupa juga aktif di kota lain, seperti Ramle dan Lod.
Permukiman Ma’ale Adumim telah berkembang sejak 1975; sekarang menjadi rumah bagi lebih dari 37.000 pemukim ilegal Israel.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








