Pantai Melayu, Batu Besar, Batam, Kepulauan Riau (Kepri) tercemar limbah minyak hitam sejak Rabu (3/5). Ini bukan kali pertama pencemaran pantai terjadi, melainkan selalu terjadi setiap tahun. Masyarakat setempat berharap para pemangku kepentingan terkait dapat menyelesaikan permasalahan berulang tersebut. Sebab, kejadian itu sangat berdampak pada aktivitas warga, terutama nelayan yang hendak melaut. Walaupun kondisi pantai mulai dibersihkan, warga mengeluhkan bau menyengat yang masih tercium.
Salah satu warga Batam yang juga pengunjung Pantai Melayu, Eko (25 tahun) bercerita telah mengunjungi Pantai Melayu pada Sabtu (6/5) pagi. Belum sampai ke bibir pantai, dia mengaku sudah mencium bau menyengat, bahkan bisa tercium hingga ke parkiran kendaraan yang jaraknya sekitar 5–10 meter dari tepi pantai.
Seorang nelayan bernama Baso mengatakan bahwa tercemarnya Pantai Melayu oleh limbah minyak telah terjadi berulang kali, tapi kali ini adalah yang terparah. “Sebenarnya tiap tahun terjadi, cuma ini paling parah, tebalnya (limbah minyak hitam) hingga 3 inci. (Sumber limbah) berasal dari kapal”. Pencemaran tersebut telah mematikan kegiatan ekonomi di kawasan destinasi wisata tersebut. “Semua kena dampak. Bukan hanya nelayan, pedagang tidak bisa jualan, tukang parkir (pemasukannya) sepi, restoran sepi gara-gara bau jadi orang tidak mau datang,” ujar dia. Padahal bulan-bulan seperti saat ini seharusnya jadi waktu yang tepat bagi para nelayan untuk menjaring ikan sebanyak-banyaknya.
Berdasarkan informasi kelompok pengawas masyarakat (Pokmaswas) kawasan Nongsa pencemaran limbah saat ini sangat merugikan para nelayan yang kini jumlahnya mencapai ratusan orang, yang tergabung dalam 11 kelompok dengan masing-masing kelompoknya beranggotakan 11 hingga 15 orang. Para nelayan berharap ada kompensasi dari pemerintah maupun pihak terkait atas kejadian itu. Baso mengungkapkan bahwa pembersihan memang telah dilakukan dalam beberapa hari terakhir ini sejak limbah itu menghantam kawasan pesisir.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan sudah menurunkan tim Penegakan Hukum (Gakkum) ke Pantai Melayu untuk mendalami temuan limbah dan menelusuri asal limbah tersebut. Kebakaran tanker di perairan Malaysia pekan lalu sempat diduga sebagai penyebab, tapi dugaan itu belum terkonfirmasi.
Tim Penegakan Hukum (Gakkum) Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam juga menyatakan belum dapat menemukan pelaku atau pihak yang melakukan pembuangan limbah minyak hitam di perairan Pantai Melayu. Ketua Tim Gakkum KSOP Rahmat Nasution mengatakan, timnya masih melakukan penelusuran mengenai temuan karung-karung yang berisikan limbah minyak yang diduga menjadi sumber pencemaran di kawasan pantai di Nongsa, Batu Besar, tersebut.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








