Warga Palestina di seluruh Tepi Barat, Jalur Gaza, dan wilayah Palestina jajahan Israel diperkirakan pada Jumat (31/3) akan menandai peringatan 47 tahun Hari Tanah. Hari Tanah adalah waktu ketika enam warga Palestina dibunuh oleh pasukan Israel saat berdemonstrasi menentang perampasan tanah mereka pada 1976. Selama 47 tahun terakhir, warga Palestina telah memperingati insiden mematikan itu dengan mengadakan pawai di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan desa-desa Arab di seluruh wilayah Palestina jajahan Israel.
Pada tanggal 30 Maret 1976, ribuan warga Palestina di wilayah utara Galilea berdemonstrasi menentang penyitaan atas sebagian besar tanah Arab oleh Israel, mendorong pasukan Israel untuk menggunakan kekuatan mematikan, menewaskan enam warga Palestina. Demonstrasi pertama dimulai di kota Deir Hanna, dan ditanggapi dengan kebrutalan berat oleh polisi Israel. Ini diikuti oleh protes lebih lanjut di kota Arrabeh, di wilayah Galilea, mengakibatkan satu warga Palestina tewas dan puluhan lainnya terluka oleh pasukan Israel.
Pembunuhan di luar hukum memicu demonstrasi yang meluas dan bentrokan keras dengan pasukan Israel di sejumlah kota dan desa Arab lainnya, ketika pasukan menembak dan membunuh enam warga Palestina. Hari Tanah memiliki makna khusus bagi warga Palestina karena ini adalah pertama kalinya sejak 1948 warga Palestina di “Israel” menyelenggarakan respons kolektif terhadap kebijakan Israel. Itu ditandai tidak hanya oleh orang Palestina di dalam sejarah Palestina, tetapi juga oleh orang Palestina di seluruh dunia.
Dalam memperingati Hari Tanah, Kementerian Urusan Perempuan Palestina menanam bibit zaitun bersama para perempuan petani Palestina di perbatasan timur Kota Gaza pada Kamis (30/3). Kegiatan ini dilaksanakan dengan bekerjasama dengan Asosiasi Insinyur Pertanian dan Departemen Urusan Pengungsi.
Amira Haroun, Wakil Menteri Urusan Perempuan, ikut menanam zaitun bersama para petani wanita. Ia menegaskan dalam pidatonya bahwa perampasan tanah Palestina tidak berakhir pada 30 Maret 1976, melainkan masih berlanjut hingga hari ini. Ia menekankan bahwa semua hari di Palestina adalah ” Hari Tanah”, sebab setiap hari pemerintah pendudukan rasis terus menyita tanah Palestina, membangun permukiman, menghancurkan rumah, dan menggusur penduduk.
Haroun berkata, “Kami datang untuk memperingati hari ini di perbatasan yang akan segera hilang. Perempuan dan laki-laki bersama bergandengan tangan, terutama perempuan petani, bersama dengan saudara laki-laki mereka, berada di tempat pertama garis pertahanan. Mereka menggarap tanah ini dengan pengorbanan keringat dan darah mereka, untuk membuktikan kepatuhan rakyat Palestina untuk kembali dan menghapus pendudukan.”
Sumber:
https://internasional.republika.co.id
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








