Perang Israel-Amerika dengan Iran yang menjadi dalih Israel untuk menutup Masjid Al-Aqsa dan mengisolasi Kota Al-Quds, nyatanya juga berdampak terhadap Tepi Barat dan Gaza. Ketika mata dunia teralihkan ke arah eskalasi terbaru, Israel menjadikan momentum itu untuk semakin mengacaukan wilayah Palestina. Kondisi ini menciptakan dampak ganda yang melumpuhkan bagi warga sipil; di satu sisi, Tepi Barat menghadapi isolasi ketat melalui penutupan akses yang mematikan nadi ekonomi, sementara di sisi lain, Gaza kian terpuruk akibat hambatan distribusi bantuan kemanusiaan akibat penutupan penyeberangan Rafah.
Dinamika “perang besar” ini secara sistematis mengaburkan kedaulatan lokal, mengubah wajah pendudukan di Tepi Barat, dan memperpanjang penderitaan di Gaza melampaui batas-batas kemanusiaan. Sejak dimulainya serangan terhadap Iran, Israel telah meningkatkan serangan dan penangkapan terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Desa Faqqu’a yang terletak di sebelah timur Jenin, diserbu, dijarah, dan dirampok, sementara penduduknya dipaksa untuk mengungsi guna memberi jalan bagi tentara Israel untuk menggunakannya sebagai barak militer. Selain itu, selama enam hari sejak Al-Aqsa ditutup, Israel telah menahan setidaknya 100 orang dari Tepi Barat.
Serangan pemukim kolonial yang semakin intensif turut memperburuk situasi di Tepi Barat, sebagaimana dilaporkan oleh kelompok hak asasi manusia dan para pengamat internasional. Pada 6 Maret, kelompok Hak Asasi Israel, B’Tselem menyatakan bahwa di bawah bayang-bayang perang, kerja sama antara militer dan milisi pemukim Israel semakin memperdalam pembersihan etnis di Tepi Barat.
B’Tselem melaporkan bahwa para pemukim sengaja menggembalakan ternak di ladang yang ditanami warga Palestina, merusak tanaman dan persediaan makanan, mencuri ternak, serta merusak panel surya dan tangki air. Pembunuhan terhadap penduduk Palestina yang dilakukan para pemukim Israel pun mengalami peningkatan. Semua ini terjadi tanpa adanya tindakan hukum yang tegas dari otoritas keamanan Israel, yang sering kali justru hadir di lokasi kejadian namun membiarkan kekerasan tersebut berlangsung.
Sementara itu di Gaza, segera setelah Perang Israel-AS dan Iran meletus, hanya beberapa pekan setelah dibuka kembali berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, Israel kembali menutup penyeberangan Rafah dengan Mesir “sampai pemberitahuan lebih lanjut”. Kini Penyeberangan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) menjadi satu-satunya rute pergerakan barang untuk masuk dan keluar Gaza, itu pun dalam jumlah sangat terbatas.
Penutupan penyeberangan Rafah meningkatkan kekhawatiran mengenai akses bantuan yang dapat masuk ke Gaza, terlebih lagi setelah Israel melarang puluhan organisasi kemanusiaan, termasuk Oxfam dan Médecins Sans Frontières (MSF), untuk beroperasi di wilayah Palestina karena mereka menolak untuk bekerja sama dengan aturan pemeriksaan baru yang akan memaksa mereka untuk memberikan daftar staf serta informasi pribadi mereka.
Tepi Barat: isolasi dan peningkatan perampasan tanah

Dampak langsung dari perang ini terlihat jelas melalui taktik isolasi ketat yang diterapkan Israel di Tepi Barat dengan alasan keamanan nasional, yang mengakibatkan kelumpuhan akses ekonomi dan mobilitas warga sipil. Sebagai contoh, tentara Israel memasang gerbang besi baru di jalan antara Kota Deir Jarir dan Silwad, timur laut Ramallah.
Silwad merupakan kota yang sangat penting di Tepi Barat, berfungsi sebagai pusat komersial dan administratif yang melayani 12 desa Palestina. Sejak tentara Israel memblokir sebagian besar jalan pada Oktober 2023, Silwad telah menjadi satu-satunya jalan bagi sekitar 28.000 warga Palestina untuk mencapai Ramallah. Pemasangan gerbang besi baru di Silwad ini semakin memisahkan setiap kota dan desa Palestina yang tentu akan sangat mengganggu pergerakan dan aktivitas ekonomi warga.
Israel juga mengumumkan penutupan semua pos pemeriksaan di seluruh Tepi Barat, termasuk pos pemeriksaan Zaatara, yang terletak di tengah antara Ramallah dan Nablus di utara, serta pos pemeriksaan “Kontainer” antara Ramallah dan Betlehem di selatan. Pos-pos pemeriksaan ini adalah simpul utama yang menghubungkan tiga wilayah utama Tepi Barat — utara, tengah, dan selatan. Penutupan pos-pos ini telah menutup rapat kota-kota di Tepi Barat, sementara daerah pedesaan diblokir melalui pengetatan ratusan pos pemeriksaan ilegal dan gerbang besi, seperti yang ada di sekitar Silwad.
Di Desa Duma, sebelah timur Ramallah, tentara dan pemukim telah memblokir satu-satunya jalan keluar. Warga tidak dapat keluar bahkan dengan berjalan kaki atau berpindah denngan kendaraan — cara umum yang dilakukan di gerbang-gerbang lain yang diblokir di seluruh Tepi Barat.
“Tentara mencegah para pekerja, anak-anak, dan orang sakit untuk masuk dan keluar,” kata Walikota Duma, Hussein Dawabsheh. “Pada Senin (2/3), kami mencoba mengoordinasikan evakuasi seorang pasien berusia 88 tahun, tetapi (tentara) menolak. Desa ini dikelilingi oleh pemukim, jadi tidak mungkin untuk keluar dengan berjalan kaki.” Ia menambahkan bahwa Israel juga melarang masuknya gas untuk memasak dan pasokan makanan. Toko-toko kosong dan kegiatan ekonomi pada Ramadan ini menjadi sangat terganggu.
Langkah lebih lanjut yang diterapkan Israel untuk mencaplok Tepi Barat adalah dengan mendorong proses pendaftaran tanah di Tepi Barat yang diduduki sebagai “milik negara”. Perang Israel-As dan Iran ini secara jelas dijadikan momentum untuk merealisasikan kampanye pencaplokan Tepi Barat yang pada akhir tahun lalu semakin digalakkan oleh pemerintah sayap kanan Israel. Mereka berulang kali menyerukan penerapan kedaulatan Israel di Tepi Barat dan pembubaran total Otoritas Palestina.
Menteri ekstremis sayap kanan Bezalel Smotrich kemudian segera meluncurkan proposal agar Israel mencaplok 82 persen Tepi Barat dalam upaya untuk mencegah terbentuknya negara Palestina. Tidak lama kemudian, saat menandatangani perjanjian untuk melanjutkan rencana perluasan permukiman yang kontroversial, Netanyahu menyatakan bahwa “tidak akan ada negara Palestina; tempat ini milik kami.”
Pemukim kolonial semakin melenggang bebas

Bersamaan dengan isolasi oleh Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat, para pemukim Israel terus melenggang, meningkatkan serangan mereka terhadap komunitas Palestina. Menurut kelompok HAM Israel, Yesh Din, setidaknya ada 109 insiden kekerasan terpisah oleh pemukim Israel yang didokumentasikan di 62 komunitas Palestina yang berbeda selama sepuluh hari pertama perang. Hampir dalam setiap kasus, para pemukim beroperasi dengan dukungan tentara Israel — beberapa di antaranya adalah pemukim yang mengenakan seragam militer.
Para pemukim sering kali menyerbu permukiman warga dengan senjata api, yang mengakibatkan luka-luka serius hingga kematian penduduk sipil. Serangan-serangan ini tidak lagi berupa gesekan kecil, melainkan telah menjadi teror harian yang menargetkan nyawa manusia di bawah perlindungan atau pembiaran dari otoritas keamanan setempat. Menurut media pemerintah Palestina, WAFA, selama pekan pertama perang, antara 28 Februari dan 8 Maret 2026, Tepi Barat menyaksikan peningkatan kekerasan pemukim hampir 25% dibandingkan dengan periode sebelum pecahnya konfrontasi militer Israel-Amerika dengan Iran.
Di Desa Al-Mughayyir, timur laut Ramallah. Dalam serangan besar-besaran, seorang pemuda Palestina dilaporkan terbunuh dan puluhan lainnya luka-luka akibat tembakan peluru tajam saat para pemukim menyerbu permukiman warga. Serangan serupa namun lebih mematikan terjadi di Desa Abu Falah ketika puluhan pemukim dari pos depan (outpost) Or Nahman menyerbu desa tersebut.
Para penyerang, yang sebagian menggunakan penutup wajah dan bersenjata pentungan serta senjata api, meluncurkan serangan yang telah direncanakan. Ketika warga berusaha keluar untuk melindungi rumah mereka, kelompok pemukim tambahan datang sebagai “bala bantuan” dan mulai melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah warga sipil yang tidak bersenjata.
Serangan brutal ini mengakibatkan meninggalnya tiga warga Palestina terbunuh. Dua korban, Tha’er Hamayel (30) dan Fara’ Hamayel (57), terbunuh setelah ditembak tepat di bagian kepala. Sementara itu, korban ketiga, Muhammad Hassan (55), meninggal dunia akibat serangan jantung setelah pasukan militer Israel yang datang ke lokasi justru menembakkan gas air mata ke arah desa. Selain korban jiwa, enam warga lainnya dilaporkan terluka, empat di antaranya akibat peluru tajam.
Bagi warga setempat, serangan ini adalah yang paling keras dibandingkan insiden-insiden sebelumnya dan dianggap sebagai upaya sistematis untuk merebut kendali atas lahan pertanian warga. Mereka melaporkan bahwa ribuan hektar lahan milik desa kini tidak bisa diakses karena ancaman kekerasan dari pemukim bersenjata.
Lebih jauh lagi, pemukim kolonial Israel juga melakukan kekerasan seksual kepada warga Palestina. Di Lembah Yordan bagian utara, puluhan pemukim menyerbu Khirbet Humsa pada akhir pekan lalu. Saksi mata mengatakan bahwa para pemukim melecehkan seorang pria Palestina di hadapan keluarganya, memukuli para perempuan, termasuk remaja dan anak-anak di dalam komunitas tersebut.
Korban tertua, seorang pria berusia 74 tahun, mengatakan kepada Haaretz, “Tiga orang memukuli kepala, tangan, dan perut saya dengan keras. Yang lainnya menghancurkan kamera keamanan, router, dan lampu. Saya mulai kehilangan kesadaran. Mereka menyirami saya dengan air, dan selama itu, seorang pemukim mencuri jam tangan yang saya pakai.”
Mimpi buruk itu berlangsung hingga satu jam. Puluhan pemukim yang menyerbu desa tersebut juga merampok hewan ternak dan barang-barang berharga. Rumah mereka porak poranda, sementara lantai rumah dikotori dengan tumpahan susu dan makanan. Sebelum pergi, pemukim melontarkan ancaman jika komunitas Palestina di Khirbet Humsa tidak segera meninggalkan tanah mereka, para pemukim akan kembali lagi untuk membakar rumah, membunuh anak-anak, dan memerkosa para perempuan.
Ini bukanlah serangan pertama pemukim kolonial di Khirbet Humsa. Akan tetapi, dengan kekebalan hukum yang terus dinikmati para kriminal Israel, intensitas kekerasan dan serangan semakin meningkat di tengah minimnya pengawasan internasional, terlebih lagi di tengah Perang Israel-AS dengan Iran yang kini menjadi pusat perhatian dunia.
Efek domino Gaza: terputusnya nadi kemanusiaan di tengah eskalasi regional

Jika Tepi Barat menghadapi isolasi melalui penutupan jalan dan teror pemukim, Jalur Gaza mengalami dampak yang lebih eksistensial akibat konfrontasi Israel-AS dengan Iran. Di tengah blokade dan basa-basi gencatan senjata, Gaza kini terperangkap dalam “titik buta” kemanusiaan. Akses bantuan internasional kian menyusut, mengancam ketersediaan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan yang selama ini sangat bergantung pada celah sempit diplomasi internasional yang kini kembali tertutup rapat.
Israel secara sepihak menutup penyeberangan perbatasan Rafah, sebuah tindakan yang menandai pelanggaran fatal terhadap perjanjian gencatan senjata. Penutupan jalur vital ini dilakukan tanpa batas waktu dan tanpa kejelasan kapan akan dibuka kembali, yang secara praktis memutus satu-satunya harapan bagi bantuan kemanusiaan untuk masuk ke wilayah yang terkepung tersebut.
Dampak penutupan kembali ini meluas ke sektor kesehatan; warga sipil yang membutuhkan perawatan darurat di luar negeri kini kembali terkunci di dalam Jalur Gaza tanpa akses medis yang memadai. Sejak gencatan senjata diberlakukan, kewajiban internasional untuk mengizinkan masuknya truk bantuan setiap hari telah diabaikan, meninggalkan penduduk Gaza—yang hampir seluruhnya berada dalam pengungsian akibat genosida—terperosok semakin dalam ke jurang kelaparan dan bencana kemanusiaan.
Napas kehidupan di Gaza semakin menipis dan di ambang kolaps total seiring dengan keputusan Israel untuk memblokade masuknya bahan bakar. Direktur Eksekutif UNOPS (Kantor PBB untuk Layanan Proyek), Jorge Moreira da Silva pada 6 Maret melaporkan serangan dari arah laut terhadap sebuah truk kapal tanker UNOPS di Gaza. Meskipun tidak ada korban yang jatuh, kapal tersebut mengalami kerusakan sehingga menghambat masuknya bahan bakar ke Gaza. Da Silva menegaskan bahwa pasokan bahan bakar harus diizinkan secara konsisten agar operasi kemanusiaan dan layanan penting seperti rumah sakit, sistem air dan sanitasi, serta pabrik-pabrik roti, dapat tetap berjalan.
Penutupan penyeberangan dan larangan terhadap bahan bakar untuk memasuki Gaza telah menimbulkan panic buying di seluruh Gaza. Warga yang bertahan dari agresi genosida Israel kini dihantui kekhawatiran akan habisnya stok bahan makanan dalam hitungan hari. Kelumpuhan logistik merembet ke dapur-dapur umum dan badan amal yang selama ini menjadi tumpuan hidup kelompok-kelompok rentan.
Di tengah krisis pangan dan bahan bakar ini, ancaman serangan Israel tetap menjadi kekhawatiran yang paling nyata. Di Bani Suheila, selatan Gaza, dua warga terbunuh setelah ditembak oleh Israel pada 4 Maret. Israel bahkan membunuh sembilan petugas polisi Palestina saat sedang bertugas di Gaza tengah pada Ahad, 15 Maret. Serangan tersebut merupakan salah satu serangan paling mematikan sejak serangan Israel-AS terhadap Iran dimulai. Kematian demi kematian ini mempertegas bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi warga Gaza di tengah pengepungan yang kian mencekik.
Muhammad Daher, seorang penduduk Jabalia yang mengungsi ke Deir al-Balah mengatakan bahwa lingkaran siksaan tanpa akhir yang diciptakan Israel telah membuatnya kelelahan. “Aku sudah sampai pada titik yang membuatku terbiasa dengan semua skenario,” katanya pasrah. “Israel akan mencari dalih apa pun untuk kembali membuat penduduk Gaza kelaparan dan memperdalam krisis kemanusiaan mereka.”
Daher mengatakan bahwa di Gaza, saking langkanya, bahan kebutuhan pokok pun kini dihargai seperti emas. “Aku sudah tidak punya energi lagi untuk menanggung siksaan itu. Biarlah, apa pun yang terjadi, terjadilah,” pungkasnya.
Daher mengatakan bahwa di Gaza, saking langkanya, bahan kebutuhan pokok pun kini dihargai seperti emas. “Aku sudah tidak punya energi lagi untuk menanggung siksaan itu. Biarlah, apa pun yang terjadi, terjadilah,” pungkasnya.
Memanfaatkan celah perang untuk menindas tanpa henti

Pada akhirnya, situasi perang Israel-AS dengan Iran ini bagaikan tabir asap yang digunakan Israel untuk menutup mata dunia dari kejahatan yang terus memperluas penderitaan warga Palestina. Di Tepi Barat, politik apartheid, perampasan tanah, dan teror pemukim merajalela, sementara di Gaza, blokade bantuan digunakan sebagai senjata untuk membunuh lebih banyak nyawa. Terlihat jelas bahwa setiap eskalasi regional selalu menjadi “kesempatan emas” bagi Israel untuk memperketat pendudukan, merusak sumber penghidupan, dan melakukan kekerasan tanpa harus takut akan sanksi global.
Masa depan Palestina kini berada di titik paling kritis. Hak-hak dasar manusia dikorbankan demi agenda perluasan kontrol wilayah. Selama komunitas internasional terus memaklumi dan membiarkan Israel mengeksploitasi momentum eskalasi regional untuk menyiksa dan mengusir penduduk asli dari tanah mereka, maka perdamaian hanyalah omong kosong. Tanpa langkah nyata untuk menghentikan kebrutalan ini, warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat akan terus menjadi sasaran dari kekejaman yang sistematis dan tak berkesudahan. (LMS)
Referensi
https://www.aljazeera.com/features/2026/3/2/not-again-gaza-rushes-to-stockpile-amid-iran-war-crossing-closures
https://www.aljazeera.com/news/2026/3/13/whats-happened-in-gaza-and-the-west-bank-since-the-start-of-the-iran-war
https://www.nbcnews.com/world/middle-east/gaza-palestinians-iran-war-trump-ceasefire-israel-hamas-rcna262959
https://www.dw.com/en/with-focus-on-iran-israeli-settlers-wage-west-bank-violence/a-76331233
https://www.timesofisrael.com/liveblog_entry/ben-gvir-says-he-will-propose-immediate-west-bank-annexation-in-response-to-western-recognition-of-palestine/
https://www.timesofisrael.com/liveblog_entry/settler-attack-on-palestinian-hamlet-included-brutal-sexual-assault-report/
https://www.aljazeera.com/features/2026/3/2/not-again-gaza-rushes-to-stockpile-amid-iran-war-crossing-closures
https://www.972mag.com/israeli-settler-terror-west-bank-iran-war/
https://www.972mag.com/west-bank-closure-israeli-settler-violence-iran/
https://www.unops.org/news-and-stories/news/crisis-response-in-gaza
https://www.pbs.org/newshour/world/israeli-strikes-in-gaza-killed-12-people-including-2-children-and-a-pregnant-woman-hospital-officials-say
https://www.unops.org/news-and-stories/speeches/unops-fuel-tanker-in-gaza-comes-under-fire
https://www.haaretz.com/middle-east-news/palestinians/2026-03-16/ty-article-magazine/.premium/israeli-settlers-sexually-assaulted-palestinian-man-in-jordan-valley-witnesses-say/0000019c-f58f-d9bb-adbc-ff8ff6e80000
https://english.wafa.ps/Pages/Details/168110








