Pelapor Khusus PBB untuk hak atas perumahan layak, Balakrishnan Rajagopal, menyatakan bahwa penghancuran rumah-rumah di Gaza merupakan komponen utama dari genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Rajagopal menyebut tindakan Israel sebagai bentuk “domicide”, yakni pemusnahan besar-besaran terhadap tempat tinggal yang menjadikan wilayah tersebut tidak lagi layak huni.
“Sebanyak 92 persen rumah di Gaza telah hancur,” ujarnya. “Bahkan ketika warga mulai kembali ke Gaza utara, wilayah yang jauh lebih hancur dibanding selatan, yang mereka temukan hanyalah puing-puing.”
Menurutnya, kondisi itu menimbulkan pertanyaan mendasar yaitu di mana mereka bisa tinggal? Apakah wilayah itu masih layak huni? “Jawabannya jelas, “tidak. Dan itulah tujuan Israel menghancurkan segalanya,” tegas Rajagopal.
Ia menekankan bahwa tenda dan karavan harus segera diizinkan masuk ke Gaza untuk menampung ratusan ribu pengungsi yang kehilangan rumah akibat serangan Israel selama dua tahun terakhir.
Rajagopal juga menyoroti dampak psikologis yang mendalam akibat kehancuran rumah dan komunitas di seluruh Gaza. “Rumah bukan sekadar dinding dan atap. Rumah adalah tempat harapan, mimpi, dan kenangan hal-hal yang membuat manusia menjadi manusia,” katanya.
“Ketika rumah-rumah dihancurkan secara massal dan seluruh komunitas dipaksa tercerai-berai, maka hilanglah kemungkinan bagi mereka untuk kembali menjadi manusia seutuhnya.”
Ia menambahkan, proses pemulihan Gaza akan memakan waktu sangat lama, bahkan lintas generasi. “Ini seperti Nakba baru, seperti yang terjadi pada 1948,” ujarnya, merujuk pada pembersihan etnis saat berdirinya Israel. “Apa yang terjadi selama dua tahun terakhir akan meninggalkan luka sejarah yang serupa.”
Sumber: Qudsnen








