• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Berita Kemanusiaan

Pahlawan Tanpa Lencana, Terus Melaporkan Kondisi Gaza Meski Rumahnya Dihancurkan dan Terpisah dengan Keluarga

by Adara Relief International
November 16, 2023
in Berita Kemanusiaan, Hukum dan HAM
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
Pahlawan Tanpa Lencana, Terus Melaporkan Kondisi Gaza Meski Rumahnya Dihancurkan dan Terpisah dengan Keluarga
29
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Di sela-sela laporan langsungnya di TV, Khawla al-Khalidi menyesap air, atau kopi jika tersedia, dan mencari informasi terbaru di ponselnya. Suaminya, Baher, merapikan hijabnya, memberikan kata-kata penyemangat, lalu berdiri di samping kamera saat al-Khalidi bersiap untuk melakukan siaran langsung.

Jurnalis berusia 34 tahun ini, seperti banyak rekannya, tinggal di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa. Lokasi ini telah menjadi kantor darurat karena merupakan salah satu dari sedikit tempat yang masih memiliki jaringan internet. Di tempat ini pula para jurnalis dapat mengisi daya ponsel dan laptop mereka serta perangkat elektronik lainnya.

“Saya selalu menyukai jurnalisme, dan saya sudah berkecimpung di industri ini selama 11 tahun,” kata al-Khalidi. “Saya biasa memproduksi dan menyajikan acara pagi untuk TV Palestina, dan sejak agresi ini dimulai, saya juga diberi kesempatan untuk bekerja di saluran Al Hadath dan Al Arabiya [milik Saudi].”

Al-Khalidi belum berhenti bekerja sejak 8 Oktober, sehari setelah Israel memulai serangannya di Jalur Gaza. Di tengah agresi dan perkembangannya yang terus-menerus, stabilitas dan rutinitas sehari-hari pun diabaikan. Setelah Jalur Gaza diancam dengan serangan udara, ia dan rekan-rekan TV Palestina-nya dievakuasi, dan mulai bekerja dari rumah, melakukan wawancara langsung dengan berbagai saluran melalui telepon.

Suatu malam pada pekan pertama pengeboman, dia sedang melakukan wawancara telepon terakhirnya ketika dia melihat Baher memberi isyarat padanya. Orang-orang Israel akan menargetkan lingkungan mereka, katanya kepada istrinya, dan mereka harus segera pergi. “Kami mendapat pesan yang mengatakan kami harus mengungsi dalam 20 menit,” katanya. “Saya mengakhiri telepon saya dengan memberitahu mereka hal itu, lalu saya berjalan keliling rumah dengan bingung, tidak tahu apa yang harus saya bungkus atau bawa.”

Pasangan tersebut dan keempat anaknya – yang tertua berusia 12 tahun dan yang termuda berusia lima tahun – tinggal selama sekitar satu minggu di rumah orang tua al-Khalidi di Kota Gaza. Di hari kedua, al-Khalidi mendapat kabar bahwa rumahnya, yang telah dibangun bersama suaminya selama 10 tahun, telah hancur.

“Awalnya keluarga saya mencoba mengecilkan masalah ini, dengan mengatakan: ‘Oh, yang terbakar hanya dapurnya,’ atau sebagian rusak karena pecahan peluru,” kenangnya. “Tapi ternyata semuanya hilang.” “Saya menangis, tentu saja, lalu menenangkan diri. Beberapa hari kemudian, saya menangis lagi, lalu menenangkan diri. Saya tahu bahwa ini adalah situasi di Gaza sekarang dan semua orang mengalami pengalaman yang sama.”

Lukisan Al-Khalidi dipajang oleh Baher di dinding rumah mereka. Itu adalah rumah impian mereka, dan segala sesuatu di dalamnya mulai dari furnitur, dekorasi interior, hingga segala hal yang memenuhi sudut, dipilih dan dibuat dengan penuh kasih oleh pasangan tersebut.

“Awalnya saya tidak terlalu memikirkan rumah yang hancur,” kata al-Khalidi. “Namun, semakin ke sini saya semakin merasakannya, terutama setiap kali kami mengungsi semakin jauh. “Anda menyadari bahwa ini bukan soal uang, dekorasi, atau lukisan, tapi soal memiliki ruang pribadi, kemanan, dan kenyamanan bagi Anda dan keluarga untuk berada di dekat satu sama lain.”

Suatu pagi lainnya, keluarga tersebut terbangun karena suara pengeboman yang dahsyat di jalan. Serangan udara Israel menargetkan sebuah rumah hingga menjadikannya puing-puing. Jendela rumah orang tua al-Khalidi turut hancur akibat ledakan tersebut. Jurnalis tersebut memutuskan untuk berangkat ke kamp pengungsi al-Maghazi di pusat Gaza untuk tinggal bersama saudara laki-lakinya.

Al-Khalidi terus bekerja. Pada saat itu ia masih memiliki mobilnya, dan jalanannya masih tidak berbahaya atau rusak seperti sekarang. Suatu hari, ketika dia berkendara ke perbatasan Rafah untuk meliput pergerakan pasien kelompok kedua yang pergi ke Mesir untuk berobat, dia mendengar di radio bahwa rumah keluarga Afaneh di al-Maghazi menjadi sasaran.

“Rumah itu bersebelahan dengan rumah yang ditinggali suami dan anak saya,” ujarnya. “Saya mencoba menelepon suami dan saudara laki-laki saya, tetapi tidak ada yang menjawab telepon mereka, jadi tentu saja saya berasumsi yang terburuk.” Dia segera memutar mobilnya dan langsung menuju ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, hatinya berdebar kencang.

Baher, suaminya, yang berada di pintu masuk, segera meyakinkannya bahwa semua orang baik-baik saja, kecuali Karam, putranya, yang memerlukan beberapa jahitan di kepalanya. Pasangan tersebut kemudian memutuskan bahwa yang terbaik adalah mengirim anak-anak mereka ke Rafah untuk tinggal bersama kakek-nenek mereka.

‘Tulang rusukku, sayapku’

Selama 12 hari terakhir, pasangan tersebut berbicara dengan anak-anak mereka sebanyak enam atau tujuh kali sehari, kapan saja ketika saluran telepon tidak terputus. “Mereka menceritakan kepada saya setiap detail kehidupan mereka, mulai dari kekurangan air dan sedikit makanan yang mereka miliki, hingga bermain dengan sepupu dan tetangga mereka, serta apa yang mereka lakukan dengan paman mereka hari itu,” kata al-Khalidi.” “Keluhan utama mereka adalah mereka tidak bisa mandi.”

Setiap hari, dia bangun subuh bersama suaminya, berdoa, dan kemudian mereka berangkat ke rumah sakit sekitar 1 km (0,6 mil) jauhnya, berjalan bergandengan tangan. Di halaman rumah sakit, dia menyapa rekan-rekannya, lalu terhubung ke internet untuk mengumpulkan informasi untuk siaran langsung pertamanya pada jam 8 pagi di saluran Al Arabiya. Dia terus melakukannya hingga siaran terakhirnya pada jam 4 sore.

Baca Juga

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak

Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

“Saya melapor sekitar 18 kali sehari di depan kamera,” katanya. “Saya kelelahan pada akhirnya dan ingin meninggalkan rumah sakit sebelum hari gelap. Saya dan suami berjalan pulang, dan setelah berganti pakaian dan makan sebentar, saya melakukan wawancara telepon sampai jam 10 malam.”

Dia sangat memuji Baher, yang merupakan seorang jaksa tetapi kehilangan pekerjaan sejak agresi dimulai. “Saya tidak akan mampu melakukan setengah dari apa yang saya lakukan sekarang jika bukan karena dia,” katanya sambil tersenyum. “Dia menyemangati saya sejak hari pertama, dengan mengatakan bahwa saya memiliki kemampuan untuk terus bekerja dan menyampaikan pesan saya, yang belum tentu dimiliki setiap jurnalis.”

Ia juga merasa nyaman berada di dekatnya, baik sekadar merasakan kehadirannya di antara banyak jurnalis, pasien, dan pengungsi yang tinggal di halaman rumah sakit, atau saat ia membawakan air, kopi, atau makanan di sela-sela laporannya. Dia memperhatikan setiap detail kehidupannya dan memberikan tanggapannya.

“Dia adalah tulang rusuk saya, sayap saya,” kata al-Khalidi. “Anda tahu pepatah lama bahwa di balik setiap pria hebat ada perempuan hebat? Saya juga percaya bahwa di balik setiap perempuan hebat ada pria yang lebih hebat. Saya merasa diberkati karena memilikinya.”

Pasangan tersebut pergi ke Rafah untuk menemui anak-anak mereka pada hari Senin dan menyadari bahwa tempat tersebut tidak lebih aman dibandingkan daerah lain karena pesawat tempur dan tank Israel telah menargetkan kota tersebut, sehingga mereka memutuskan untuk membawa anak-anak tersebut kembali ke rumah bibi al-Khalidi di Deir el-Balah, tempat pasangan itu tinggal.

“Saya sangat bersemangat untuk bertemu mereka lagi,” katanya. “Putriku Rama bilang dia sudah lama tidak memelukku. Saya berpikir, ‘Tahukah kamu, kita mati bersama atau hidup bersama.’”

Sumber:

https://www.aljazeera.com

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها

Tags: MediaPalestinaUpdate Palestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Direktur UNICEF: “Tidak ada tempat yang aman bagi satu juta anak di Gaza untuk berlindung” 

Next Post

Dibombardir Dua Kali, Ahmed Kecil Kehilangan Orang Tuanya, Kemudian Kakinya

Adara Relief International

Related Posts

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak
Berita Kemanusiaan

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
13

Presiden AS Donald Trump secara resmi menguraikan struktur "Dewan Perdamaian", yang diharapkan dapat "memenuhi" 20 poin rencana Trump untuk Gaza,...

Read moreDetails
Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

Januari 19, 2026
12
Angka Kelahiran di Gaza Turun 41 Persen, Keguguran dan Kelahiran Prematur Meningkat

Angka Kelahiran di Gaza Turun 41 Persen, Keguguran dan Kelahiran Prematur Meningkat

Januari 19, 2026
11
Zionisme Kristen Ancam Keberadaan Umat Kristen di Palestina

Zionisme Kristen Ancam Keberadaan Umat Kristen di Palestina

Januari 19, 2026
23
Kampanye Vaksinasi Gelombang Kedua di Gaza Targetkan Anak di bawah Usia Tiga Tahun

Kampanye Vaksinasi Gelombang Kedua di Gaza Targetkan Anak di bawah Usia Tiga Tahun

Januari 19, 2026
11
Laporan Haaretz: AS Berpotensi Danai Pabrik Kendaraan Tempur Baru Israel hingga US$2 Miliar

Laporan Haaretz: AS Berpotensi Danai Pabrik Kendaraan Tempur Baru Israel hingga US$2 Miliar

Januari 15, 2026
21
Next Post
Dibombardir Dua Kali, Ahmed Kecil Kehilangan Orang Tuanya, Kemudian Kakinya

Dibombardir Dua Kali, Ahmed Kecil Kehilangan Orang Tuanya, Kemudian Kakinya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630