Di sela-sela laporan langsungnya di TV, Khawla al-Khalidi menyesap air, atau kopi jika tersedia, dan mencari informasi terbaru di ponselnya. Suaminya, Baher, merapikan hijabnya, memberikan kata-kata penyemangat, lalu berdiri di samping kamera saat al-Khalidi bersiap untuk melakukan siaran langsung.
Jurnalis berusia 34 tahun ini, seperti banyak rekannya, tinggal di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa. Lokasi ini telah menjadi kantor darurat karena merupakan salah satu dari sedikit tempat yang masih memiliki jaringan internet. Di tempat ini pula para jurnalis dapat mengisi daya ponsel dan laptop mereka serta perangkat elektronik lainnya.
“Saya selalu menyukai jurnalisme, dan saya sudah berkecimpung di industri ini selama 11 tahun,” kata al-Khalidi. “Saya biasa memproduksi dan menyajikan acara pagi untuk TV Palestina, dan sejak agresi ini dimulai, saya juga diberi kesempatan untuk bekerja di saluran Al Hadath dan Al Arabiya [milik Saudi].”
Al-Khalidi belum berhenti bekerja sejak 8 Oktober, sehari setelah Israel memulai serangannya di Jalur Gaza. Di tengah agresi dan perkembangannya yang terus-menerus, stabilitas dan rutinitas sehari-hari pun diabaikan. Setelah Jalur Gaza diancam dengan serangan udara, ia dan rekan-rekan TV Palestina-nya dievakuasi, dan mulai bekerja dari rumah, melakukan wawancara langsung dengan berbagai saluran melalui telepon.
Suatu malam pada pekan pertama pengeboman, dia sedang melakukan wawancara telepon terakhirnya ketika dia melihat Baher memberi isyarat padanya. Orang-orang Israel akan menargetkan lingkungan mereka, katanya kepada istrinya, dan mereka harus segera pergi. “Kami mendapat pesan yang mengatakan kami harus mengungsi dalam 20 menit,” katanya. “Saya mengakhiri telepon saya dengan memberitahu mereka hal itu, lalu saya berjalan keliling rumah dengan bingung, tidak tahu apa yang harus saya bungkus atau bawa.”
Pasangan tersebut dan keempat anaknya – yang tertua berusia 12 tahun dan yang termuda berusia lima tahun – tinggal selama sekitar satu minggu di rumah orang tua al-Khalidi di Kota Gaza. Di hari kedua, al-Khalidi mendapat kabar bahwa rumahnya, yang telah dibangun bersama suaminya selama 10 tahun, telah hancur.
“Awalnya keluarga saya mencoba mengecilkan masalah ini, dengan mengatakan: ‘Oh, yang terbakar hanya dapurnya,’ atau sebagian rusak karena pecahan peluru,” kenangnya. “Tapi ternyata semuanya hilang.” “Saya menangis, tentu saja, lalu menenangkan diri. Beberapa hari kemudian, saya menangis lagi, lalu menenangkan diri. Saya tahu bahwa ini adalah situasi di Gaza sekarang dan semua orang mengalami pengalaman yang sama.”
Lukisan Al-Khalidi dipajang oleh Baher di dinding rumah mereka. Itu adalah rumah impian mereka, dan segala sesuatu di dalamnya mulai dari furnitur, dekorasi interior, hingga segala hal yang memenuhi sudut, dipilih dan dibuat dengan penuh kasih oleh pasangan tersebut.
“Awalnya saya tidak terlalu memikirkan rumah yang hancur,” kata al-Khalidi. “Namun, semakin ke sini saya semakin merasakannya, terutama setiap kali kami mengungsi semakin jauh. “Anda menyadari bahwa ini bukan soal uang, dekorasi, atau lukisan, tapi soal memiliki ruang pribadi, kemanan, dan kenyamanan bagi Anda dan keluarga untuk berada di dekat satu sama lain.”
Suatu pagi lainnya, keluarga tersebut terbangun karena suara pengeboman yang dahsyat di jalan. Serangan udara Israel menargetkan sebuah rumah hingga menjadikannya puing-puing. Jendela rumah orang tua al-Khalidi turut hancur akibat ledakan tersebut. Jurnalis tersebut memutuskan untuk berangkat ke kamp pengungsi al-Maghazi di pusat Gaza untuk tinggal bersama saudara laki-lakinya.
Al-Khalidi terus bekerja. Pada saat itu ia masih memiliki mobilnya, dan jalanannya masih tidak berbahaya atau rusak seperti sekarang. Suatu hari, ketika dia berkendara ke perbatasan Rafah untuk meliput pergerakan pasien kelompok kedua yang pergi ke Mesir untuk berobat, dia mendengar di radio bahwa rumah keluarga Afaneh di al-Maghazi menjadi sasaran.
“Rumah itu bersebelahan dengan rumah yang ditinggali suami dan anak saya,” ujarnya. “Saya mencoba menelepon suami dan saudara laki-laki saya, tetapi tidak ada yang menjawab telepon mereka, jadi tentu saja saya berasumsi yang terburuk.” Dia segera memutar mobilnya dan langsung menuju ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, hatinya berdebar kencang.
Baher, suaminya, yang berada di pintu masuk, segera meyakinkannya bahwa semua orang baik-baik saja, kecuali Karam, putranya, yang memerlukan beberapa jahitan di kepalanya. Pasangan tersebut kemudian memutuskan bahwa yang terbaik adalah mengirim anak-anak mereka ke Rafah untuk tinggal bersama kakek-nenek mereka.
‘Tulang rusukku, sayapku’
Selama 12 hari terakhir, pasangan tersebut berbicara dengan anak-anak mereka sebanyak enam atau tujuh kali sehari, kapan saja ketika saluran telepon tidak terputus. “Mereka menceritakan kepada saya setiap detail kehidupan mereka, mulai dari kekurangan air dan sedikit makanan yang mereka miliki, hingga bermain dengan sepupu dan tetangga mereka, serta apa yang mereka lakukan dengan paman mereka hari itu,” kata al-Khalidi.” “Keluhan utama mereka adalah mereka tidak bisa mandi.”
Setiap hari, dia bangun subuh bersama suaminya, berdoa, dan kemudian mereka berangkat ke rumah sakit sekitar 1 km (0,6 mil) jauhnya, berjalan bergandengan tangan. Di halaman rumah sakit, dia menyapa rekan-rekannya, lalu terhubung ke internet untuk mengumpulkan informasi untuk siaran langsung pertamanya pada jam 8 pagi di saluran Al Arabiya. Dia terus melakukannya hingga siaran terakhirnya pada jam 4 sore.
“Saya melapor sekitar 18 kali sehari di depan kamera,” katanya. “Saya kelelahan pada akhirnya dan ingin meninggalkan rumah sakit sebelum hari gelap. Saya dan suami berjalan pulang, dan setelah berganti pakaian dan makan sebentar, saya melakukan wawancara telepon sampai jam 10 malam.”
Dia sangat memuji Baher, yang merupakan seorang jaksa tetapi kehilangan pekerjaan sejak agresi dimulai. “Saya tidak akan mampu melakukan setengah dari apa yang saya lakukan sekarang jika bukan karena dia,” katanya sambil tersenyum. “Dia menyemangati saya sejak hari pertama, dengan mengatakan bahwa saya memiliki kemampuan untuk terus bekerja dan menyampaikan pesan saya, yang belum tentu dimiliki setiap jurnalis.”
Ia juga merasa nyaman berada di dekatnya, baik sekadar merasakan kehadirannya di antara banyak jurnalis, pasien, dan pengungsi yang tinggal di halaman rumah sakit, atau saat ia membawakan air, kopi, atau makanan di sela-sela laporannya. Dia memperhatikan setiap detail kehidupannya dan memberikan tanggapannya.
“Dia adalah tulang rusuk saya, sayap saya,” kata al-Khalidi. “Anda tahu pepatah lama bahwa di balik setiap pria hebat ada perempuan hebat? Saya juga percaya bahwa di balik setiap perempuan hebat ada pria yang lebih hebat. Saya merasa diberkati karena memilikinya.”
Pasangan tersebut pergi ke Rafah untuk menemui anak-anak mereka pada hari Senin dan menyadari bahwa tempat tersebut tidak lebih aman dibandingkan daerah lain karena pesawat tempur dan tank Israel telah menargetkan kota tersebut, sehingga mereka memutuskan untuk membawa anak-anak tersebut kembali ke rumah bibi al-Khalidi di Deir el-Balah, tempat pasangan itu tinggal.
“Saya sangat bersemangat untuk bertemu mereka lagi,” katanya. “Putriku Rama bilang dia sudah lama tidak memelukku. Saya berpikir, ‘Tahukah kamu, kita mati bersama atau hidup bersama.’”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








