Sebuah organisasi bernama Al-Majd Europe diduga kuat terlibat dalam skema pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza dengan kedok “migrasi sukarela” dan “jalur evakuasi aman”. Laporan dari Al-Hares, Quds News Network (QNN), Haaretz, serta pernyataan resmi otoritas Palestina menunjukkan bahwa organisasi ini bekerja selaras dengan otoritas pendudukan Israel, khususnya unit baru yang disebut Voluntary Emigration Bureau di bawah Kementerian Pertahanan Israel. Unit ini dibentuk pada awal 2025 untuk mendorong pengusiran warga Gaza dari tanah air mereka.
Al-Majd Europe menawarkan paket “evakuasi aman” dengan biaya 1.500–2.700 dolar AS per orang, menyasar keluarga-keluarga Gaza yang terdesak perang, kelaparan, dan pengepungan. Mereka mengumpulkan data pribadi warga melalui tawaran palsu jalur keluar ke negara seperti Afrika Selatan, Indonesia, dan Malaysia.
Investigasi menemukan bahwa:
- Organisasi ini tidak terdaftar, tidak memiliki laporan keuangan, dan menggunakan alamat serta identitas palsu, termasuk foto AI dan kantor fiktif di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur).
- Domain situs web lembaga itu baru dibuat pada Februari tahun ini—bertepatan dengan berdirinya kantor “migrasi sukarela” Israel.
- Aktivitas “kemanusiaan” yang diklaim—termasuk bantuan untuk Suriah, Turki, atau korban gempa—tidak terbukti.
- Pembayaran dilakukan dengan mata uang digital yang sulit dilacak.
- Penumpang diminta tidak membawa apa pun, kecuali pakaian yang dikenakan, dan paspor mereka tidak distempel di Bandara Ramon.
QNN juga menemukan bahwa salah satu nama “manajer proyek”, Mo’ayyad Saydam, ternyata dipalsukan, dan ia sendiri mengeluarkan peringatan bahwa identitasnya telah disalahgunakan oleh penipu untuk menghubungi warga Palestina.
Investigasi Haaretz menelusuri operasi ini ke seorang warga Israel–Estonia, Tomer Janar/Yanar/Janad Lind, yang memiliki perusahaan konsultan Estonia bernama Talent Globus. Situs lama Al-Majd bahkan menampilkan logo perusahaan tersebut. Lind diketahui membuat sejumlah perusahaan di Inggris dan bekerja bersama unit Israel yang mengatur pemindahan paksa warga Gaza. Ketika dihubungi, Lind tidak menyangkal keterlibatannya, tetapi menolak menjelaskan siapa aktor di balik operasi ini.
Maskapai Romania dan Afrika Selatan mengonfirmasi bahwa penerbangan-penerbangan ini dipesan oleh agen perjalanan eksternal yang bekerja dengan Al-Majd, bukan oleh lembaga resmi mana pun.
Sejak Mei, ratusan warga Palestina diterbangkan dari Bandara Ramon di Israel dengan tujuan acak. Dua penerbangan terakhir menuju Afrika Selatan mengangkut 153 dan 176 warga Gaza. Banyak dari mereka tidak memiliki dokumen perjalanan dan tidak mengetahui tujuan akhir mereka.
Di Afrika Selatan, para penumpang sempat ditahan hingga dua belas jam lamanya, sebelum akhirnya menerima visa darurat selama 90 hari berkat campur tangan organisasi kemanusiaan Gift of the Givers. Insiden ini kemudian mendorong pemerintah Afrika Selatan membuka penyelidikan resmi terhadap aktivitas maskapai Al-Majd.
Dari kesaksian para penumpang, terungkap bagaimana mereka dibawa keluar dari Gaza menuju wilayah Israel melalui perjalanan darat, tanpa keterangan yang jelas tentang identitas pihak yang mengelola penerbangan maupun tujuan akhir pesawat. Ketidakpastian itu baru terungkap ketika perjalanan telah berlangsung. Para saksi juga menyebut bahwa penerbangan lain yang dioperasikan maskapai yang sama sebelumnya sempat mendarat di Indonesia dan Malaysia, menambah banyak tanda tanya tentang pola operasional dan maksud dari penerbangan-penerbangan tersebut.
Lembaga keamanan perlawanan di Gaza memperingatkan bahwa Al-Majd adalah kedok bagi aktor yang memanfaatkan krisis kemanusiaan untuk memperoleh data pribadi warga untuk kepentingan spionase dan deportasi.
Kedutaan Palestina di Afrika Selatan menyebut Al-Majd sebagai “organisasi tidak terdaftar dan menyesatkan yang mengeksploitasi tragedi rakyat Gaza, menipu keluarga, mengambil uang mereka, dan mengatur perjalanan secara ilegal dan tidak bertanggung jawab.”
Kementerian Luar Negeri Palestina mengutuk aktor-aktor di balik operasi ini sebagai “pedagang darah dan broker deportasi.”
Skema ini muncul seiring kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih, yang secara terbuka mendorong ide pengosongan Gaza dan mengubah wilayah tersebut menjadi “Riviera”. Israel menerima gagasan ini dan mempercepat langkah-langkah yang memfasilitasi perpindahan paksa warga.
Sumber: Qudsnen, The New Arab, Haaretz







![Pekerjaan restorasi dimulai di Istana Pasha yang bersejarah, sebuah landmark berusia berabad-abad yang terletak di Kota Tua di Kota Gaza, Gaza, pada 10 November 2025. [Khames Alrefi – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/AA-20251111-39676510-39676508-RESTORATION_BEGINS_ON_HISTORIC_PASHA_PALACE_HEAVILY_DAMAGED_BY_ISRAELI_ATTACKS_IN_GAZA-75x75.webp)
