Organisasi Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel resmi membongkar seluruh pos bantuannya dan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab penyaluran bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga-lembaga afiliasinya, seiring dimulainya gencatan senjata di wilayah tersebut.
Menurut laporan Al Jazeera, di Koridor Netzarim di Gaza tengah, ditemukan sisa-sisa amunisi militer Israel di lokasi-lokasi bekas pos bantuan GHF. “Kami menemukan sisa peluru dan pecahan peluru artileri yang digunakan untuk menyerang warga Palestina yang sedang mencari bantuan,” lapor media tersebut.
Daerah itu sebelumnya ditetapkan sebagai “zona merah”, tempat warga Gaza harus berjalan kaki menempuh jarak jauh untuk mendapatkan makanan dari pos bantuan GHF, terutama selama periode perang kelaparan yang meluas akibat blokade penuh Israel.
GHF, yang dibentuk pada Mei lalu, dikritik keras oleh berbagai organisasi kemanusiaan karena dianggap melanggar prinsip kemanusiaan, membatasi distribusi bantuan hanya di Gaza tengah dan selatan, serta memaksa warga untuk berpindah dan berjalan jauh untuk mengakses bantuan. Model penyaluran seperti ini bahkan dinilai memperburuk pemindahan paksa warga Gaza.
Sejumlah lembaga, termasuk PBB, menyebut pos bantuan GHF sebagai “perangkap maut massal” dan “tempat pembantaian” karena sering menjadi lokasi penembakan terhadap warga yang kelaparan.
Sejak GHF mulai beroperasi, penembakan hampir terjadi setiap hari di sekitar lokasi bantuan. Para saksi, termasuk warga Gaza dan mantan tentara bayaran AS, melaporkan bahwa mereka menyaksikan pasukan Israel menembaki kerumunan warga yang berebut bantuan.
Menurut Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB (OHCHR), lebih dari 1.800 warga Palestina terbunuh saat berusaha mendapatkan makanan, termasuk sedikitnya 1.000 orang di sekitar pos bantuan GHF. Human Rights Watch menegaskan bahwa penembakan terhadap warga sipil di lokasi bantuan tersebut merupakan kejahatan perang.
Sumber: Qudsnen








