Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi menandatangani rencana pembangunan permukiman kontroversial E1 di Tepi Barat, sebuah proyek yang dinilai akan “mengubur ide negara Palestina” dengan memisahkan wilayah utara dan selatan Tepi Barat serta mengisolasi Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur).
Dalam konferensi pers di permukiman ilegal Ma’ale Adumim, Netanyahu menegaskan bahwa “tidak akan ada negara Palestina” dan berjanji menggandakan jumlah penduduk permukiman tersebut. Menteri Keuangan sayap kanan, Bezalel Smotrich, yang juga berwenang dalam persetujuan proyek permukiman, menyebut rencana E1 sebagai “Zionisme terbaik” dan bagian dari langkah de facto aneksasi wilayah Palestina.
Rencana ini mencakup pembangunan lebih dari 3.000 unit rumah baru yang menghubungkan Ma’ale Adumim dengan Yerusalem, memperkuat visi “Greater Jerusalem”, serta mempercepat proyek jalan dan pembatasan akses warga Palestina. Organisasi Peace Now mencatat, total 4.030 unit baru di Tepi Barat telah disetujui, termasuk 3.300 unit di Ma’ale Adumim, ekspansi besar bagi permukiman yang populasinya stagnan selama satu dekade terakhir.
Palestina mengecam proyek ini sebagai upaya perubahan demografis dan konsolidasi kolonialisme Israel. Aktivis Stop the Wall menegaskan bahwa E1 akan memutus jalur bersejarah antara Ariha (Jericho) dan Al-Quds (Yerusalem) serta memecah wilayah Palestina menjadi kantong-kantong terisolasi, mirip dengan Bantustan di era apartheid Afrika Selatan.
Komunitas internasional, termasuk PBB, menilai bahwa permukiman Israel adalah ilegal berdasarkan hukum internasional. Mahkamah Internasional pada Juli lalu juga menyatakan pendudukan Israel atas wilayah Palestina sebagai langkah ilegal dan menuntut evakuasi semua permukiman. Lebih dari 20 negara, termasuk Inggris, Kanada, dan Prancis, mengutuk rencana E1 serta menyerukan Israel untuk segera membatalkannya, dengan peringatan bahwa langkah sepihak ini merusak prospek solusi dua negara dan memperdalam konflik yang telah berlangsung puluhan tahun.
Sumber: MEMO, Qudsnen








