Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengaku memiliki “misi sejarah dan spiritual” yang sangat terhubung dengan visi Israel Raya (Greater Israel),sebuah konsep yang mencakup wilayah Palestina yang diduduki serta mencakup wilayah bagian dari Yordania, Lebanon, Suriah, dan Mesir. Dalam wawancara dengan i24 News pada 12 Agustus 2025, Netanyahu menegaskan bahwa dirinya menjalankan “misi lintas generasi” demi bangsa Yahudi.
Gagasan Israel Raya telah lama diusung kelompok ultranasionalis Israel sejak pasca-Perang Enam Hari 1967, ketika Israel menduduki Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur), Tepi Barat, Gaza, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan. Beberapa pejabat, seperti Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, bahkan menyerukan perluasan perbatasan Israel hingga mencakup Damaskus dan wilayah negara tetangga lainnya.
Dalam wawancara tersebut, Netanyahu juga mengungkap bahwa ia kerap mengabaikan persetujuan AS untuk operasi militer, termasuk serangan ke Gaza, Iran, dan Lebanon, dengan alasan takut bocor jika diberitahukan sebelumnya. Ia mengklaim penyerbuan Rafah dilakukan meski mendapat larangan dari Presiden AS.
Terkait Gaza, Netanyahu menolak kesepakatan gencatan senjata dan bersikeras agar seluruh tahanan Israel dibebaskan perang akan berakhir hanya dengan syarat dari Israel. Ia juga mendukung keluarnya warga Gaza, yang oleh banyak pihak dipandang sebagai bentuk pemindahan paksa dan pembersihan etnis, sebuah bentuk pelanggaran berat hukum internasional.
Netanyahu meremehkan sikap sejumlah negara Eropa yang mengkritik agresi Israel, termasuk Jerman yang membekukan ekspor senjata ke Israel. Sementara itu, beberapa negara seperti Inggris, Prancis, dan Kanada berencana mengakui negara Palestina pada September mendatang.
Sumber:
https://qudsnen.co/netanyahu-says-he-on-historic-and-spiritual-mission-and-feels-connection-to-vision-of-greater-israel/
https://www.#/20250813-netanyahu-says-he-is-on-historic-mission-for-greater-israel/








