Di dalam sebuah tenda di salah satu lingkungan Kota Gaza, Tita Reda Aliwa menyiapkan satu hidangan sederhana untuk 36 cucunya. Anak-anak itu saling berebut, berharap mendapat satu sendok lentil. “Giliran aku, Tita Reda,” pinta salah satu dari mereka. Tita adalah panggilan akrab untuk nenek dalam bahasa Arab.
Dalam wawancaranya dengan Quds News Network, Aliwa berkata, “Dulu anak-anakku merawatku. Sekarang aku merawat anak-anak mereka.”
Kelima putranya terbunuh dalam dua serangan Israel yang hanya berselang empat hari pada September, saat mereka berlindung di kamp pengungsian di Gaza. Serangan itu terjadi hanya beberapa waktu sebelum gencatan senjata rapuh diumumkan pada 10 Oktober. Aliwa sendiri sempat koma karena luka yang dideritanya. Saat tersadar, suaminya menyampaikan kabar memilukan: semua putra mereka telah tiada. Mengabaikan peringatan dokter, Aliwa segera pulang demi cucu-cucunya. “Di rumah sakit, yang kupikirkan hanya mereka,” ujarnya.
Kini, perempuan berusia 60 tahun itu dan suaminya menjadi satu-satunya pengasuh bagi 36 cucu yang selamat dari dua tahun genosida Israel. Cucu-cucunya berusia antara satu setengah bulan hingga 17 tahun. Tanpa sumber penghasilan, keluarga ini mengandalkan bantuan pangan, namun sering kali tetap kekurangan.
“Apa pun yang bisa kudapat, itu yang kami makan. Kadang ada, kadang tidak ada,” kata Aliwa.
Mereka tinggal di kawasan Shujaiya, dekat “garis kuning” sebuah batas ilegal tak terlihat yang memisahkan wilayah yang diawasi ketat oleh pasukan Israel, yang tetap menguasai sekitar 50 persen Jalur Gaza. Mereka tidur hanya beralaskan dua tikar, di dalam tenda yang sudah lapuk, dengan suara ledakan terus terdengar meski ada gencatan senjata.
Aliwa takut kehilangan cucunya di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus terjadi. “Gencatan senjata macam apa ini? Tidak ada tenda, tidak ada makanan. Apa salah anak-anak ini?” katanya. “Kami takut perang dimulai lagi.”
Ketakutan terbesar Aliwa adalah siapa yang akan merawat cucu-cucunya jika sesuatu terjadi padanya. “Kalau aku mati, apa yang akan terjadi pada mereka? Mereka akan jadi anak jalanan.”
Anak-anak itu hidup dalam kesedihan dan trauma. Ketika menanyakan orang tua mereka, Aliwa hanya bisa menjawab bahwa mereka ada di surga. “Yang kecil bilang, ‘Kalau begitu, Tita, ayo kita ke surga sekarang.’ Yang besar berkata, ‘Hidup itu indah sebelum mereka dibunuh. Sekarang hidup kami gelap.’”
Menurut Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS), lebih dari 40.000 anak Gaza kehilangan satu atau kedua orang tua selama genosida yang menjadikannya krisis anak yatim terbesar dalam sejarah modern. Sebanyak 17.000 di antaranya kehilangan kedua orang tua sejak Oktober 2023.
Ibtisam, cucu Aliwa berusia 13 tahun, mengenang rumah yang kini hancur:
“Aku ingat rumah kami, kamar orang tuaku, semua kenangan di sana… dan sekarang semuanya hilang. Dulu kami bermain bersama setiap hari. Sekarang semuanya sudah tidak ada.”
Sumber: Qudsnen








