Pertanyaan:
Memasuki bulan Ramadan, umat Islam di dunia menyambut dengan suka cita, mengisinya dengan ibadah puasa, meramaikan masjid dan musala dengan salat Tarawih, tilawah Al-Qur’an, dan tadarus berjamaah. Terlebih lagi, ada satu malam pada Ramadan yang sangat ditunggu-tunggu umat Islam, yaitu malam Al-Qadar. Apa Keistimewaan LailatulQadar? Bagaimana Cara meraihnya? Apa tanda-tandanya?
Jawaban :
Lailatulqadar merupakan malam yang istimewa karena pada malam itu Al-Qur’an diturunkan. Kemuliaan Al-Qur’an menyebabkan malam itu menjadi mulia pula. Ketika itulah Al-Qur’an sebagai wahyu Allah disampaikan kepada Nabi Muhammad ﷺ oleh Ruhul amin, Jibril as.
إِنَّـآ أَنـزَلْنَٰـاهُ فِى لَيْـلَـةِ ٱلْقَـدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”.(QS. Al-Qadr: 1)
Pada malam istimewa tersebut, para malaikat termasuk Jibril as turun ke bumi dengan membawa berbagai macam cahaya, keutamaan, keberkahan, dan kebaikan untuk hamba-hamba Allah yang saleh dan beriman. Allah Yang Maha Pengasih mengaruniakan semua itu kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
Seseorang yang mendapatkan keberkahan pada malam itu, serupa dengan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Beramal pada malam itu sebanding dengan beramal selama 1000 bulan atau 83 tahun lamanya tanpa putus.
Dari segi bahasa, Lailatulqadar terdiri atas dua kata, yaitu “al-lail” dan “al-qadar”. Al-Lail artinya malam, rentang waktu yang ditandai mulai dari terbenamnya matahari di ufuk barat hingga terbitnya fajar di ufuk timur. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Lailatulqadar dimulai sejak terbenamnya matahari, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an:
ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيۡلِ
“Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.”(QS. Al-Baqarah: 187)
Lailatul Qadar diakhiri dengan terbitnya fajar, yaitu masuknya waktu subuh, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an:
سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْر
“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)
Sementara itu, makna Al-Qadar, Allah tunjukkan dalam surat Al-Qadar ayat 2 dan 4:
وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ (2)
“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”
تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ (4)
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”
Ayat itu menunjukkan keagungan dan kemuliaan malam tersebut karena pada Lailatulqadar Allah menakdirkan kehendak-Nya untuk satu tahun ke depan. Allah juga menakdirkan bahwa amal saleh yang dikerjakan pada saat itu lebih baik daripada amal saleh yang dikerjakan selama seribu bulan.
لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 3)
ﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ
“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad [2/385])
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan salat Tahajud karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759, dari Abu Hurairah]
Artinya, shalat tahajud dan amal lain pada malam tersebut lebih baik daripada amal dalam 1000 bulan.
Sejarah Awal Mula Malam Lailatul Qadar
Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir terdapat sebuah riwayat yang menerangkan sejarah Lailatulqadar. Dikisahkan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ menceritakan empat orang dari Bani Israil yang menyembah Allah selama 80 tahun dan tidak pernah berbuat maksiat meski sekejap. Mereka adalah Ayyub, Zakariya, Hizqil bin ‘Ajuz, dan Yusya’ bin Nun.
Para sahabat merasa kagum mendengarnya, kemudian datanglah Jibril kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Muhammad, umatmu kagum dengan ibadah selama 80 tahun, yang tidak pernah berbuat maksiat sekejap mata pun.”
Allah pun menurunkan ibadah yang lebih baik, sebagaimana dibacakan oleh Jibril kepada Nabi: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1–3). Rasulullah ﷺ dan sahabat merasa senang dengan hal itu.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, “Dulu pada masa Bani Israil ada seorang lelaki yang salat malam hingga waktu subuh. Kemudian, ia juga berjihad memerangi musuh pada siang hari hingga malam menjelang. Dia melakukan hal itu selama 1000 bulan. Lantas Allah menurunkan ayat :
ليْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْر
Malam al-Qadar lebih baik dari 1000 bulan yang dikerjakan oleh lelaki dari Bani Israil tersebut.
Cara meraih malam Lailatul Qadar
Amalan yang dianjurkan untuk mendapatkan malam yang mulia atau Lailatulqadar, di antaranya: Pertama, menghidupkan Lailatulqadar, sebab hal itu merupakan bukti keimanan seseorang. Dari Abu Hurairah, bersabda Nabi ﷺ, “Barang siapa menghidupkan malam lailatulqadar dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari no.34)
Kedua, hendaklah melaksanakan perintah Allah, yaitu berpuasa. Ketiga, meningkatkan intensitas beribadah, terutama pada malam hari, seperti salat malam, melaksanakan salat sunah Tarawih, Tahajud, dan Witir, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, dan amalan-amalan lainnya yang baik dilakukan pada malam hari.
Keempat, Mencari Lailatulqadar pada 10 hari terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam witir-nya (ganjil). Dari Aisyah, “Adalah Nabi ﷺ mencari lailatul qadar pada malam-malam witir di 10 hari terakhir.” (HR Bukhari no.1878). Dalam hadis lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م. مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ (رواه احمد باسناد صحيح)
Dari Ibnu ‘Umar: Rasulullah ﷺ berkata bahwa barang siapa yang ingin mengintai malam Lailatul Qadar hendaklah ia mengintai pada malam dua puluh tujuh. (HR. Ahmad dengan sanad yang Shahih)
Dari Aisyah ra, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ ketika masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, maka beliau mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” (Muttafaq ‘alaih)
Menurut Ibnu Baththal, maksud dari hadis tersebut ialah Rasulullah ﷺ tidak menggauli istrinya.
Kelima, dianjurkan untuk membangunkan keluarganya. Dalam sebuah hadis dikatakan:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِى وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِى وَجْهِهِ الْمَاءَ
“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang pada malam hari melakukan salat malam, lalu ia membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, maka ia memerciki air pada wajah istrinya. Semoga Allah juga merahmati seorang wanita yang pada malam hari melakukan salat malam, lalu ia membangungkan suaminya. Jika suaminya enggan, maka istrinya pun memerciki air pada wajah suaminya.”
(HR. Abu Daud no. 1308 dan An Nasai no. 1148. Sanad hadis ini hasan kata Al Hafizh Abu Thohir]
Persiapan menjemput Lailatulqadar
Allah meletakkan Lailatulqadar di bagian akhir Ramadan agar hari-hari sebelumnya menjadi “persiapan” dan “pengondisian” untuk menjemput kebaikan, rahmat, dan karunia-Nya yang tak terhingga besarnya. Sedemikian besar rahmat Allah dalam Lailatulqadar ini hingga seorang hamba layak melakukan persiapan jiwa dan pengondisian untuk mendapatkannya, karena kesiapan jiwa akan mengalahkan berbagai hambatan fisik, alasan kesibukan dan kemalasan.
Maka terasalah hikmahnya mengapa Allah tidak menentukan detail waktunya, yakni agar semua yang berpuasa berlomba-lomba mendapatkannya sepanjang 10 hari terakhir Ramadan.
Tanda turunnya Lailatul Qadar, Allah SWT merahasiakan malam Lailatulqadar dari umat manusia sehingga hanya orang-orang terpilih yang bisa memahami malam istimewa tersebut, yaitu Rasulullah ﷺ. Di antara tandanya adalah:
1. Cahaya matahari pagi redup
أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ في صَبِيحَةِ يَومِهَا بَيْضَاءَ لا شُعَاعَ لَهَا
“Matahari terbit pada pagi hari itu putih tanpa sinar (terik)” (HR: Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan at-Tirmidzi]
إن ليلة القدر ليلةٌ سمحةٌ طلِقةٌ لا حارةَ ولا باردةَ يطلع صبيحتَها الشمسُ دائرةً حمراءً ليس لها شُعاعَ
“Sesungguhnya Lailatul Qadar adalah malam yang lembut, cerah, tidak panas dan tidak dingin. Pada pagi harinya matahari terbit bulat merah tanpa sinar.” (HR. Muslim)
2. Malamnya cerah, damai, dan tenang
«إنَ أمارةَ ليلةَ القدر أنها صَافِيةٌ بَلجَةٌ، كأنَ فيها قمرًا ساطِعًا، ساكِنةٌ ساجِيةٌ، لاَ بَرْدَ فِيْها ولا حَرَّ، ولا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أنْ يُرْمَى بهِ فيها حتى تُصْبِحَ، وإنَّ أمارتَها أن الشمسَ صَبِيحَتَها تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً ليس لها شُعاعٌ؛ مثلُ القَمَرِ ليلةَ البَدرِ، ولا يَحِلُّ لِلشَيطانِ أنْ يَخْرُجَ معها يَوْمَئِذٍ».
“Pertanda Lailatulqadar adalah malam itu cerah bagaikan ada bulan yang bersinar, suasana malam itu tenang, tidak dingin dan tidak panas, serta bintang tidak dipakai untuk melempari setan sampai pagi hari.
Pertanda lainnya adalah matahari terbit pada pagi harinya dengan bulat, tidak memancarkan sinar, layaknya bulan purnama. Pada hari itu setan tidak diizinkan keluar” [Nailul Authar 4/275]
3. Malam turunnya malaikat
Malam tersebut adalah malam yang diturunkannya Jibril dan malaikat lainnya dalam jumlah banyak ke bumi, untuk mengatur segala urusan dengan izin Allah. Hal ini menunjukkan bahwa malam tersebut adalah malam yang istimewa dan penuh berkah.
تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
Artinya: “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka untuk mengatur segala urusan.” [QS. Al-Qadr:4]
Semoga kita semua yang berpuasa pada bulan Ramadan yang penuh berkah ini dipertemukan Allah dengan Lailatulqadar dalam semangat fastabiqul khairat atau berlomba dalam kebaikan, semata-mata demi mencari keridhaan Allah.
Wallahu a’lam bishawab
Lissa Malike, Lc.
Penulis merupakan anggota Koalisi Daiyah Indonesia. Ia juga lulusan Fakultas Sastra Arab, Universitas Indonesia dan Fakultas Syari’ah Islamiyah, Universitas Al-Azhar Asy-Syarif, Kairo, Mesir.
Referensi kitab:
Tafsir Al-Munir, jilid 15, Prof. DR. Wahbah az-Zuhaili
Fiqih Islam Wa Adillatuhu, jilid 3, Prof. DR. Wahbah az-Zuhaili
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








