Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menyetujui penerbitan izin senjata api kepada warga Israel di 18 permukiman ilegal di Tepi Barat. Izin tersebut diberikan seiring pemerintah sayap kanan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendorong perluasan pos-pos ilegal yang merusak prospek solusi dua negara .
“Kini permukiman-permukiman ini dapat mengajukan permohonan izin senjata pribadi,” tulis Ben-Gvir, seorang menteri sayap kanan, di Telegram pada Rabu (21/01). Ia mengklaim bahwa upaya tersebut bertujuan untuk “meningkatkan kemampuan membela diri dan meningkatkan keamanan pribadi”.
Pemukim Israel kini semakin berani karena program persenjataan skala besar yang dipelopori oleh Ben-Gvir sejak awal genosida Israel di Jalur Gaza, serta adanya kekebalan hukum yang mereka nikmati ketika melakukan serangan. Pemukim kolonial Israel yang tinggal secara ilegal di Tepi Barat telah dipersenjatai dengan senjata kelas militer mulai dari M16 buatan AS hingga pistol dan drone. Israel menyatakan bahwa kepemilikan senjata diperlukan untuk keselamatan mereka, tetapi organisasi lokal dan internasional telah lama mendokumentasikan pengusiran paksa yang terencana terhadap warga Palestina dari tanah leluhur mereka.
Secara keseluruhan, jumlah permukiman dan pos terdepan di Tepi Barat dan Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) telah meningkat hampir 50 persen sejak 2022, yaitu dari 141 menjadi 210 pada saat ini. Pada 2024 Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan bahwa keberadaan Israel yang terus berlanjut di wilayah Palestina telah melanggar hukum dan harus diakhiri “secepat mungkin”.
Dalam pernyataannya, Ben-Gvir menambahkan bahwa lebih dari 240.000 pemukim Israel telah menerima izin senjata api sejak perluasan izin tersebut, jauh jika dibandingkan dengan sekitar 8.000 izin yang dikeluarkan setiap tahunnya pada tahun-tahun sebelumnya. “Jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya. Ia menambahkan bahwa izin tersebut berkontribusi pada “penggagalan serangan, pencegahan infiltrasi, dan menghentikan penyerang bahkan sebelum pasukan keamanan tiba”.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, sepanjang 2025 lebih dari 1.800 serangan pemukim terhadap warga Palestina – sekitar lima serangan per hari – telah didokumentasikan. Serangan tersebut mengakibatkan korban jiwa atau kerusakan properti di sekitar 280 komunitas di seluruh Tepi Barat, melampaui rekor serangan pemukim tahun sebelumnya, yakni lebih dari 350 serangan. Sebanyak 240 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk 55 anak-anak, telah terbunuh akibat serangan pasukan atau pemukim Israel pada 2025.
Sumber: Al Jazeera, Middle East Monitor








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)