Seorang dokter Australia, Jane Calder, meninggal pada Senin (29/11), di Kota Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, pada usia 89 tahun. Kantor media pemerintah menyataka,: “Dr. Calder adalah salah satu ikon pekerjaan kemanusiaan yang mendukung dan mengadvokasi perjuangan Palestina.”
Perempuan tangguh ini mengabdikan hidupnya untuk melayani masyarakat Gaza melalui pekerjaan medisnya. Dia telah bekerja selama bertahun-tahun sebagai Dekan Fakultas Pengembangan Kapasitas Universitas di Gaza, dan merupakan salah satu kontributor pertama dalam pendirian Organisasi Palang Merah Palestina. Kantor media menyatakan bahwa Calder “bersikeras tinggal di Gaza untuk terus menyampaikan pesan kemanusiaannya.”
Dia meninggalkan keluarganya dan tanah airnya, Australia, dan berangkat 41 tahun yang lalu ke Timur Tengah, dengan tujuan membantu anak-anak untuk hidup dengan aman dan stabil. Kisah Jane Calder dimulai setelah kedatangannya di Beirut pada 1980 sebagai relawan. Pada 1981, dia menjadi sukarelawan Bulan Sabit Merah Palestina di Lebanon, serta mendirikan unit rehabilitasi dan terapi fisik di Rumah Sakit Haifa di kamp “Burj Al-Barajneh” untuk melayani orang-orang berkebutuhan khusus di kamp tersebut.
Selama invasi Israel ke Lebanon pada 1982, di tengah konfrontasi dan pengeboman, Jane melakukan pertempuran mulia dengan tujuan mempertahankan hidup, mencari rumah sakit bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Selama perang Israel di Lebanon, dia menemukan tiga anak yang orang tuanya tidak diketahui, Dalal, Hammouda dan Bilal. Semuanya berkebutuhan khusus, Hamouda menderita quadriplegia dan keterbelakangan mental, Bilal menderita atrofi mental, dan Dalal buta sejak lahir. Jane kemudian mengadopsi tiga anak tersebut dan mereka menjadi keluarga.
Jane Calder bekerja dengan bantuan Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina untuk mengeluarkan ketiga anaknya dari Lebanon, dan dia pindah bersama mereka ke Suriah untuk menghindari perang, namun Bilal tidak bisa ikut karena masalah administrasi. Untuk sementara, Bilal dirawat oleh salah satu perawat Palang Merah hingga akhirnya pada 1985, Jane Calder dan Bulan Sabit Palestina berhasil memindahkan Bilal ke Mesir, untuk menyatukan kembali keluarga mereka.
Mereka kemudian menetap di Mesir selama 10 tahun. Di Mesir, Jane mendirikan pusat “Ain Shams” untuk rehabilitasi warga Palestina dengan kebutuhan khusus yang tinggal di wilayah Mesir. Pada 1995, Jane kemudian memutuskan untuk membawa ketiga anaknya untuk tinggal di Jalur Gaza dan menetap di Khan Yunis. Pada 1997, dia mendirikan Capacity Development College, tempat dia secara sukarela melayani rakyat Palestina hingga akhir hayatnya.
Tentang tiga anak adopsinya, Jane berkata tentang mereka: “Ini adalah keluarga saya yang menemani saya tinggal di Gaza. Mereka masih ada dalam pikiran saya, hingga kini.. Di wajah mereka saya melihat kemenangan hidup.” Anak-anaknya, Hamouda, yang menderita quadriplegia dan keterbelakangan mental, hidup selama dua puluh enam tahun di pelukan ibunya, Jane Calder, hingga meninggal tahun 2008 karena kondisi kesehatannya.
Adapun Bilal telah menikah dua tahun lalu, sedangkan Dalal menyelesaikan studinya dan memperoleh gelar master dalam ilmu humaniora, dan saat ini menjadi dosen universitas dan Kepala Departemen Fakultas Pendidikan Berkelanjutan di Universitas Bulan Sabit Merah Palestina. Dalal fasih berbahasa Inggris dan Prancis dengan baik. Hal tersebut membuktikan bahwa Jane membesarkan ketiga anaknya dengan baik dan sangat berdedikasi dalam tugas kemanusiaannya, dan yang terpenting adalah dia selalu peduli dengan Palestina di mana pun ia berada. Selamat jalan Jane Calder, jasa-jasamu akan selalu dikenang selamanya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








