JAKARTA — Pada Jumat, (02/08) Adara Relief International telah menyalurkan bantuan untuk Gaza berupa pendirian Sekolah Darurat untuk anak-anak korban agresi di wilayah As-Shabrah, Gaza City yang bisa menampung 300 murid.

Genosida Israel yang dilakukan terhadap rakyat Palestina di Gaza, diiringi dengan scholasticide atau penghancuran secara sistematis terhadap sekolah. Istilah scholasticide merujuk kepada penghancuran sistemik pendidikan melalui penangkapan, penahanan, atau pembunuhan guru, siswa dan staf serta penghancuran infrastruktur pendidikan. Israel ingin memusnahkan hak penduduk Gaza terhadap pendidikan dengan menghancurkan sekolah-sekolah dan institusi pendidikan lain yang ada di Gaza.
Menurut Kementerian Pendidikan di Gaza, terdapat lebih dari 800.000 siswa dari berbagai jenjang pendidikan yang harus kehilangan akses pendidikan sejak 7 Oktober. Sebanyak 40.000 di antaranya tidak dapat mengikuti ujian kelulusan SMA. Sementara itu, setidaknya 85% fasilitas pendidikan tidak dapat lagi digunakan akibat dijadikan sasaran penghancuran Israel.
Kementerian pendidikan juga menyatakan bahwa 346 sekolah negeri dan 65 sekolah UNRWA telah hancur dan dirusak. Bahkan pada 17 Januari 2024 lalu, Gaza telah kehilangan universitas terakhirnya, Universitas Israa yang terletak di selatan Gaza.
Tahun ajaran baru di Gaza selalu menjadi momen istimewa, diwarnai kegembiraan saat ribuan siswa memulai perjalanan akademis mereka. Banyak yang berharap masa depan yang mereka impikan bisa terwujud. Namun, di tengah agresi, 70% sekolah di Gaza hancur, dan sebagian diubah menjadi tempat penampungan bagi para pengungsi. Meskipun begitu, semangat belajar anak-anak Gaza tetap tinggi. Untuk mendukung mereka dan membangun kembali impian mereka, Adara mendirikan sekolah darurat.
Tepat pada tanggal 2 Agustus Adara Relief International bersama Madani Human Care mengirimkan bantuan berupa pendirian Sekolah Darurat untuk 300 anak-anak Gaza yang berada di As-Shabrah, Gaza City. Bantuan Sekolah Darurat merupakan bagian dari program Darurat Kemanusiaan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak yang terdampak bencana kemanusiaan di Gaza.

Sekolah Darurat ini berupa bangunan semi permanen yang terdiri dari 2 kelas, dengan jumlah total 300 siswa. Masing-masing kelas berisi 75 siswa pada setiap sesinya, dan berjumlah 150 siswa setiap harinya. Fasilitas yang diberikan untuk menunjang keberlangsungan sekolah darurat berupa sarapan, student kit, seragam, juga alat tulis untuk siswa dan guru. Para pengajar juga diberikan insentif bulanan selama mengajar di sekolah darurat.
Program ini akan berlangsung selama 3 bulan, dengan hari efektif belajar 20 hari setiap bulan. Mata pelajaran yang diajarkan di sekolah darurat adalah Pendidikan Agama, Olahraga, Science, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris. Program ini sudah dimulai sejak bulan Agustus 2024 dan akan selesai pada bulan Oktober 2024.

Anak-anak Gaza sangat bahagia ketika mendapatkan seragam dari tim lapangan Adara.

Tim lapangan Adara sedang membagikan makanan sehat untuk anak-anak.

Proses belajar mengajar di Sekolah Darurat.
Terima kasih Sahabat Adara dan seluruh masyarakat yang telah mengirimkan bantuan untuk warga Palestina yang berada di Gaza melalui Adara Relief International. Adara terus mengajak masyarakat Indonesia untuk bergerak menggalang dukungan dan donasi sebagai bentuk kontribusi nyata dalam meringankan beban warga Palestina di tengah krisis kemanusiaan hingga mereka dapat bangkit kembali.








