Dalam bukunya, Unclaimed Experience, Cathy Caruth, seorang tokoh terkemuka dalam teori sastra, memberikan kerangka psikoanalitik untuk memahami dampak Nakba Palestina terhadap seseorang. Dia mendefinisikan trauma sebagai “kisah tentang luka yang menangis, yang meminta kita untuk memberitahu realitas atau kebenaran yang tidak terjadi.”
Nakba memang merupakan luka terbuka yang sangat besar dalam sejarah dan ingatan Palestina yang dikisahkan kepada kita, dengan gigih dan sengaja, untuk mengingatkan kita tentang Palestina. Bagi warga Palestina yang tinggal di tanah Palestina atau di diaspora, Palestina adalah tempat hidup dari perpecahan traumatis yang memanggil kembali para korbannya–menghidupkan kembali citra dan memori tempat yang selama ribuan tahun, secara harfiah, adalah milik mereka.
Nakba adalah kehilangan dan pencarian tanpa akhir untuk pemulihan: panggilan untuk menghentikan penghapusan tanah air dan semua yang diperjuangkannya. Bagi sebagian besar orang Arab di Palestina dan di tempat lain, Nakba, sebagai trauma, mewakili kekalahan yang memalukan dari penduduk asli, pemilik tanah air yang sah, di tangan orang luar yang merebut, dengan bantuan pemerintahan yang korup secara moral.
Mengandalkan analisis George Tarabishi tentang kekalahan tahun 1967 sebagai trauma Arab, kita dapat menganggap efek Nakba yang bertahan lama sebagai luka yang menyembur dalam hasil perang yang tak terduga dan mengerikan. Nakba juga merupakan tindakan pemerkosaan (“ightisab”) terhadap tanah air dan budaya yang saling terkait dan akan selalu diingat sepenuhnya, bahkan terus berkembang. Nakba bukanlah sekadar peristiwa, melainkan perpecahan berkelanjutan dalam silsilah setiap orang Palestina.
Akan tetapi, alih-alih surut ke masa lalu yang jauh dan dilupakan secara regresif, Palestina justru semakin berkembang menjadi geografi baru, bidang budaya, dan arena geopolitik, hingga mampu menyatukan keturunannya antargenerasi melalui liturgi kehilangan yang mendalam dan harapan yang serius. Dari Sydney ke Istanbul, dari sana ke Cambridge, lalu Edinburgh, dan selanjutnya ke New York, AS, seorang Palestina kemungkinan besar akan bertemu.
Sebagai luka terbuka dan trauma, Nakba dijiwai dengan makna etis dan tanggung jawab moral yang melampaui Palestina sebagai tempat dengan batas fisik. Agar Palestina dapat berbicara kepada dunia, Palestina harus memuji semua orang yang menolak ketidakadilan, penindasan, dan pendudukan, tanpa memandang latar belakang etnis, agama, politik, atau gaya hidup mereka, seperti yang telah berhasil dilakukan Afrika Selatan selama perjuangan heroiknya melawan apartheid dan kolonialisme pemukim.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








