Masyarakat Tawanan Palestina (PPS) mengungkapkan bahwa Layanan Penjara Israel (IPS) terus menggunakan berbagai metode penyiksaan dan penghinaan terhadap para tawanan Palestina. Salah satu bentuk terbaru dari perlakuan ini adalah pemaksaan terhadap tawanan untuk mengenakan rompi dan gelang bertuliskan ancaman sebelum dibebaskan.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Sabtu malam, PPS menjelaskan bahwa teror sistematis yang dilakukan Israel terhadap para tawanan dan keluarga mereka semakin meningkat. Selain penyiksaan fisik dan psikologis, IPS juga menggunakan strategi penghinaan dan pelecehan, termasuk memaksa para tawanan yang dibebaskan untuk mengenakan pakaian dengan simbol-simbol Israel dan pesan ancaman.
PPS menyoroti bahwa banyak tawanan yang dibebaskan dalam pertukaran terbaru dan setelah agresi pemusnahan di Gaza mengalami masalah kesehatan akibat penyiksaan, kelaparan, serta kelalaian medis yang disengaja. Beberapa di antara mereka bahkan harus segera dilarikan ke rumah sakit saat dibebaskan. Tawanan yang mengalami sakit parah, seperti Mansour Muqada dan Iyad Haribat, menjadi bukti nyata dari kebrutalan sistem penjara Israel.
Salah satu momen yang mencerminkan perlawanan terhadap perlakuan ini terjadi ketika kelompok tawanan yang dibebaskan dalam tahap keenam dari kesepakatan Al-Aqsa Flood membakar pakaian yang dipaksa mereka kenakan oleh Israel. Setibanya di Rumah Sakit Eropa Gaza di Khan Yunis, mereka melepas pakaian putih bergambar Bintang David dan bertuliskan “Kami tidak akan memaafkan dan tidak akan melupakan,” lalu membakarnya di hadapan keluarga dan pendukung mereka. Aksi ini menegaskan bahwa rakyat Palestina yang sebenarnya tidak akan melupakan atau memaafkan kejahatan penjajahan yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade.
Akademisi dan pakar urusan Israel, Dr. Mohannad Mustafa, menjelaskan bahwa pemaksaan terhadap para tawanan untuk mengenakan pakaian dengan simbol dan pesan ancaman ini mencerminkan cara pandang Israel terhadap peristiwa-peristiwa terkini. Ia menilai bahwa slogan yang tertera pada pakaian tersebut diambil dari simbolisme Holocaust dalam ingatan kolektif Yahudi, menunjukkan bahwa Israel memandang peristiwa 7 Oktober 2023 sebagai kelanjutan dari sejarah tragis mereka. Mustafa juga menegaskan bahwa tindakan seperti ini belum pernah dilakukan sebelumnya dan merupakan indikasi dari melemahnya struktur politik serta militer Israel.
Sementara itu, kekerasan terhadap tawanan Palestina juga terus terjadi di dalam penjara. Di Penjara Damon, Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan Palestina melaporkan bahwa 13 perempuan Palestina menghadapi kondisi yang semakin buruk akibat perlakuan keras dari otoritas penjara Israel. Mereka dipaksa tinggal di sel yang dingin dengan jendela terbuka serta persediaan pakaian dan selimut yang sangat terbatas di tengah suhu rendah.
Para tawanan perempuan juga mengalami berbagai bentuk penyiksaan, seperti diborgol, ditutup matanya, dan diseret saat dipindahkan ke klinik penjara atau bertemu pengacara. Mereka juga sering dipindahkan dari satu sel ke sel lainnya tanpa pemberitahuan, dengan tujuan untuk menambah tekanan kepada mereka di dalam penjara. Beberapa di antara mereka mengungkapkan bahwa petugas sering kali memasuki sel mereka pada malam hari saat mereka tidur, memaksa mereka untuk selalu tidur dengan mengenakan kerudung.
Kekerasan serupa juga terjadi di Penjara Ofer, sebelah barat Ramallah, Tepi Barat. Unit khusus penjara Israel melakukan penggerebekan di salah satu bagian penjara dan menyerang para tawanan. Menurut laporan Kantor Media Tawanan, para tawanan dipukuli dan disemprot dengan gas. Hamas mengecam tindakan ini sebagai kejahatan yang mencerminkan sifat teroris Israel dan sebagai upaya putus asa untuk memulihkan reputasi yang telah hancur. Hamas juga menyerukan agar kejahatan tidak manusiawi ini diekspos ke dunia internasional.
Organisasi hak asasi manusia Palestina melaporkan bahwa Israel saat ini menahan lebih dari 10.000 warga Palestina di berbagai penjaranya. Namun, angka ini belum mencakup semua tawanan dari Gaza. Selama agresi genosida, ada banyak orang ditahan tanpa informasi yang jelas tentang nasib atau lokasi mereka. Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan Palestina serta Masyarakat Tawanan Palestina menegaskan bahwa Layanan Penjara Israel harus bertanggung jawab atas keselamatan dan nasib ribuan tawanan yang masih berada di penjara, terutama mereka yang berada di Penjara Ofer dan mengalami kekerasan brutal.
Waktu terus menjadi faktor krusial bagi nasib para tawanan Palestina. Semakin lama mereka berada di penjara Israel, semakin besar pula risiko terhadap kesehatan dan keselamatan mereka. Semua tindakan penyiksaan dan ancaman ini bukan hanya bertujuan untuk membunuh secara fisik, tetapi juga untuk menginjak dan melecehkan martabat tawanan Palestina di dalam kesadaran kolektif rakyat Palestina.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








