Pada 18 Mei 2021 pukul 5 pagi, Samir Mansour yang berada di rumahnya sedang menonton televisi ketika terdengar peringatan bahwa gedung lima lantai yang menjadi toko buku dan juga sumber penghidupannya akan dibom oleh Israel.
Ia pun bergegas menuju toko bukunya yang sejauh dua kilometer dan berharap dapat menyelamatkan beberapa surat penting dan laptop miliknya. Akan tetapi, dalam jarak 200 meter menuju tokonya, ia berhenti karena khawatir berisiko terjebak di dalamnya ketika serangan udara berlangsung.
Beberapa menit kemudian, pesawat Israel menembakkan dua rudal dan Samir menyaksikan gedung toko buku tersebut runtuh.
“Bangunan yang menampung impian dan pencapaian saya selama 21 tahun runtuh di depan mata saya. Saat itu saya tahu apa arti rasa sakit dan kehilangan semua yang engkau cintai,” ungkapnya.
Toko buku tersebut diperkirakan menampung sebanyak 100.000 buku dan kerugian yang dialaminya ditaksir mencapai $700,000.
Insiden penghancuran tersebut merupakan bagian dari serangan 11 hari Israel di Jalur Gaza yang kala itu menewaskan setidaknya 260 orang dan menghancurkan ribuan rumah dan gedung perusahaan.
“Saya tidak memiliki hubungan dengan kelompok bersenjata atau partai politik mana pun. Ini merupakan serangan terhadap budaya,” tambahnya.
Selama dua intifadah dan tiga perang di Jalur Gaza, belum pernah sama sekali terjadi penghancuran terhadap toko buku.
Sembilan bulan setelah dihancurkan, toko buku Samir kembali dibuka dengan gedung tiga lantai dan berisi 300.000 buku tentang berbagai topik, termasuk budaya, pendidikan, agama, dan hukum.
Restorasi ini terjadi setelah pengacara hak asasi manusia, Mahvish Rukhsana dan Clive Stafford Smith meluncurkan kampanye penggalangan dana internasional untuk membangun kembali gedung tersebut, sumbangan buku, dan finansial.
“Keberhasilan proyek ini adalah bukti kebaikan dalam kemanusiaan. Menghadapi kesulitan yang luar biasa, ribuan orang di seluruh dunia berkumpul untuk mendukung orang-orang Gaza,” kata Mahvish.
Samir pun mengatakan bahwa toko buku miliknya saat ini jauh berkali-kali lebih kuat daripada sebelumnya.
“Pesan saya kepada seluruh pemuda Arab dan Palestina adalah bahwa semua hal bisa saja jatuh dan hancur; kita mungkin kehilangan dalam pertempuran sosial dan militer, tetapi, kita tidak boleh kalah dalam pertempuran pemikiran, kesadaran, dan sastra karena mereka adalah akar dari kewarganegaraan dan keaslian. Maka, kita harus melestarikannya,” simpulnya.
Sumber :
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.








