Gaza menghadapi krisis kemanusiaan dan lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat serangan brutal yang terus dilancarkan oleh tentara pendudukan Israel. Organisasi medis dan Kantor Media Pemerintah (GMO) di Gaza memperingatkan bahwa situasi di wilayah tersebut telah mencapai titik bencana bersejarah, baik dalam hal kesehatan, lingkungan, maupun kehidupan masyarakat sipil.
Direktur Organisasi Bantuan Medis di Gaza, Mohammed Abu Afash, menyatakan bahwa “bencana lingkungan yang serius” mengancam wilayah utara Jalur Gaza akibat menumpuknya jasad warga Palestina yang terbunuh oleh serangan Israel. Banyak mayat yang berserakan di jalan-jalan tidak dapat dievakuasi karena serangan yang terus berlanjut, sehingga memicu ancaman lingkungan yang signifikan.
“Anjing dan kucing liar memakan mayat-mayat tersebut,” ujar Abu Afash. Kondisi ini diperburuk oleh kurangnya staf medis dan peralatan bedah yang parah, karena rumah sakit dan tim medis sering menjadi sasaran serangan yang menyebabkan runtuhnya sistem perawatan kesehatan di Gaza utara.
Menurut Kantor Media Gaza, rakyat Palestina tengah menghadapi serangan paling brutal di zaman modern. Dalam beberapa hari terakhir saja, lebih dari 110 warga Palestina terbunuh akibat pembantaian yang dilakukan oleh tentara Israel. Serangan ini juga menargetkan pengungsi, jurnalis, tim medis, dan personel pertahanan sipil.
Kantor Media Gaza juga menyoroti sejumlah pembantaian mengerikan di berbagai lokasi, termasuk di Sekolah Khalil Awida di Beit Hanoun yang membunuh lebih dari 43 orang, pembantaian di Kamp Al-Nuseirat dengan lebih dari 42 korban jiwa, dan serangan di Kamp Al-Bureij yang menargetkan keluarga Al-Qurenaoui. Serangan di Kota Deir al-Balah bahkan membunuh Wali Kota Dr. Diab Al-Jaru, menambah daftar empat wali kota yang dibunuh dalam upaya Israel menciptakan kekosongan administratif.
Lebih lanjut, Kantor tersebut menegaskan bahwa Israel menjalankan strategi “kelaparan sistematis” terhadap lebih dari 2,4 juta warga Gaza, termasuk satu juta anak-anak dan hampir satu juta perempuan. Israel menghentikan pengiriman bantuan ke Gaza utara sejak November, sementara blokade yang terus diperketat telah menghalangi masuknya obat-obatan, makanan, dan kebutuhan pokok lainnya. Tingkat kelaparan dan kerawanan pangan pun melonjak tajam, dengan lebih dari 91 persen populasi Gaza berada di ambang krisis pangan akut.
Selain dampak kemanusiaan, serangan ini juga menciptakan krisis lingkungan yang berbahaya. Jasad-jasad yang tidak dapat diurus serta infrastruktur yang hancur memperburuk kondisi kesehatan dan kebersihan di wilayah tersebut. Rumah sakit Kamal Adwan di Gaza utara, salah satu yang masih bertahan, hanya dapat menerima bantuan terbatas dari WHO dan tidak mampu melayani semua korban yang terluka.
GMO mengutuk keras kejahatan berlipat ganda yang dilakukan oleh Israel, termasuk pembunuhan sistematis terhadap wartawan, tim medis, dan personel pertahanan sipil, serta taktik melaparkan penduduk yang disengaja. Mereka juga menuding negara-negara pendukung Israel, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis, turut bertanggung jawab secara moral dan hukum atas genosida yang sedang berlangsung.
Organisasi ini mendesak masyarakat internasional dan organisasi global untuk segera menekan Israel agar menghentikan genosida di Gaza, menyelamatkan nyawa warga sipil yang tak berdosa, serta memulihkan bantuan kemanusiaan yang terhenti. Tanpa tindakan nyata, krisis kemanusiaan dan lingkungan di Gaza akan terus memburuk, meninggalkan luka yang sulit disembuhkan bagi rakyat Palestina.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








