Petugas keamanan Peter Belongola melaporkan korban tewas akibat banjir di bagian timur Republik Demokratik Kongo (DRC) telah melonjak menjadi 425, dengan lebih dari 5.500 orang masih dinyatakan hilang. Banjir dan tanah longsor melanda wilayah Kalehe pekan lalu di Provinsi Kivu Selatan. Pekerja bantuan menemukan lebih banyak mayat di antara reruntuhan berlumpur, selain juga warga yang meninggal di klinik lokal karena luka-luka yang diderita dan kurangnya dukungan medis.
Administrator wilayah Kalehe, Thomas Bakenga, mengatakan jumlah korban tewas telah meningkat sejak Jumat (5/5). Hujan deras yang mengguyur wilayah Kalehe pada Kamis malam telah menyebabkan luapan sungai Cibira dan Nyamukubi yang berujung banjir dan tanah longsor yang merusak puluhan rumah dan menewaskan warga. Bakenga mengatakan pada Sabtu bahwa 170 jenazah telah ditemukan, tetapi angka itu naik menjadi 400 pada Senin (8/5).
Ini adalah bencana alam paling mematikan dalam sejarah Kongo baru-baru ini. Korban yang selamat, Paul Serushago, masih mencari mayat dua keluarganya pada Selasa (9/5), menggali lumpur dengan sekop, juga menggali puing-puing yang mencapai separuh jalan pintu rumah mereka di Nyamukubi. “Kami sudah mencari mereka sejak Jumat (5/5) dan belum menemukan mereka,” katanya sambil istirahat sejenak.
Skala kehancuran telah menyoroti kerentanan orang terhadap krisis iklim di banyak bagian Afrika. Perencanaan kota yang buruk dan infrastruktur yang lemah membuat masyarakat sering tidak dapat menahan paparan cuaca ekstrem yang meningkat. Di Nyamukubi, seluruh lingkungan telah ditabrak batu-batu besar, dan bau mayat berembus dari bumi, kata seorang wartawan Reuters di tempat kejadian. Para tunawisma berdesakan di beberapa bangunan umum dengan sanitasi yang buruk.
Palang Merah percaya bahwa lebih dari 8.000 orang membutuhkan bantuan. Upaya bantuan tertatih-tatih karena kurangnya akses dan sumber daya. “Kami tidak dapat menangani jenazah sebanyak ini secepat yang dibutuhkan. Kami mencari jenazah dengan sekop, dengan tangan,” kata John Kashinzwe Kibekenge, juru bicara Palang Merah di provinsi Kivu Selatan.
Pejabat pemerintah membawa selimut, makanan, dan beberapa peti mati ke Nyamukubi pada Selasa (9/5). Mereka menyumbangkan uang ke klinik setempat dan memberikan sekitar $1.100 kepada 200 keluarga yang terkena dampak. Namun, delegasi tidak ikut pemakaman seperti yang direncanakan atau mengunjungi Bushushu, daerah dengan jumlah korban tewas terbanyak.
Banyak yang menangis karena kehilangan orang yang dicintai, tanaman yang rusak, dan rumah yang hancur. Beberapa meminta pemerintah untuk memindahkan mereka jauh dari zona bencana dengan air mengalir deras dari lereng bukit yang subur. Pekerja bantuan menempatkan mayat di kuburan massal yang digali selama akhir pekan. Hal ini juga menuai keluhan dari kelompok masyarakat sipil dan mendorong pemerintah menjanjikan bantuan untuk penguburan yang lebih bermartabat.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








