UE masih enggan menuntut gencatan senjata di Jalur Gaza meski serangan Israel dilancarkan tanpa henti di wilayah kantong tersebut, membunuh lebih dari 11.000 warga sipil, termasuk 5.000 anak-anak. Para pejabat tinggi blok tersebut awalnya menyatakan dukungan tanpa syarat terhadap serangan Israel dan mengecam keras kelompok Perlawanan Palestina, Hamas.
Para pemimpin Uni Eropa, termasuk Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengabaikan jumlah korban jiwa warga sipil dan situasi kemanusiaan yang sangat buruk di Gaza dan menegaskan kembali bahwa Israel mempunyai hak untuk membela diri.
Pernyataan Komisaris Eropa untuk Lingkungan dan Perluasan, Oliver Varhelyi, 9 Oktober, menimbulkan kebingungan ketika dia mengatakan bantuan pembangunan dan semua temuan untuk Palestina akan ditinjau. Sementara itu, kunjungan Leyen pada tanggal 14 Oktober ke Israel untuk menyatakan dukungan tanpa syarat kepada Netanyahu, tanpa menyebutkan situasi kemanusiaan di Gaza, menimbulkan kritik di dalam UE.
Para diplomat dari delegasi UE di seluruh dunia memperingatkan Leyen melalui surat bahwa UE berisiko kehilangan reputasinya. Sementara itu, semakin banyak masyarakat Eropa yang memprotes kebijakan UE terkait situasi Israel-Palestina. Uni Eropa kemudian mulai menekankan bahwa hak pembelaan diri Israel harus dilaksanakan sesuai dengan hukum internasional.
Dalam pertemuan puncak para pemimpin luar biasa yang dipimpin oleh Presiden Dewan Uni Eropa, Charles Michel, yang bertepatan dengan serangan Israel terhadap sebuah rumah sakit pada tanggal 17 Oktober yang menewaskan lebih dari 500 orang, para pemimpin Uni Eropa menghindari pernyataan bahwa serangan Israel yang melanggar hukum internasional harus dihentikan.
Uni Eropa diperkirakan akan meminta gencatan senjata dalam menghadapi melonjaknya korban sipil di Gaza, tetapi pertemuan puncak para pemimpin pada 26–27 Oktober hanya mendesak jeda kemanusiaan yang memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.
Sejalan dengan meningkatnya angka kematian di Gaza, UE merasakan tekanan yang lebih besar dari masyarakat yang menuntut gencatan senjata segera. Von der Leyen menekankan pada 8 November bahwa warga sipil di Gaza harus dilindungi setelah menegaskan kembali dukungannya terhadap hak pertahanan diri Israel.
Pada 12 November Kepala Kebijakan Luar Negeri blok tersebut, Josep Borrell, menyatakan keprihatinan yang mendalam atas krisis kemanusiaan yang semakin parah di Gaza, dan menyerukan penghentian peperangan dan pembentukan koridor kemanusiaan.”
Meskipun pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa pada hari Senin tidak menghasilkan keputusan konkret, Borrell mengatakan Gaza harus menjadi bagian dari Negara Palestina di masa depan.
Serangan Israel di Jalur Gaza terus berlanjut selama 39 hari berturut-turut, dengan sedikitnya 11.240 warga Palestina terbunuh, termasuk lebih dari 7.700 wanita dan anak-anak. Ribuan bangunan, termasuk rumah sakit, masjid dan gereja juga rusak atau hancur akibat serangan yang tiada henti tersebut. Sementara itu, korban tewas di Israel adalah 1.200 orang, menurut angka resmi.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








