Sebuah laporan terbaru dari The Economist memperingatkan bahwa Gaza kini mungkin memiliki konsentrasi bom dan amunisi yang tidak meledak (UXO) tertinggi dibandingkan zona konflik mana pun di dunia. Ancaman ini diperkirakan akan membahayakan warga sipil selama puluhan tahun, bahkan setelah serangan udara Israel berhenti.
Bahaya terbesar tersembunyi di bawah puing-puing bangunan. Pasukan pendudukan Israel menjatuhkan banyak bom berfitur sumbu tunda yang dapat meledak dalam hitungan hari, minggu, atau bahkan berbulan-bulan kemudian. Kondisi ini menyulitkan upaya pembersihan dan mengancam warga yang mulai kembali ke wilayah tempat tinggal mereka.
Menurut data PBB yang dikutip dalam laporan tersebut, setidaknya 53 warga telah terbunuh dan ratusan lainnya terluka akibat sisa bom dan ranjau yang tidak meledak. Namun, organisasi kemanusiaan meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi.
Salah satu kasus paling memilukan menimpa dua anak kembar berusia enam tahun, Yahya dan Nabila al-Sharbasi, yang mengalami luka parah ketika bermain dengan benda yang mereka kira mainan, padahal itu merupakan sebuah bom yang belum meledak di wilayah rumah mereka yang hancur. Lembaga bantuan menegaskan bahwa insiden semacam ini menunjukkan betapa rentannya anak-anak di kawasan permukiman Gaza yang padat.
PBB memperkirakan lebih dari 7.000 ton bahan peledak yang tidak meledak tersebar di sekitar 40% wilayah pemukiman Gaza, dengan konsentrasi tertinggi di Beit Hanoun, Beit Lahia, dan Jabalia.
Organisasi kemanusiaan Humanity & Inclusion memperkirakan bahwa pembersihan total bisa memakan waktu 20–30 tahun, bahkan lebih lama tanpa dukungan internasional. “Pembersihan puing sepenuhnya tidak akan pernah terjadi,” kata Nick Orr, ahli penjinakan bahan peledak. “Banyak yang terkubur sangat dalam dan kita akan menemukannya hingga beberapa generasi.”
The Economist mencatat bahwa bahkan tim PBB masih kesulitan membersihkan sisa bom dan ranjau di Kota Mosul setelah bertahun-tahun perang melawan ISIS. Namun, Gaza mengalami bombardir yang jauh lebih intens, membuat proses penjinakan di sana jauh lebih rumit dan berbahaya.
Upaya pembersihan juga terhambat oleh pembatasan ketat Israel yang mencegah masuknya tim ahli, peralatan penting, maupun pelatihan profesional bagi pekerja Palestina. Banyak alat penting diklasifikasi sebagai material “dual-use” sehingga dilarang masuk.
Akibatnya, tim lokal terpaksa berimprovisasi, misalnya menggunakan kantong makanan bekas yang diisi pasir sebagai pelindung ledakan darurat.
Laporan itu menyimpulkan bahwa Gaza kini menghadapi salah satu tantangan kontaminasi bahan peledak terbesar di dunia. Berbeda dengan Mosul dan kota lain pascaperang, penduduk Gaza tidak dapat dievakuasi selama proses pembersihan karena tidak ada zona aman setelah Israel menghancurkan sebagian besar infrastruktur sipil di seluruh wilayah
Sumber: Palinfo







![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-75x75.jpg)
