Kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, ke Al-Quds (Yerusalem) yang diduduki memicu kecaman luas. Rubio menemani Perdana Menteri Israel yang masuk daftar ICC, Benjamin Netanyahu, di Tembok Al-Buraq Masjid Al-Aqsa dan ikut serta dalam ritual Zionis. Ia juga meresmikan terowongan permukiman sepanjang 600 meter di bawah Kota Tua yang berakhir dekat fondasi Tembok Buraq.
Netanyahu memuji kunjungan Rubio dan mengklaim sebagai bukti bentuk aliansi tak tergoyahkan AS-Israel dan menyebutnya sebagai “sahabat luar biasa.” Bagi banyak analis, tindakan tersebut bukanlah tindakan spiritual, melainkan pesan politik yang jelas, terutama karena kunjungan ini bertepatan dengan pertemuan para pemimpin Arab dan Muslim di Doha untuk membahas genosida Israel di Gaza.
Analis politik Ahmed Al-Hila menilai kunjungan Rubio dimaksudkan untuk memperkuat proyek yahudisasi Al-Quds (Yerusalem) dan menunjukkan bahwa Washington tidak bisa bertindak sebagai mediator netral. Ia menyerukan negara-negara Arab dan Muslim untuk mengandalkan diri sendiri dalam membela Masjid Al-Aqsa dan keamanan regional.
Liqaa Maki, seorang akademisi media, menyebut Rubio yang mengenakan kippah, topi kecil Yahudi, di depan Tembok Buraq sebagai propaganda yang sengaja disusun untuk melemahkan pertemuan Doha. Peneliti Saeed Al-Haj menambahkan bahwa kunjungan ini terjadi beberapa hari setelah serangan Israel yang gagal di Doha, menunjukkan dukungan tak terbatas Washington kepada Israel.
Ahli urusan Israel, Muhannad Mustafa, menekankan bahwa pembukaan terowongan ini merupakan bagian dari proyek kolonial Israel untuk mengendalikan dan meyahudikan kompleks Al-Aqsa. Sari Orabi, analis politik, menilai tur terowongan tersebut sebagai “pesan dukungan langsung” bagi Israel, bahwa Netanyahu lebih mengutamakan dukungan AS ketimbang isolasi global terhadap Israel.
Profesor Kuwait Abdullah Al-Shayji menyatakan kunjungan tersebut memperlihatkan dominasi pengaruh Zionis dalam kebijakan AS, yang ia sebut sebagai “ritual wajib” bagi pejabat Amerika yang berkunjung ke Israel. Ia menambahkan, “Kadang yang kecil mengendalikan yang besar bukan sebaliknya,” menggambarkan hubungan khusus AS-Israel.
Sementara itu, tokoh Palestina di Al-Quds (Yerusalem) memperingatkan bahaya serius yang mengancam Masjid Al-Aqsa. Fakhri Abu Diab, peneliti dan anggota Dewan Wakaf Al-Aqsa, menyebut situs suci itu memasuki fase hari-hari yang sangat berbahaya dan sulit. Ia menekankan upaya Israel untuk mengubah status quo Masjid Al-Aqsa melalui penggalian terowongan bertujuan untuk memalsukan sejarah dan menciptakan hubungan palsu antara Yahudi dan Masjid Al-Aqsa, dengan dukungan pemerintah AS.
Arkeolog Al-Quds (Yerusalem), Bashar Abu Shamsiya, mengungkap terowongan baru di Silwan yang menghubungkan langsung ke Gerbang Al-Maghariba. Terowongan ini melewati jalan utama dan berakhir di gerbang Al-Maghariba, yang secara otomatis memfasilitasi penetrasi pemukim dan proyek yahudisasi. Ia mencatat bahwa terowongan ini merupakan bagian dari jaringan penggalian lebih luas yang kini berlangsung dengan cepat di Kota Tua.
Dalam sepekan terakhir, 915 pemukim menyerbu Al-Aqsa dengan pengawalan polisi Israel, sementara kelompok ekstremis “Bidino” menyerukan serangan besar-besaran antara 22–24 September, bertepatan dengan ritual Tahun Baru Yahudi. Pada Agustus lalu, Masjid Al-Aqsa mengalami pelanggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni lebih dari 8.134 pemukim memasuki kompleks untuk melakukan ritual seperti meniup shofar.
Pada 3 Agustus, bertepatan dengan apa yang disebut Israel sebagai peringatan “kehancuran Bait Suci,” sebanyak 3.969 pemukim menyerbu Masjid dalam satu hari. Serbuan dipimpin Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, bersama pejabat senior dan anggota Knesset. Pemukim juga menodai Pemakaman Bab al-Rahma, merusak batu nisan Muslim, bahkan menggelar pernikahan di dalam kompleks sambil mengibarkan bendera Israel.
Menanggapi eskalasi ini, aktivis di Al-Quds (Yerusalem) dan seluruh Palestina yang diduduki menyerukan mobilisasi massal, kehadiran, dan keteguhan di halaman-halaman Al-Aqsa untuk menghadang pemukim dan skema pemerintah. Mereka menekankan pentingnya menjaga kehadiran, melaksanakan salat di situs tersebut, dan menggagalkan upaya Israel untuk mengasingkan Masjid Al-Aqsa dari umat Islam dan identitas keagamaannya.
Sumber:
Qudsnen, Palinfo








