Kampanye militer Israel yang sedang berlangsung di Gaza telah menciptakan bencana lingkungan yang berisiko bagi kesehatan langsung maupun jangka panjang untuk warga Palestina, menurut para ahli dan laporan terbaru, Anadolu Agency melaporkan.
Agresi Israel sejak 7 Oktober tahun lalu, telah memaksa lebih dari 85 persen penduduk Gaza meninggalkan rumah mereka. Hal tersebut menyebabkan mereka tinggal berdesakan di pengungsian sementara, di tengah tumpukan sampah dan puing-puing. Pemerintah setempat berjuang untuk mengelola pengumpulan sampah karena kekurangan bahan bakar dan infrastruktur yang rusak.
Laporan oleh organisasi yang berpusat di Belanda, PAX for Peace, yang berjudul “Perang dan Sampah di Gaza” menggambarkan krisis pengelolaan limbah di wilayah tersebut. Menurut laporan itu, sedikitnya 225 lokasi pengumpulan limbah dengan berbagai ukuran tersebar di Jalur Gaza, tetapi operasi militer Israel telah merusak kendaraan pengangkut dan memblokir akses ke area pembuangan.
Hasilnya adalah ratusan ribu ton sampah padat menumpuk di jalan-jalan dan ladang. Sekitar 330.000 ton sampah padat telah terkumpul di seluruh Gaza – cukup untuk memenuhi lebih dari 150 lapangan sepak bola, menurut perkiraan UNRWA.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa ini adalah ancaman terselubung bagi warga Palestina yang mengungsi, seraya menyebutkan bahwa suhu tinggi, infrastruktur kesehatan yang rusak, kerawanan pangan, dan kurangnya perawatan medis sebagai faktor-faktor yang memperburuk keadaan.
“Meskipun dampak perang terhadap infrastruktur kesehatan Gaza telah disiarkan secara luas di televisi, lensa kamera gagal menangkap situasi yang terjadi di luar rumah sakit yang tersisa di wilayah tersebut. Tanpa mekanisme pembuangan yang tepat, produk medis terpaksa dibuang di tempat terbuka. Jika tidak diolah dengan benar, limbah tersebut dapat melepaskan bahan kimia dan zat radioaktif ke dalam tanah atau air bawah tanah, yang menyebabkan penyebaran penyakit seperti Hepatitis B dan C,” kata laporan PAX for Peace yang dirilis pada Juli.
Air dan tanah yang terkontaminasi juga berpotensi memasuki rantai makanan melalui kegiatan pertanian, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ekosistem dan populasi di luar perbatasan Gaza, demikian yang diungkapkan dalam laporan tersebut.
Gaza menghasilkan sekitar 2.000 ton sampah setiap hari yang dikelola oleh 500 gerobak keledai dan 76 kendaraan pengangkut sampah. Satu kendaraan pengangkut sampah melayani sekitar 21.000 orang di sana, menurut Program Pembangunan PBB (UNDP).
Krisis ini tidak hanya terbatas pada limbah padat. Seyfi Kilic dari Universitas Mugla Sitki Kocman di Turki mengatakan kepada Anadolu bahwa tindakan Israel telah membuat masalah lingkungan di Gaza, termasuk pembuangan limbah, menjadi tidak dapat dipisahkan.
Kilic berpendapat bahwa ini adalah bagian dari kebijakan Israel yang sudah berlangsung lama untuk membuat Wilayah Palestina tidak layak huni. Ia mengutip hukum internasional yang melarang teknik modifikasi lingkungan dalam peperangan, yang menunjukkan bahwa penggunaan senjata konvensional secara intensif oleh Israel bertujuan untuk membuat Gaza tidak layak huni.
“Gaza selalu menghadapi masalah besar terkait pasokan air dan pembuangan limbah padat dan cair karena kurangnya kewenangan penuh (dalam pengelolaan wilayah), embargo Israel, dan alasan lainnya,” katanya. “Namun, pendudukan yang parah ini membuatnya semakin sulit diatasi. Ini adalah tujuan utama Israel.”
Kerusakan lingkungan dapat menimbulkan konsekuensi yang berkepanjangan, Kilic memperingatkan, seraya menambahkan bahwa limbah dan puing bangunan yang tidak diolah dapat menyebabkan wabah malaria, kolera, dan tifus. Ia memandang hal ini sebagai bagian dari strategi militer Israel untuk mencegah warga Palestina tinggal di Gaza.
Kilic juga mencatat sejarah Israel yang merusak lahan pertanian Palestina di Gaza dan Tepi Barat. “Israel bermaksud mengubah Tepi Barat dan Gaza menjadi wilayah yang tidak cocok untuk pertanian,” katanya.
Upaya untuk menangani pengelolaan limbah di Gaza sudah ada sebelum agresi saat ini, tetapi pembatasan Israel menyebabkan sebagian besar air limbah dibuang tanpa diolah ke laut atau tanah. Sekarang, dengan jutaan orang terus-menerus mengungsi dan tinggal di tenda-tenda, Kilic yakin bahwa mengelola limbah hampir mustahil.
“Hal terpenting bagi orang-orang ini saat ini adalah kelangsungan hidup – akses terhadap makanan yang cukup,” katanya, seraya mencatat laporan tentang anak-anak dan bayi yang meninggal karena kelaparan.
“Ini semua adalah hasil dari taktik yang ditujukan untuk genosida.”
Sumber: https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








