Studi terbaru mengungkap bahwa penyandang disabilitas diabaikan secara sistematis di seluruh dunia terkait krisis iklim. Meskipun mereka sangat berisiko terkena dampak cuaca ekstrem. Melalui para aktivis pejuang hak-hak disabilitas, aspirasi mereka terdengar di konferensi iklim PBB COP27, yang saat ini sedang berlangsung di kota resor Mesir, Sharm el-Sheikh.
Tahun lalu, para aktivis iklim yang berfokus pada penyandang disabilitas memperoleh status resmi sebagai kaukus yang diakui oleh Sekretariat PBB, sebuah kemenangan besar dan puncak dari upaya bertahun-tahun untuk secara resmi disertakan dalam persidangan. Oleh karena itu, seseorang dari kaukus dapat berpidato di pleno penutupan untuk mengadvokasi hak-hak penyandang disabilitas dalam konteks krisis iklim. Aktivis juga memiliki ruang resmi untuk berkumpul.
Suhu dan gelombang panas yang lebih tinggi telah memengaruhi orang-orang dengan disabilitas fisik dan penyakit, seperti diabetes, penyakit kardiorespirasi, dan penyakit psikologis. Selain itu, beberapa obat, misalnya, juga dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk mengatur suhunya.
Isu kompensasi internasional untuk kerugian yang disebabkan oleh perubahan iklim, yang dikenal dalam PBB sebagai “loss and damage”, menjadi agenda utama para aktivis hak-hak disabilitas. Negosiator dari negara-negara berkembang telah menyerukan mekanisme internasional untuk mengatasi kerugian dan kerusakan di COP27. Mereka meminta negara-negara maju, yang telah membangun kekayaan mereka dengan emisi CO2 yang tidak terkendali, untuk membantu biaya keuangan yang ditanggung oleh negara-negara miskin.
Aktivis mengatakan para negosiator dan pembuat kebijakan telah mengabaikan bagaimana dampak perubahan iklim semakin memperburuk tantangan yang sudah dihadapi para difabel. Jason Boberg, anggota kaukus disabilitas di PBB, serta pendiri jaringan aksi iklim disabilitas, SustainedAbility, mengatakan bahwa hal terdepan yang mereka akan lakukan adalah mencari tahu dari mana dana kerugian dan kerusakan akan didapat dan bagaimana mengamankan sebagian dari dana tersebut untuk difabel yang tinggal di daerah rawan bencana.
Penelitian yang dilakukan oleh Human Rights Watch antara Maret 2021 dan Oktober 2022 menunjukkan bahwa bencana alam atau peristiwa cuaca ekstrem membuat difabel berisiko lebih tinggi mengalami kematian, serta terdampak secara fisik dan mental. Sebuah makalah penelitian yang diterbitkan pada awal tahun oleh Universitas McGill dan Aliansi Disabilitas Internasional menemukan bahwa hanya sedikit negara di dunia yang memperhitungkan kebutuhan difabel dalam rencana adaptasi iklim mereka. Tidak ada yang menyebut difabel dalam program mereka untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Boberg mengatakan salah satu tujuan berikutnya adalah peningkatan resmi kaukus baru ke tingkat “konstituen” dalam COP–sebuah organisasi koalisi. Dia juga mengatakan penting bagi para difabel untuk dimasukkan dalam rencana jangka pendek Aksi PBB untuk Pemberdayaan Iklim, yang akan dibahas dalam beberapa hari mendatang. Lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan disabilitas, menurut Organisasi Kesehatan Dunia.
Sumber:
https://www.trtworld.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








