Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa perubahan iklim turut menyumbang pada meningkatnya kejadian bencana. Fenomena el nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September mendatang dapat mengancam ketahanan pangan Indonesia. Bagaimana tidak, jika hal ini tidak dimitigasi dengan tepat, akan menimbulkan banyak dampak, mulai dari kekeringan ekstrem, gagal panen, krisis air bersih, sampai kebakaran lahan yang berpengaruh terhadap keberlanjutan ketahanan pangan.
“Perubahan iklim ini juga mengancam ketahanan pangan seluruh negara. Organisasi pangan dunia FAO bahkan memprediksi tahun 2050 mendatang, dunia akan menghadapi potensi bencana kelaparan akibat perubahan iklim, sebagai konsekuensi dari menurunnya hasil panen dan gagal panen,” ujar Dwikorita. Menurut Global Food Security Index, Indonesia berada di urutan ke-4 se Asia Tenggara dalam hal ketahanan pangan dengan angka 60.2 poin. Jangan sampai dengan adanya fenomena el nino, membuat Indonesia kelabakan dengan masalah pangannya.
Menurut Dwikorita, ketersediaan sumber daya alam di Indonesia sejauh ini memang masih melimpah karena kondisi geografis di Indonesia memungkinkan panen setiap tahunnya. Namun demikian, jika tidak direspons secepat mungkin, Indonesia bisa mengalami bencana kelaparan pada 2050. Oleh karena itu, Dwikorita menekankan pentingnya aksi mitigasi dan adaptasi dalam menghadapi perubahan iklim. Dwikorita mengungkapkan aksi Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim perlu dilakukan dengan menekankan di 3 aspek yaitu ekonomi, sosial, dan ekosistem atau bentang alam.
Ketahanan pangan nasional Indonesia, lanjut Dwikorita, juga dihadapkan pada tantangan besar berupa kenaikan populasi penduduk di tengah produksi pangan yang cenderung stagnan. “Suhu atau temperatur bumi secara global saat ini naik 1,2 derajat Celsius. Angka tersebut dipandang sebagai angka yang kecil, padahal itu adalah angka yang besar dan mematikan. Banyak fenomena ekstrem, bencana hidrometeorologi yang diakibatkan pemanasan global tadi,” ujar dia.
Dwikorita mengatakan, risiko tidak adanya intervensi kebijakan berpotensi merugikan ekonomi di Indonesia periode 2020–2024 yang mencapai angka Rp 544 triliun. Dia menilai kebijakan ketahanan iklim menjadi salah satu prioritas yang dinilai mampu menghindari potensi kerugian ekonomi sebesar Rp 281,9 triliun hingga tahun 2024 mendatang.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








