Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah seiring dengan pembatasan akses air oleh otoritas Israel yang memutus pasokan listrik dan menghalangi masuknya bahan bakar, menurut organisasi medis Doctors Without Borders (MSF).
“Dalam situasi gencatan senjata yang hancur dan semakin banyak korban terbunuh, Israel menggunakan taktik agresi lainnya dengan menghalangi akses air di Gaza,” kata MSF dalam pernyataan pada Selasa.
MSF memperingatkan bahwa sistem air di Gaza berada di ambang kehancuran total jika pasokan bahan bakar tidak segera dipulihkan. Krisis air ini menyebabkan jutaan warga menghadapi kondisi yang semakin memburuk, dengan lonjakan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Di pusat layanan kesehatan MSF di Al-Mawasi dan Khan Younis, kasus penyakit seperti kuning, diare, dan kudis meningkat tajam karena kurangnya air bersih.
“Jumlah anak-anak yang mengalami penyakit kulit sangat tinggi, yang langsung disebabkan oleh kehancuran dan blokade di Gaza,” ujar Chiara Lodi, koordinator tim medis MSF di Gaza. “Banyak anak tidak bisa mandi, sehingga kudis dan infeksi kulit lainnya menyebar, bahkan menyebabkan luka yang bisa berujung pada infeksi serius.”
Israel telah lama membatasi masuknya pasokan air dan sanitasi dengan sistem pra-persetujuan yang ketat. Barang-barang penting seperti klorin, suku cadang unit desalinasi, pompa air sumur, dan tangki air memerlukan izin dari Israel, yang penundaannya menyebabkan kehancuran infrastruktur Gaza.
“Pembatasan ini membuat hampir mustahil untuk memulihkan sistem air yang berfungsi,” kata Paula Navarro, koordinator air dan sanitasi MSF di Gaza. “Produksi air membutuhkan energi, tetapi generator baru di atas 30 kilowatt dilarang masuk. Kami terpaksa ‘mencangkok’ generator dengan mengambil suku cadang dari satu unit untuk memperbaiki yang lain.”
Di tengah situasi ini, Israel melancarkan serangan udara mendadak ke Jalur Gaza pada 18 Maret, membunuh hampir 800 orang dan melukai lebih dari 1.600 lainnya, meskipun ada perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tawanan yang berlaku sejak Januari.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 50.100 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah terbunuh, sementara lebih dari 113.700 lainnya terluka akibat agresi militer Israel di Gaza.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertawanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Selain itu, Israel juga menghadapi tuntutan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang di wilayah tersebut.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








