“Cafe Yaffa”, demikian tulisan yang terdapat di pintu depan bangunan tersebut. Tempat itu agak ramai, sebab sedang ada pertunjukan; sekelompok musisi memainkan alat musik dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, mempersembahkan penampilan terbaik untuk para penontonnya. Setelah menyanyikan beberapa lagu, kelompok musisi tersebut perlahan menghentikan permainan musik mereka. Sesaat suasana yang tadinya ramai berubah menjadi hening. Sang vokalis kemudian mengambil secarik kertas dari sakunya, membacakannya dengan lantang dan penuh penghayatan. Ia membaca puisi karya penyair terkemuka Palestina, Mahmoud Darwish.
Returning to Yaffa
“Now he departs from us
And settles in Jaffa
And he knows it stone by stone.
Nothing resembles him
And songs
Imitate his green rendezvous.
Now he announces his form –
And the pines grow on a gallows.
Now he announces his story –
And fires grow on a lily.
Now he departs from us
To settle in Jaffa.
And we are far away from him,
And Jaffa is suitcases forgotten at an airport,
And we are far away from him.
We have our pictures in women’s pockets,
And in the pages of newspapers.
We announce our story everyday
To win a lock of wind, a kiss of fire.[1]”

Tepuk tangan riuh membanjiri kafe kecil itu saat sang vokalis mengakhiri puisinya. Ia mengucapkan terima kasih sembari membungkukkan sedikit badannya, kemudian menyampaikan sedikit penjelasan mengenai puisi tersebut. Selain sebagai tempat berkumpul, kafe tersebut memang lumrah dijadikan tempat untuk berdiskusi, terutama mengenai sastra dan budaya Palestina. Selagi diskusi berjalan hangat di depan kafe, sang pemilik kafe menyaksikan dari dalam ruangan yang dipenuhi rak buku. Matanya terpaku pada sepasang kekasih yang ikut menonton penampilan tersebut. Kemudian pikirannya melayang, mengingat sejarah kota ini. Kota Yaffa, kota yang dijuluki ‘pengantin Palestina’, jantung Palestina yang kini telah berhenti berdetak.
Yaffa sebelum Nakba

Sebelum Israel menjajah Palestina, Yaffa berfungsi sebagai pusat komersial Palestina. Pelabuhan bertingkatnya digunakan sejak zaman dahulu sebagai pintu gerbang ke Laut Mediterania. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, Yaffa memiliki serangkaian bisnis yang sukses. Pabrik-pabriknya memproduksi segalanya, mulai dari peti jeruk hingga sabun dan minyak zaitun. Sebagian besar surat kabar dan buku Palestina dicetak dan diterbitkan di Yaffa. Kota ini hidup, makmur, dan kaya.
Sebelum Zionisme dan kolonialisme modern mengubah segala hal di Palestina, Al-Quds (Yerusalem) dianggap sebagai ibu kota keagamaan Palestina, namun Yaffa dianggap sebagai pusat budaya dan komersial. Kota cantik ini kemudian secara luas dikenal sebagai “Pengantin Palestina”. Ada sekolah berbahasa Inggris, Prancis, Italia, dan Arab, dari kota ini pula terlahir banyak seniman dan penulis. Tiga surat kabar Palestina terbit di Yaffa, termasuk surat kabar Filastin yang pertama kali terbit pada tahun 1911 dan mendokumentasikan awal mula kesadaran “nasional” Palestina. Di kota itu pula didirikan bioskop dan stasiun radio, klub olahraga, masjid, gereja dan sinagog. Keseluruhan bangunan dan aktivitas di kota itu menunjukkan bahwa Yaffa adalah salah satu urat nadi terpenting yang memompa kehidupan di Palestina.
Yaffa juga menjadi bagian integral dari Timur Tengah. Dari Yaffa, jalur transportasi umum dapat menjangkau kota-kota penting; taksi menuju Beirut dan Damaskus, sementara kereta api mengantarkan penumpang dari dan ke Haifa, Yerusalem, Gaza, dan Kairo. Yaffa juga dulunya merupakan ibu kota politik negara. Pada tahun 1896, ketika Theodor Herzl menerbitkan buku The Jewish State, Yaffa adalah rumah bagi lebih dari 15.000 Muslim dan Kristen serta 3.000 orang Yahudi.
Pada April 1948, lebih dari 5.000 pasukan paramiliter Zionis, Haganah dan Irgun yang terlatih dan bersenjata, memasuki Yaffa. Sebanyak 1500 masyarakat sipil dan sukarelawan mati-matian mempertahankan Yaffa selama tiga bulan dengan bertahan dari serangan dan pengepungan, hingga akhirnya perbedaan kekuatan memaksa mereka untuk menyerah. Sebagian besar penduduk Yaffa (hampir 70.000 jiwa) benar-benar terdorong ke laut dan terpaksa pergi ke Lebanon dengan perahu atau melarikan diri ke wilayah Arab lainnya.
Menurut akademisi Palestina, Dr Raef Zreik, beberapa keluarga Palestina yang tetap tinggal dipaksa masuk ke “daerah yang dipagari kawat berduri, seperti penjara”. Dalam semalam, Yaffa–jantung Palestina–berhenti berdetak. Seluruh kehidupan hilang. Pedagang tidak diberi akses ke toko mereka, keluarga-keluarga dilarang kembali ke rumah mereka, yang kemudian dirampas oleh Zionis. Israel menggambarkan warga Palestina sebagai bangsa Filistin yang tidak berbudaya dan menganggap bahwa pengungsi Palestina akan dengan mudah bergabung dengan negara-negara Arab tetangganya dan budaya Palestina diam-diam akan lenyap.
Sebagaimana kota Palestina lainnya, kembali ke Yaffa menjadi hal yang mustahil. David Ben-Gurion secara eksplisit mengatakan: “Saya yakin kita harus mencegah mereka kembali… Kita harus menguasai Yaffa, Yaffa akan menjadi kota Yahudi.” Sekitar 40 tahun kemudian, Israel membagi Yaffa menjadi zona A, B, dan C. Sisa warga Arab-Palestina terkonsentrasi di area A, yang dikelilingi oleh pagar kawat. Sementara area lainnya dijadikan panggung yang telah disiapkan bagi imigran Yahudi, mulai dari Maroko hingga Bulgaria, untuk bersandiwara dengan berperan sebagai pemilik sah tanah tersebut.
Sebagian besar Kota Yaffa rusak akibat perampasan tersebut. Masjid Hassan Bek, satu-satunya bangunan yang masih berdiri di bagian utara, diubah menjadi Museum Irgun. Sementara itu, Teddy Kollek, politikus Israel kelahiran Hungaria, yang menjabat sebagai Walikota Yerusalem pada tahun 1965 hingga 1993, mengubah Kota Tua Yaffa menjadi koloni seniman. Pada tahun 1954, Yaffa menjadi pinggiran Kota Tel Aviv, dan sejak itu kedua kota tersebut dikenal dengan Tel Aviv-Yafo.
Pusat kota Palestina itu dulunya pernah berkembang pesat menantang narasi Zionis yang menganggap Palestina adalah tanah tanpa rakyat, untuk rakyat tanpa tanah, bahkan menjadi garis depan peradaban dan kebudayaan Arab. Upaya Zionis yang berusaha menghilangkan identitas Palestina di kota-kota Palestina dan menghapus warisan budaya Palestina, hingga saat ini tidak berhasil mereka lakukan.
Yaffa, Kota Jeruk yang Manis

Seperti kota-kota pertanian lainnya di kawasan Mediterania, ketergantungan Yaffa pada sektor pertanian sangat penting bagi perkembangannya sebagai pusat perdagangan dan industri. Di Yaffa, hasil panen tidak berasal dari desa, namun dari kebun jeruk yang berada di perkotaan. Kebun jeruk ini telah memagari Yaffa, setidaknya sejak pertengahan abad ke-18 dan pada pertengahan abad ke-19 kebun-kebun jeruk ini mulai memperlihatkan tingkat pertumbuhan yang substansial.
Perluasan perkebunan jeruk Yaffa merupakan dampak dari pengaruh lokal dan global. Di dalam negeri, para petani Arab mampu menciptakan mutasi jeruk baru, yang dikenal dengan nama shamouti. Jeruk jenis ini memiliki ciri khas berupa rasanya yang manis dan kulit yang tebal sehingga cocok untuk ekspor jarak jauh. Inovasi ini datang bersamaan dengan terbukanya pasar ekspor global baru, sehingga berkontribusi langsung terhadap berkembangnya budidaya tanaman jeruk di Yaffa. Antara tahun 1850 dan 1880, kawasan kebun jeruk di Yaffa bertambah empat kali lipat. Pada akhir abad tersebut, kebun jeruk menjadi investasi modal yang paling menguntungkan di kota itu, dan jeruk menjadi ekspor utama Palestina.

Pada tahun 1920-an dan 30-an, banyak sektor komersial dan industri baru bermunculan di Yaffa dan mengubah Yaffa menjadi pusat budaya perkotaan kosmopolitan Palestina. Namun perkembangan ini tidak menghalangi status budidaya tanaman jeruk. Antara tahun 1926 dan 1939, luas lahan budidaya jeruk di sekitar Yaffa meningkat dari 30.000 dunam (3000 hektar) menjadi 300.000 dunam (30.000 hektar), dan jumlah jeruk yang diekspor meningkat dari 2 juta keranjang menjadi 15 juta keranjang.
Meskipun teknologi modern terbukti berguna dalam aspek budidaya dan pengiriman tertentu, industri jeruk Yaffa yang terus berkembang tetap bersifat padat karya dengan tetap mempekerjakan para petani upahan. Selain itu, sejumlah besar pekerja khusus, termasuk laki-laki, perempuan, dan anak-anak, dipekerjakan melalui berbagai tahap penyiapan jeruk untuk ekspor: dimulai dari panen, penyimpanan, pembungkusan, pengepakan, pengiriman ke kawasan pelabuhan, dan dari pelabuhan ke kapal besar yang berlabuh di laut.
Pada tahun 1940-an, Dewan Kota Yaffa mempekerjakan ahli tata kota asal Mesir, Ali Masʿud, untuk menyiapkan rencana induk baru untuk kota yang sedang berkembang. Rencana ambisius tersebut mencakup skema proyek perumahan baru, infrastruktur transportasi, taman umum, dan perbaikan tepi laut. Namun, sebelum pembangunan tersebut rampung, pada November 1947, beberapa jam setelah Rencana Pemisahan PBB untuk Palestina diumumkan (UN Partition Plan), milisi Zionis melancarkan serangan terhadap Yaffa, membuka jalan bagi pembersihan etnis penduduk Arab di sana. Serangan tersebut semakin intensif selama Nakba 1948. Ketika itu Israel mengusir warga Palestina dari Yaffa dan merebut kota mereka, serta menguasai (merampas) semua properti Palestina untuk melayani puluhan ribu imigran Yahudi dari Bulgaria, Rumania, dan lainnya.
Yaffa setelah Nakba

“Yaffa akan menjadi kota Yahudi… Membiarkan orang Arab kembali ke Yaffa bukanlah suatu kebenaran melainkan kebodohan,” tulis David Ben-Gurion dalam buku hariannya pada bulan Juni 1948. Perdana menteri pertama Israel yang tiba di Palestina di pelabuhan Yaffa pada tahun 1910 itu, menulis surat tersebut setelah pasukan sayap kanan Irgun menghancurkan Yaffa pada April 1948 dan mengusir hampir 70.000 warga Palestina.
Lebih dari satu dekade kemudian, pada tahun 1959, jurnalis dan penulis Israel Nathan Dunevich menerbitkan sebuah buku tentang sejarah Kota Tel Aviv. Saat itu, Yaffa telah menjadi bagian dari Tel Aviv dan kehilangan kemerdekaannya sebagai sebuah kota. Dunevich mengakhiri bukunya dengan bab yang menggambarkan situasi Yaffa pada tahun 1950-an. Ia menuliskan bahwa Yaffa telah berubah menjadi seperti kota di Bulgaria, dengan sebagian besar ruang publik telah berubah dari sebuah wilayah Arab menjadi wilayah baru yang dikendalikan oleh bahasa Bulgaria dan imigran Bulgaria yang datang ke Yaffa setelah Nakba.
Pembersihan etnis yang dilakukan di Palestina pada Nakba 1948 dengan mengusir orang-orang Palestina dari tanah dan sejarah Kota Yaffa, turut mengakhiri proses modernisasi yang dipimpin Yaffa sebagai pusat kota Arab-Palestina. Selama Nakba, 98% penduduk Arab Palestina di Yaffa telah, menyisakan 3.900 warga dari populasi hampir 120.000 orang yang pernah tinggal di kota tersebut sebelum tahun 1948. Minoritas kecil dan marjinal yang tetap tinggal di Yaffa diusir dari rumah mereka di berbagai lingkungan di Yaffa dan terkonsentrasi di bagian selatan kota, yang disebut sebagai lingkungan al-Ajami.
Sejak tahun 1948, Israel telah bekerja tanpa henti untuk menghancurkan identitas Palestina dan budaya minoritas Palestina yang selamat dari Nakba. Israel menyebut proses penghancuran ini sebagai “proses Yahudisasi.” Hal ini mencakup pengusiran penduduk asli dan pencegahan kepulangan mereka karena menurut Israel, orang-orang Palestina dilahirkan dari “ras yang salah”.

Proses Yahudisasi ini memengaruhi ruang publik dalam banyak aspek, misalnya dengan mengganti nama kota-kota dan jalan-jalan penting, dengan nama-nama Yahudi, banyak di antaranya menggunakan nama tokoh-tokoh Zionis. Alun-alun Menara Jam Yaffa sekarang disebut Kikea Hagana (Lapangan Haganah) dan jalan utama Yaffa Bistress-Iskandar ‘Awad sekarang dikenal dengan nama Rehev Mifrats Shelomo. Nama jalan Jamal Basha telah diubah menjadi Jalan Yerusalem, dan sebagian besar lingkungan al-Manshiyyah menjadi taman untuk publik.
Institusi kebudayaan Arab-Palestina seperti sekolah, bioskop, teater, klub olah raga, surat kabar, dan bidang kebudayaan lainnya juga telah mengalami Yahudisasi. Sekolah Arab Ortodoks Yunani Palestina dan klub Ortodoks Yunani yang terkenal, telah digunakan Israel sebagai kamp militer hingga tahun 1998. Rumah Bioskop Nabil yang dulu menayangkan film-film dari negara-negara Eropa, kini digunakan para imigran Rusia yang datang ke Yaffa pada tahun 1990-an. Bioskop Al Hambra, yang pernah menjadi bioskop paling terkenal di Yaffa dan seluruh Palestina, digunakan sebagai lembaga budaya bagi kelompok imigran Yahudi; dan baru-baru ini, bangunan tersebut diubah menjadi pusat Scientology.
Epilog: Yaffa, Pengantin Palestina yang Berduka
Setelah diskusi selesai, “Cafe Yafa” perlahan menjadi sepi. Para pengunjung satu per satu pulang, meninggalkan area yang sebelumnya hangat oleh diskusi. Akan tetapi, sang pemilik kafe, Michel Rehab, tetap di sana. Lamunannya tentang Yaffa telah selesai, meskipun demikian, ia tidak pernah ragu untuk kembali membayangkan Yaffa pada masa keemasannya. Impiannya tentang Yaffa dan Palestina ia bingkai dalam kafe kecilnya dalam setiap diskusi, setiap puisi, setiap lagu, dan setiap percakapan yang terjadi di kafe tersebut. Ia menikmati setiap harinya di kafe tersebut.
Kafe tersebut, meski hanya berbentuk bangunan kecil, namun memiliki harapan yang besar. Sama seperti impian seluruh orang Palestina lainnya, Rehab memiliki harapan bahwa orang-orang Palestina akan terus memegang teguh identitasnya, mencintai akar budayanya, dan terus melestarikan sejarahnya, tanpa batas masa, termasuk dalam mengenang Yaffa. Kota Palestina itu seakan telah tiada, tetapi menemukan Yaffa bukanlah khayalan, sebab ia tetap hidup dalam ingatan kolektif orang Palestina. Selama hampir 76 tahun, tanah pengantin yang memeluk kebun-kebun jeruk itu telah dirampas. Namun, airnya yang manis akan membuat Yaffa tetap hidup selamanya.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.palestineremembered.com/Jaffa/Jaffa/index.html
https://www.palestine-studies.org/en/node/1650539
https://remix.aljazeera.com/aje/PalestineRemix/lost-cities-of-palestine.html#/10
https://www.pij.org/articles/1052/city-of-oranges-arabs-and-jews-in-jaffa
https://thisweekinpalestine.com/jaffa-the-nakba-and-resistance/
https://www.newarab.com/news/palestinians-protest-forced-expulsion-jaffa-homes
https://www.palestineremembered.com/Jaffa/Jaffa/index.html?scr=rootpg#Pictures
http://poetsfrompalestine.blogspot.com/2010/01/returning-to-jaffa.html
https://www.aldiwan.net/poem8997.html
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








