Sebuah komite Perserikatan Bangsa-Bangsa menuding Israel melakukan pelanggaran berat terhadap perjanjian global yang melindungi hak-hak anak, dengan mengatakan bahwa tindakan militernya di Gaza telah berdampak buruk pada anak-anak dan merupakan salah satu pelanggaran terburuk dalam sejarah terkini.
Lebih dari 15.000 anak di bawah umur telah terbunuh di Gaza sejak dimulainya agresi Israel. Israel telah melancarkan agresi di daerah kantong yang terkepung itu dan menewaskan lebih dari 41.000 orang dan menghancurkan sebagian besar wilayah Palestina menjadi puing-puing.
“Kematian anak-anak yang keterlaluan ini merupakan hal abnormal dalam sejarah. Ini merupakan sejarah tergelap dalam sejarah,” kata Bragi Gudbrandsson, wakil ketua Hak Anak PBB, kepada wartawan pada Kamis (19/9).
“Saya kira kita belum pernah melihat pelanggaran sebesar ini, sebagaimana yang terjadi di Gaza. Ini adalah pelanggaran yang sangat serius dan jarang kita lihat,” katanya.
“Selain korban jiwa yang tercatat oleh Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, ribuan anak-anak diyakini hilang di bawah reruntuhan, terkubur di kuburan tak bertanda, atau terluka parah oleh bahan peledak,” kata kelompok bantuan Inggris Save the Children dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada bulan Juni.
Menurut penghitungan Al Jazeera pada Januari, satu anak Palestina terbunuh di sana setiap 15 menit.
Komite PBB yang beranggotakan 18 orang memantau kepatuhan negara-negara terhadap Konvensi Hak Anak tahun 1989, sebuah perjanjian yang diadopsi secara luas yang berupaya melindungi anak-anak dari kekerasan dan pelanggaran lainnya.
Israel, yang meratifikasi perjanjian tersebut pada tahun 1991, mengirimkan delegasi besar ke sidang PBB di Jenewa pada 3–4 September.
Mereka berpendapat bahwa perjanjian itu tidak berlaku di Gaza atau Tepi Barat yang diduduki, tetapi Israel berkomitmen untuk menghormati hukum humaniter internasional. Israel mengatakan kampanye militernya di Gaza ditujukan untuk melenyapkan Hamas dan tidak menargetkan warga sipil.
Kenyataannya, warga sipil dan petugas kesehatan di lapangan telah berulang kali mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan terhadap rumah-rumah tanpa peringatan telah terjadi sejak 7 Oktober dan mengakibatkan seluruh keluarga hancur dalam serangan udara Israel.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








