Anak perempuan yang terkena dampak dari negara konflik 20% lebih mungkin untuk menikah dini daripada mereka yang tinggal di daerah damai. Hal tersebut berdasarkan analisis baru dari LSM Save the Children yang dirilis pada peringatan 10 tahun Hari Anak Perempuan Internasional. Anak perempuan yang tinggal di negara konflik di Asia Timur dan Pasifik, Amerika Latin dan Karibia, serta Asia Selatan menghadapi risiko tertinggi pernikahan anak. Afrika Barat dan Tengah–wilayah yang terkena dampak konflik dan keadaan darurat iklim, yang menyebabkan kemiskinan dan kekurangan pangan– memiliki tingkat pernikahan anak tertinggi di dunia.
Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa hampir 90 juta anak perempuan–atau 1 dari 5 anak perempuan secara global– tinggal di zona konflik, dengan dampak buruk pada kesehatan, kesejahteraan, dan peluang masa depan mereka. Salah satunya di Nigeria, meskipun ada undang-undang yang melarang pernikahan anak, negara ini adalah salah satu tingkat pernikahan anak tertinggi di dunia.
Miriam (16 tahun) dan keluarganya terpaksa meninggalkan desa mereka di negara bagian Borno untuk melarikan diri dari kelompok bersenjata. Mereka sekarang tinggal di sebuah kamp untuk pengungsi internal. Miriam mengatakan “Saya menikah di luar keinginan saya. Itu bukan pilihan saya. Sudah empat bulan sejak saya putus sekolah. Selama ini, hidup tidak mudah bagi saya. Saya pernah belajar sebentar, tapi saya sudah melupakan semua yang pernah saya pelajari.”
Selain itu, upaya untuk menangani pernikahan anak sering berfokus pada pencegahannya, hanya sedikit perhatian yang diberikan dalam kebutuhan dan pengarahan untuk anak perempuan yang sudah menikah. Krisis COVID dan dampaknya yang berkelanjutan pada ketidaksetaraan gender diproyeksikan akan mendorong 10 juta lebih banyak anak perempuan ke dalam pernikahan pada 2030. Pandemi, ditambah dengan memburuknya keadaan iklim, konflik baru dan berkelanjutan, dan krisis pangan global dalam beberapa dekade, kini semakin mengancam kemajuan untuk mengakhiri pernikahan anak.
Inger Ashing, CEO Save the Children International, mengatakan, “Krisis kemanusiaan –baik itu bencana iklim, pandemi atau krisis pangan global yang sedang berlangsung– menyebabkan banyak risiko yang sama yang mendorong pernikahan anak, seperti meningkatnya kemiskinan dan hilangnya sistem perlindungan yang seharusnya ada untuk menjaga anak perempuan dari kekerasan.
Sumber:
https://www.savethechildren.net
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







