Di tengah krisis kelaparan yang semakin parah di Gaza, sejumlah kecil bantuan kemanusiaan yang diizinkan Israel untuk masuk ke Gaza dinilai oleh warga Palestina dan pengamat sebagai propaganda belaka–sebuah “teater kemanusiaan” atau langkah manipulatif untuk meredam kritik internasional, sembari tetap melanjutkan kampanye militernya.
Pada Ahad lalu, 73 truk bantuan yang masuk melalui penyeberangan Karim Abu Salim (Kerem Shalom) dan Zikim memicu kepanikan massal. Ratusan warga kelaparan menyerbu konvoi truk dalam keputusasaan. “Saya bersumpah, kami bukan mencuri. Kami kelaparan. Anak-anak saya belum makan selama dua hari,” kata Mohammed Abu Merea dari Gaza utara. Namun, bantuan tersebut dirampas oleh kelompok bersenjata sebelum sampai ke titik distribusi.
Kondisi di Gaza menunjukkan keruntuhan total tatanan sosial setelah 22 bulan agresi, blokade, dan kehancuran ekonomi. PBB telah memperingatkan bahwa Gaza berada di ambang “kehancuran masyarakat secara menyeluruh”, dan kini, kehancuran itu tampak nyata di jalan-jalan.
Israel sempat mengumumkan “jeda taktis harian” untuk memungkinkan distribusi bantuan di beberapa wilayah Gaza. Namun, serangan udara dan artileri tetap berlangsung selama jeda tersebut. Pada Ahad dan Senin, lebih dari 100 warga Palestina terbunuh, termasuk bayi yang meninggal karena kelaparan di Khan Yunis dan delapan warga sipil yang menunggu bantuan di Salah al-Din Street.
Analis politik Gaza, Reham Odeh, menyebut jeda kemanusiaan itu sebagai “tipu daya mematikan.” Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan adalah gencatan senjata sejati, bukan propaganda.
Sejauh ini, sedikitnya 147 warga Gaza—lebih dari 88 di antaranya anak-anak—telah meninggal akibat kelaparan. Angka ini diperkirakan jauh lebih tinggi dari kasus yang terdokumentasi.
Pemerintah Gaza menyatakan Israel secara sengaja menciptakan kekacauan dan kelaparan. “Apa yang terjadi di perbatasan dan melalui airdrop bukanlah bantuan kemanusiaan. Ini adalah teater; rakyat dipaksa bertarung demi segenggam makanan, di bawah intaian drone,” ujar Kantor Media Pemerintah dalam sebuah pernyataan.
Salah satu konvoi di Salah al-Din Street diserbu oleh warga yang putus asa. Anak-anak tanpa alas kaki mengejar truk, sementara pria membawa tongkat dan pisau dapur. Seorang ayah, Alaa Saber, mengatakan: “Anak saya minum air asin. Saya mengambil sekantong gula dan lari. Satu jam kemudian, tentara membombardir daerah itu.”
Sementara itu, bantuan udara yang dijatuhkan di zona merah justru menempatkan warga dalam bahaya. “Ini bukan bantuan, ini tontonan,” kata Ahmed Moammar, koordinator bantuan lokal. “Kami butuh koridor kemanusiaan yang aman, bukan sandiwara belas kasih.”
Lebih dari sekadar minimnya bantuan, warga Gaza marah terhadap sikap diam komunitas internasional atas strategi kelaparan yang disengaja ini. Sejak Maret, Israel telah menutup semua perlintasan utama, termasuk Rafah, membuat badan-badan bantuan internasional tak mampu mengisi kembali pasokan.
“Ini bukan hanya kejahatan Israel,” kata analis politik Hussam al-Dajani. “AS, Inggris, Jerman, dan lainnya turut bertanggung jawab. Dukungan politik mereka memungkinkan kelaparan ini terjadi, dan diamnya mereka menjadikan mereka mitra dalam penderitaan rakyat Palestina.”
Sumber:
https://www.newarab.com/news/israels-humanitarian-pause-gaza-deadly-lie








